Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

October 23, 2017

perkara-perkara.

sebab kita tidak bisa terus-menerus memikirkan perkara-perkara yang kita sendiri tak pahami; seperti menangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

sebab kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
seperti mendengar desis cerutu yang disediakan persimpangan grogol—di mana lelap adalah teman yang kita tak pernah benar-benar peluk sebab kita tak pernah merasai tidur di jalan.
atau bisik-bisik pengap kopaja sepanjang slipi - rawa buaya;
atau cempaka timur dan segala persimpangannya yang bertengger di sebelah kemegahan.

aku pikir kita tidak bisa bahagia hanya berkawan dengan cita-cita yang muluk.
aku rasa kita perlu berhenti sejenak dan lebih memperhatikan deru napas kita.

atau mungkin juga tidak.

sebab hanya air mata yang pernah kudapati dari memikirkan udara-udara dingin yang menggerogot malam yang hendak berganti.
aku tak mengerti mengapa kita bisa bersedih atas tangis-tangis manusia yang ruas takdirnya tak pernah sepenuhnya berpapasan dengan kita sebelumnya.

seperti lintas lalu di sudut mata yang tengah menutup.
tawa menjadi kelegaan dan ringkas senja yang hidup,
sementara isak adalah apa yang bersemayam dalam debu; begitu mudahnya ia tertiup, mengaburkan kedip-kedip yang sebelumnya hanya paham akan riuh.

sebab sekali lagi, kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
lupa akan deru napas, hanya tahu akan cita-cita yang muluk.
kita lupa caranya tidur tanpa kepala yang mengawang pada gusar akan perkara-perkara yang orang-orang anggap tak perlu.

sejak kapan ‘tahu’ menjadi begitu kelu di persilangan kalbu?
aku kira ‘tahu’ ada untuk menyulut api pada gedung-gedung yang menutup-nutupinya dan sorot lampu bagi para pejalan kaki di pelosok.
apakah ‘tahu’ lantas menjadi abai seperti paling wajah dari lolongan maut yang kelaparan akan anak-anak yang lupa bersekolah?
apakah ‘tahu’ kini hanya sebatas lembar-lembar perpustakaan megah yang mengurung manusia dalam definisi ‘tahu’ yang selama ini ada?

sebab kita tidak lagi diajak memikirkan perkara-perkara seperti selimut dan pengap asap ibukota.

sebab ‘tahu’ yang kumiliki pada akhirnya hanya berakhir menjadi air mata.

tak ada paham baru yang singgah;
masih juga tangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

dan dari segala hal yang kita kira kita ketahui, mungkin sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa-apa.

.

Juni 2016.

October 16, 2016

tentang bekerja ;


video: September 11, 2016. written on September 28, 2015. mempertanyakan kembali makna "bekerja".


September 27, 2016

malam.

malam begitu melankoli. aku khawatir kepalaku kini telah menjelma malam. ia begitu takut namun begitu haru pada binar lampu yang membentuk lintasan nostalgis di bawah. sejak kapan kita bisa merindu selain pada sajak?

September 16, 2016.

September 8, 2016

selamat pagi.

sebelum kata-kata gagal menemukanmu,
aku ingin terlebih dahulu menyapamu dengan sedikit kecupan manis dari ujung pena yang tak lagi kupakai untuk menulis.

sebab kudapati rautmu semakin lelah dan hatimu terkadang menipis.
entah mengapa kau tak pernah mendengar bisik kecilku untuk merelakan prinsip-prinsip dan gegar pikir yang kaujaga sejak pertama kali kau mengenal tangis.
sekarang aku jadi paham mengapa ayah dan ibumu memutuskan untuk menjagamu jauh-jauh dari dunia ketika kau masih kanak.
namun aku tetap tidak paham mengapa kau harus menjadi bengal dan berpikir bahwa dunia adalah tempat di mana kau layaknya berada.

kau yang pandai menghitung angka, namun tak serta-merta mengejarnya.
kau yang bahagia, seperti itu saja.

sebegitu menyenangkankah berteman dengan sengal napas dan kantung mata?

