January 27, 2015

T I G A


 “Hai, apa kabar?”

.

.

.

Dahulu sekali, seseorang pernah mengajariku akan tiga buah frasa.


Ya. Masa-masa itu…

Di mana rentang waktu yang terus membaru menjadi saksi ketika langkah-langkah manusia serasa makin jauh dari redup.

Aku tak ingat kapan pertama kali jemariku menyenangi benda rakitan manusia itu: bingkai yang melawan perintah sang waktu—pelaku dari apa yang membuat ruang batin menerawang jauh.

Haaah…

Entah sejak kapan, kepal ini menemani bising kecil itu.

Begitulah suara sepihak itu menjalar lagi. Sampai akhirnya, kusadari bahwa kantuk telah menjadi suatu ketiadaan.

Dan di sini, hanya ada buyar subuh yang kembali menggelitik.

Aku tak ingat kapan pertama kali aku benar-benar berteman dengan subuh. Namun, sejak hari yang tak begitu terekam itu, ia selalu berbisik lewat cercah pantulan bulan yang menyusup melewati renda kamarku.

Saat itu, aku ingat ada lusuh dan getir yang menjelma menjadi ribuan syair.

Dan cetak yang tergantung itu pun kupandangi setiap subuh, termasuk subuh yang sekarang menyelimuti.

.

.

.

Ayah sempat berkata bahwa aku tak boleh terlalu menenggelamkan diriku pada suatu keterikatan, apalagi keterikatan terhadap ketidakterikatan. Aku selalu menghiraukan ucapan itu, sebab goresan lensamu terlalu mirip dengan kelembutan sang awan.

Satu hal yang pasti…

Hmph. Aku terlalu malu untuk mengucapkannya.

.

.

.

Ayah sempat berkata bahwa dunia ini terlalu luas untuk tak ditelusuri, namun aku tak mengerti mengapa gembok itu ia pasang pada telapak sepatuku yang masih kotor oleh lumpur yang kupijak setelah mengantarmu ke stasiun kemarin.

Dan hari ini…

.

.

.

Meneropong pada kilas pagi, adalah gerimis yang menjadi metafora lubuk hati terhadap langit yang cerah ini.

Kusadari, seandainya saja aku belum membersihkan telapak sepatuku, jejak-jejak lumpur akan penuh membasahi seluruh pelosok kota yang riuh.

Dan dari sini, lewat sosokmulah, jejak-jejak itu akan terus membaur.

.

.

.

Aku ingat betapa kau menyenangi jalan setapak menuju taman itu. Di sana, nafasku pertama kali menghirup udara yang kau hela—sebuah skenario kala lemparan dadu menempatkan kita pada petak yang sama.

Dan yang kuingat lagi, ada senyuman canggung di sana. Namun, hari itu, kau bercerita bahwa kau sangat menyenangi jalan setapak itu.

Dan hari ini, aku masih mengingat cerita itu.

.

.

.

Apabila mengambil sudut pandangmu yang sejernih mutiara, aku bisa mengibaratkan perasaanku bagai bulir pasir pada kecipak ombak dan senja, sebab aku tahu bahwa hatimu sudah sepenuhnya tergerak oleh sang bentang biru; sementara hatiku sudah sepenuhnya tergerak olehmu.

“Makasih, ya. Ini menyenangkan.”

Aku yakin betul aku pernah mendengar ruas kalimat itu menyembul dari bibir manismu sebelumnya.

Kapan, di mana, aku lupa tepatnya.

Namun, cetak itu berbinar bagai surga luas yang menghadap kita.

Hmph. Aku masih saja tertawa kecil setiap kali memikirkannya.

.

.

.

Ayah sempat berkata dulu sekali, saat ia menggendong jiwa kecilku yang manja. Ia berkata bahwa cinta itu abadi.

Sementara, ibu berkata bahwa aku mencintaimu terlalu dalam.

Seandainya saja aku dapat merelakanmu, mungkin saja cetak yang tergantung tidak akan terlihat semiris sekarang.

Dan dari semua itu, mungkin… Mungkin saja, aku bisa sembuh.

“Ma, maafkan aku.”

.

.

.

Ayah sempat berkata – tiga kata itu lagi – kepada ibu yang kini mungkin akan tinggal mengingatku.

Sedangkan aku, pada akhirnya tetap tak akan pernah membisikkan tiga kata itu padamu.

Namun, di sana, ada senyum yang tak akan lagi canggung.

Dan di sana, ada dirimu.

.

.

.


 “Tidurlah. Kau sudah bisa beristirahat sekarang.”

.

.

.

project done on January 22, 2015.

there are two sentences missing due to my error in sending the files to milzam who edits the video, but in the end, everything still turns out well without those two sentences after all.

thanks for the hard work, tuyuls! thanks for letting me write the poetry for this project, too. :)