“Hai, apa
kabar?”
.
.
.
Dahulu sekali,
seseorang pernah mengajariku akan tiga buah
frasa.
Ya. Masa-masa itu…
Di mana rentang waktu yang terus membaru menjadi
saksi ketika langkah-langkah manusia serasa makin jauh dari redup.
Aku tak ingat kapan pertama kali jemariku
menyenangi benda rakitan manusia itu: bingkai yang melawan perintah sang
waktu—pelaku dari apa yang membuat ruang batin menerawang jauh.
Haaah…
Entah sejak kapan, kepal ini menemani bising kecil
itu.
Begitulah suara sepihak itu menjalar lagi. Sampai
akhirnya, kusadari bahwa kantuk telah menjadi suatu ketiadaan.
Dan di sini, hanya ada buyar subuh yang kembali
menggelitik.
Aku tak ingat kapan pertama kali aku benar-benar
berteman dengan subuh. Namun, sejak hari yang tak begitu terekam itu, ia selalu
berbisik lewat cercah pantulan bulan yang menyusup melewati renda kamarku.
Saat itu, aku ingat ada lusuh dan getir yang
menjelma menjadi ribuan syair.
Dan cetak yang tergantung itu pun kupandangi setiap
subuh, termasuk subuh yang sekarang menyelimuti.
.
.
.
Ayah sempat berkata bahwa aku tak boleh terlalu
menenggelamkan diriku pada suatu keterikatan, apalagi keterikatan terhadap
ketidakterikatan. Aku selalu menghiraukan ucapan itu, sebab goresan lensamu
terlalu mirip dengan kelembutan sang awan.
Satu hal yang pasti…
Hmph. Aku terlalu malu untuk mengucapkannya.
.
.
.
Ayah sempat berkata bahwa dunia ini terlalu luas
untuk tak ditelusuri, namun aku tak mengerti mengapa gembok itu ia pasang pada
telapak sepatuku yang masih kotor oleh lumpur yang kupijak setelah mengantarmu
ke stasiun kemarin.
Dan hari ini…
.
.
.
Meneropong pada kilas pagi, adalah gerimis yang
menjadi metafora lubuk hati terhadap langit yang cerah ini.
Kusadari, seandainya saja aku belum membersihkan
telapak sepatuku, jejak-jejak lumpur akan penuh membasahi seluruh pelosok kota
yang riuh.
Dan dari sini, lewat sosokmulah, jejak-jejak itu
akan terus membaur.
.
.
.
Aku ingat betapa kau menyenangi jalan setapak
menuju taman itu. Di sana, nafasku pertama
kali menghirup udara yang kau hela—sebuah
skenario kala lemparan dadu menempatkan kita pada petak yang sama.
Dan yang kuingat lagi, ada senyuman canggung di
sana. Namun, hari itu, kau bercerita bahwa kau sangat menyenangi jalan setapak
itu.
Dan hari ini, aku masih mengingat cerita itu.
.
.
.
Apabila mengambil sudut pandangmu yang sejernih
mutiara, aku bisa mengibaratkan perasaanku bagai bulir pasir pada kecipak ombak
dan senja, sebab aku tahu bahwa hatimu sudah sepenuhnya tergerak oleh sang
bentang biru; sementara hatiku sudah sepenuhnya tergerak olehmu.
“Makasih, ya. Ini menyenangkan.”
Aku yakin betul aku pernah mendengar ruas kalimat
itu menyembul dari bibir manismu sebelumnya.
Kapan, di mana, aku lupa tepatnya.
Namun, cetak itu berbinar bagai surga luas yang menghadap
kita.
Hmph. Aku masih saja tertawa kecil setiap kali
memikirkannya.
.
.
.
Ayah sempat berkata dulu sekali, saat ia
menggendong jiwa kecilku yang manja. Ia berkata bahwa cinta itu abadi.
Sementara, ibu berkata bahwa aku mencintaimu terlalu
dalam.
Seandainya saja aku dapat merelakanmu, mungkin saja
cetak yang tergantung tidak akan terlihat semiris sekarang.
Dan dari semua itu, mungkin… Mungkin saja, aku bisa
sembuh.
“Ma, maafkan aku.”
.
.
.
Ayah sempat berkata – tiga kata itu lagi – kepada
ibu yang kini mungkin akan tinggal mengingatku.
Sedangkan aku, pada akhirnya tetap tak akan pernah
membisikkan tiga kata itu padamu.
Namun, di sana, ada senyum yang tak akan lagi
canggung.
Dan di sana, ada dirimu.
.
.
.
“Tidurlah.
Kau sudah bisa beristirahat sekarang.”
.
.
.
project done on January 22, 2015.
there are two sentences missing due to my error in sending the files to milzam who edits the video, but in the end, everything still turns out well without those two sentences after all.
thanks for the hard work, tuyuls! thanks for letting me write the poetry for this project, too. :)