September 8, 2016.

August 28, 2016

burn this city.

.

I guess we're going to be insane
cause this city just keeps talking all the same:
things we didn't give a damn.
can we really find a way out of these vain sceneries?
are you here with me tonight?

burn this city: into ashes, into - m e a n i n g s .

so are you going to be here tonight?

and if you ever feel alone
cause this city just keeps moving on its own.
and things that we never had the chance to say
become memories.
won't you come with me tonight?

burn this city: into ashes, into - m e a n i n g s .

so are you going to be here tonight?

and this city just keeps talking all the same.
things we didn't give a damn.
and this city just keeps talking all the same.

and if you ever feel alone
cause this city just keeps moving on its own.
and things that we never had the chance to say.

.

are you going to be here tonight?

.

August 8, 2016.

July 4, 2016

sebuah lamunan di penghujung juni.



.
 
tetapi, hidup tidak bisa sekadar berpuisi, bukan?

seperti pula kita yang mungkin terlalu berharap akan rentet alfabet yang bergema;
bahkan tatkala ia tak sempat terbaca.
bait remuknya habis terhempas di udara.

dan seperti itu pula kita masih mengecup kata-kata;
bahkan ketika mereka tak ubahnya dengan gerimis: mengalun sejenak, terdiam
lalu dan lupa.

mengapa kita masih juga belum bosan menuliskan aksara?

seakan ia adalah pijar yang tak akan hilang,
ketika kita bahkan tak tahu kesungguhannya.
seperti gerimis dan bait yang terhempaspijar saat kita menjadi satu-satunya orang yang tak terlelap.

dan kita masih juga belum bosan menuliskan aksara.

.

tetapi, hidup tidak bisa sekadar berpuisi, bukan?

.
.
.

July 4, 2016 /drawing/ - June 26, 2016 /poetry/.
semacam penyadaran akan betapa rapuhnya kata sesungguhnya; bahwa sebagaimanapun kita menuliskannya, ia tak akan benar-benar berarti apabila tak sempat terbaca. ...dan setelah semua itu, mengapa kita masih juga belum bosan menuliskan aksara?

June 29, 2016

semesta mengajarkan kita untuk tetap percaya.

aku percaya
bahwa semesta akan menjagamu
layaknya bising kopaja 88 dan tulisan 'hari ini akan jadi hari baikmu' yang sempat kutinggalkan,
juga debu-debu bintang dan wangi trotoar yang menyelimut tulang.

aku percaya
bahwa pelupuk matamu mungkin basah malam hari kemarin
sebab kauinginkan seperti lainnya sepasang sepatu;
untuk menuntunmu menyusuri apa yang mereka sebut sebagai 'masa depan',
entah kau percaya atau tidak

rasa-rasanya aku ingin meminjamkanmu sebentuk sapu tangan
yang sebenarnya tak pernah kumiliki juga.
tapi ketahuilah, bahwa aku mengagumi ketegaranmu,
sebab kau berbeda dan tak membagi cerita sedihmu dengan semua orang (kesenduan yang oleh karena umbarannya menjadi sangat palsu di pendengaran).
kau lebih dari sekadar itu, kawan.
dan aku ingin kau mempercayainya.

aku percaya
bahwa semesta punya caranya sendiri dalam menempatkan tiap-tiap dari kita
seperti bus yang berbeda armada, seperti gerbong-gerbong kereta.

ah, aku ingin sekali tahu apa yang berdansa di bola matamu ketika kau menyaksikan kereta.

aku percaya
bahwa ada alasan dari sebuah pertemuan; juga alasan mengapa kita bisa dan tidak pernah bisa bertemu.

namun, seandainya pun aku tak akan pernah mengenalmu,
aku ingin kau percaya
bahwa semesta akan menjagamu.

dan juga bahwa seandainya kita bertemu,
mungkin aku akan menyayangimu layaknya semesta.

3 November 2015.

May 11, 2016

tenggelam.

...

bukankah lucu ketika dulu kita sering kali bertanya mengapa orang-orang senang sekali berdansa di tengah malam?
tetapi di lantai dingin itu kini kita berjibaku pada ketiadaan.
tidak ada riuh dan lentera artifisial; aku hanya melihat bayangan kita
perlahan dilahap debu bintang
dan napas kita menjadi angin yang tak berani menyerakkan puing-puing jalan.

aku rasa kita pun sudah lupa
bahwa kita tak pandai lagi menerka, pun berbicara
tentang parau-parau notasi yang hinggap pada lintas sanggurdi.
mengapa kita tak pernah membenci keheningan ketika semua orang berpesta di tengah denyut ritmis yang begitu nihil akan arti?
mengapa kita tak bisa menikmati kenihilan ketika sesungguhnya darinya kita tak jauh berselisih?

apa kau tidak bosan menari menuntun candumu yang bahkan tidak pernah kauketahui apa?
sebab di lantai itu aku lihat lagi bayangan kita yang masih tersisa.
seakan kita perlu berhenti dan kembali memeluki lagu-lagu sedih,
juga rapuh senja yang melumpuhkan kaki.
aku benci sekali melihat kita tenggelam dalam kisah-kisah yang menolak sepi,
meski pada akhirnya hirup yang kita hela hanya kembali menyusur tanpa mengenal henti.

sejak kapan kita berjalan sejauh ini?

...

May 11, 2016.

February 17, 2016

sebab-sebab.

untuk apa kita menghitung senja-senja yang akan berlalu?

sebab kita tak lagi memalungkan hati pada dermaga;
sebab landas-labuh telah menggumpal dalam klise kamera;
sebab kita tersadar bahwa kita tak bisa menghitung sebagaimana mestinya;
sebab kita tak tahu apa itu senja.

sebab kita tak tahu apa-apa.

.
February 16, 2016.

February 8, 2016

December 31, 2015

tiga ratus enam puluh lima ;


.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

untuk kesekian kalinya, aku melihat tiga ratus enam puluh lima menggugurkan diri dalam etalase-etalase kehidupan. hirupnya beku dan senyap. selagi napas dan dekap lenyap.

sore itu, aku melihat satu per satu dari tiga ratus enam puluh lima pada sisi langit yang membenam.

sore itu, aku kecewa atas sesuatu yang tidak kuketahui awalnya apa. aku menduga bahwa ia terselip di antara tiga ratus enam puluh lima dan baru menyapaku sekarang.

kemudian, aku sadar bahwa aku lelah menduga-duga.

aku hanya ingin terlelap bersama tiga ratus enam puluh lima.

.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

sore itu, aku melamun dalam sirat-sirat roda dan lampu merah. aku teringat untuk menulis tentang tiga ratus enam puluh lima. maka aku mulai memikirkan gugus cakap yang tak pernah ada. aku lupa kita hanya punya tiga ratus enam puluh lima.

di antara otodidak dan implikasi kisah, kita menjadi makhluk waras membosankan yang terlalu banyak bicara. tentang perkara noda di tepi jendela, atau tentang sesal dan amarah.

kita merangkum semuanya seakan tiga ratus enam puluh lima tidak pernah ada.

.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

sore itu, aku memperjuangkan degup napas atas koda-koda aksara yang tak akan dipahami mereka yang terlalu senang menciprat ludah pada tiga ratus enam puluh lima. langit seakan memintaku membacakan senandung untuknya selagi aku berjalan di bawah mendungnya yang ramah.

ada celah-celah pada ufuk merah yang memanggul tangis dan tawa. aku seperti melihat ribuan kisah yang langit selalu intip dari kejauhan. lewat sela-sela genting dan gerbong-gerbong asap yang baginya transparan.

dan entah atas kebodohan apa, aku menceritakan kisah-kisah yang kulihat itu kembali padanya. tentang tiga ratus enam puluh lima: ia yang lalu membuatku tersadar bahwa selama ini aku hanya menceritakan kisah-kisah tentang diriku sendiri.

dan terkadang, gugus-gugus angan dan konstelasi senyum anak-anak luar biasa.

.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

sore itu, aku mempertanyakan kehidupan.

sore itu, aku ingin tidur di jalan.

atau setidaknya bercakap-cakap dengan orang-orang yang tidak pernah kukenali sebelumnya. bercakap-cakap tentang bagaimana masa lalu akan menjadi masa depan. bercakap-cakap akan 'suatu hari' yang jauh dari batas tiga ratus enam puluh lima.

tiga ratus enam puluh lima seperti pertemuan dalam kedip mata.

.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

dan di sana, ketika kita sudah kehabisan detik untuk menjelajah, kita berhenti untuk merayakan tiga ratus enam puluh lima atas tiga ratus enam puluh lainnya.

hingga pada akhirnya, dalam diam, kita mulai merumahkan tiga ratus enam puluh lima beserta wajah-wajah dan suara-suara yang kita kenal. seperti teater boneka hidup yang tak dapat dipertunjukkan. kita menghirup napas akan sebentuk kehadiran, juga akan sebentuk ketidakhadiran.

dan perlahan, dalam senyap, kita pun menjelma menjadi tiga ratus enam puluh lima.

.

mungkin, tiga ratus enam puluh lima tidak akan pernah cukup untuk melukiskan suatu perjalanan.

namun, setidaknya ia cukup untuk membukukan begitu banyak kebahagiaan.

.

December 31, 2015.

December 20, 2015

subuh yang manja dan karenanya.

.

selamat pagi,

          seperti bodoni yang terhapuskan akan serif, kita kehilangan jati diri.
          manusia terlalu sedikit berpikir akan apa yang kita sering pikirkan.
          dan karenanya, kita tidak akan sepenuhnya bisa menjadi manusia.

          aku penasaran apakah manusia hanya terbentuk akan sekumpulan pemikiran yang logis
          atau abstraksi yang membutakan logika itu sendiri.
          seperti subuh yang manja, ufuk yang mencibir senja,
          adukan cangkir dan fonem-fonem yang justru tersesat dalam pesan yang dibawanya.

selamat pagi,

          aku lupa cara berpikir, karena serif seperti otak dan aku hanya sebatas gill sans yang kerdil.
          tidak bertelanjang dada dan derajat yang jangkung, namun masih saja menggigil.
          pasangan sepatu yang tergeletak, tidak ingin dipakai hari ini.

          mungkin sebenarnya kita sudah terlalu lama berdiam dalam subuh yang manja.
          dan kita tidak lagi memakainya untuk menyiapkan masa depan.
          kita pulas dalam lamunan.
          dan karenanya, kita tidak akan sepenuhnya bisa menjadi manusia.

selamat pagi,

          aku gill sans yang tak paham cara menjadi bodoni.
          manusia terlalu banyak berpikir akan apa yang kita jarang pikirkan.
          dan karenanya, kita tidak akan sepenuhnya bisa menjadi manusia.

.

December 20, 2015.

December 7, 2015

henyak.

Pada akhirnya, kita telah menjadi lupa cara untuk menulis—
tentang apa pun yang riil, tentang apa pun yang
tidak sentimentil.

          Petrikor dan ode-ode gerimis,
          ambien fajar yang terkikis
          melankoli dan segumpal kontemplasi yang menempel seperti
          debu dan arsir tak bertepi.

Kita lupa bahwa jurnal telah lama mengunci pintu dari
sengau matahari, lalu memanaskan tungku untuk membakar
puisi-puisi.

{ kita gagal mengajarkannya akan simpati.

          Dan lagi,
          kita lupa bahwa imbuhan telah membumi;
          angkasa hanyalah khayalan sebab kita tak lagi diajarkan untuk
          bermimpi.

{ kita gagal memberontak pagi ini.

 .

November 18, 2015. tentang kegagalan. henyak dan kapal yang karam.

November 9, 2015

dua puluh.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
atas senyum dan bulir hujan,
atas kontemplasi dan peristirahatan di tengah detak kronos yang tak pernah melaju pelan.

sudah tiga hari aku kembali membuang kewajiban,
lalu aku pikir itu baik-baik saja.
sebab aku sudah lupa caranya menjadi bertanggung jawab,
hanya ingat bagaimana rasanya bahagia.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
otakku rusak, napas dan peluk mendekap.
aku ingin cepat-cepat pulang, atau setidaknya pulang pada sebuah perjalanan.

aku ingin punya mimpi sebesar anak jalanan.
aku ingin punya waktu selowong anak-anak sekolahan.

enam hari yang lalu, dua puluh menghampiriku bersama atmosfer yang hangat dan sederhana.
aku pikir aku benci sekali menjadi lebih tua,
tapi aku tak pernah mempersalahkan november atasnya.
seperti november yang tak pernah mempersalahkanku atas segala kesalahan.
seperti november yang mengajarkanku akan kesabaran dan apiknya ketidaksempurnaan.

seperti november yang mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan
dan perayaan-perayaan untuk menjadi semakin dewasa.

aku ingin menjadi seperti november;
menjadi ia yang tak perlu punya mimpi besar ataupun waktu lowong,
namun bisa melowongkan waktu untuk membesarkan mimpi.

menjadi seperti november yang selalu kukagumi.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
dan aku ingin menjadi sepertinya.

.

November 9, 2015. atas dua puluh. atas proses untuk semakin menjadi seperti november.

October 1, 2015

satu garis miring sepuluh.

oktober wangi hujan
yang tak pernah turun selain dalam reka dan luang pikiran.

aku ingin sekali menulis,
namun gegabah atas kewajiban-kewajiban yang belum tertuntaskan atas dasar kelalaian.

malam demi malam dalam lelap
karena september sudah terlalu wangi hujan
yang menyesap mengobati retak tulang dan meninabobokan gelak tawa yang terbang bebas seharian.

oktober wangi hujan,
filosofi dan payung kias akan tenggat-tenggat yang separuh terabaikan.
kapan lagi sebuah perjalanan?

kapan lagi turun ke jalan?

oktober begitu wangi hujan.
dan aku ingin berbaring di dalamnya.

 October 1, 2015. halo, oktober. semoga kau pun wangi hujan.

September 29, 2015

titik introversi.

sudahkah saatnya kita berpulang dan mengunci diri rapat-rapat
dalam lembar sunyi yang tak mengenal abjad,
tak mengenal entitas?

aku rasa kita sama-sama paham
bahwa abai adalah tren utama di zaman yang memusuhi purba ini.
dan atas itulah, kita pun tak tahu apakah harus mengikuti
demi keselarasan spektrum yang bergumul di pelupuk dan pelipis.
atas kuning kita mengendap biru, atas hijau kita memeluk ungu.

sudahkah saatnya kita berhenti berjalan dan berlari,
melanggar rambu-rambu yang senantiasa merah?

aku rasa kita belum paham arti sesungguhnya dari bercak-bercak suara: yang memonopoli
atmosfer dan peleton-peleton senja,
yang tak henti-hentinya berembus hingga ia yang semula mengucapkan 'selamat jalan' kembali
muncul dari direksi kardinal yang bertatap muka.

rasa-rasanya kita tak pernah menyadari
bahwa kepala kita sudah penuh oleh kesakitan yang kita sendiri tak dapat jelaskan.

rasa-rasanya kita sudah terlalu sering lupa untuk beristirahat.
rasa-rasanya kita sudah terlalu sering lupa.
rasa-rasanya kita sudah.
rasa-rasanya.

...rasa.

adakah titik introversi yang menampakkan diri membuatmu sedikit teringat?

.
.
.

September 29, 2015. atas sekumpulan kata-kata: sudahkah, aku rasa, dan rasa-rasanya. atas titik introversi dan ilusi akan sejenak istirahat.

September 21, 2015

abjad dan aksara.

malam ini aku dipinang lagi oleh kata-kata;
ia mengetuk pintu kepalaku
seperti angin yang menjengkalkan milimeter-milimeter kenangan bulan September.

aku pikir aku sudah lupa akan rasa;
namun nyatanya aku terambang oleh lamaran abjad dan aksara.
jemariku seperti menangkup ribuan bahasa.

dan lihatlah,
malam ini huruf-huruf berdansa.

September 19, 2015.

August 16, 2015

membenarkan kejahatan.

aku masih tak dapat memahami mengapa dunia ini begitu ambigu.

baru saja kemarin, aku lupa akan
perkataan ayah:
ia yang selalu canggung namun berbisik dengan layar kusamnya yang terang hari itu,
tidak presisi namun kurang lebih,
"nak, kamu harus jujur, ya." 

kemarin aku lupa
dan oleh karenanya jemariku pun menguntai benang-benang kasat mata,
menciumi satu-satu balok-balok eksakta,
alfabet,
dan koda ilusi pemercik senja,
yang dulu berkat mereka menjadi tahu bahwa matahari terbenam di barat,
sekarang dengan kisah logis ribuan abad sudah berkutat.

kemarin aku lupa akan
kebenaran.
yang teringat hanyalah ego pribadi: pilu-pilu pasif yang menggerogot bingkai pikir

bahwa aku harus membenarkan kejahatan.

"nak, kamu harus jujur, ya," dulu kata ayah.
namun sayang senyum canggung itu harus terbalas dengan
ampas.

ada satu hal yang tersadar saat kau perlahan menjadi dewasa,
dan yang paling kusadari adalah bahwa dunia ini begitu ambigu
dan aku tak dapat memahaminya.
bahwa perkataan ayah tidak akan dapat menjadi sebatas perkataan, juga bahwa
di tengah bising ibukota, serbuk-serbuk asap, maki yang terhempas, dan perkara yang tergiatkan
ada bagian diri yang tergerus
dan lama-lama tergubah
seperti melodi yang masih sama: "nak, kamu harus jujur, ya."
namun tersengaukan dalam beberapa artikel-artikel nada.

baru saja kemarin, aku lupa akan
perkataan ayah.
tapi bagaimana bila saja aku berpura-pura lupa?
dan terkadang, kejahatan yang terbenarkan, bukankah sebuah ironi yang terlihat begitu indah?

maaf, yah,
aku sudah buta.
dunia ini begitu ambigu; oleh karenanyalah, aku berhenti meliput dari runtut aturan yang begitu kaku.
ego pribadi: pilu-pilu pasif yang menggerogot bingkai pikir,
kebenaran palsu dan tangan yang tak diam, tak getir.

hari ini pun, aku membalas senyum canggung masa lampau itu dengan
ampas;
dan atas nama ambiguitas dunia, membenarkan kejahatan.

baru saja kemarin, aku lupa akan
kebenaran.

namun tidak apa.

.

August 16, 2015. dunia ini begitu ambigu dan aku begitu pelupa. namun tidak apa.

June 12, 2015

menulisi hujan.

juni,
banyak memori yang gagal tersemat bersama parasut sore cerah.
dan aku tak lagi ingat akan apa-apa.

sejujurnya, hari ini akan kukatakan:

aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang

apalagi untuk menjejaki seluruh kewajiban.

sudah empat hari aku tertidur terlalu lama, seakan bayang-bayang gelap begitu kuat menutup
kelopak; membuatnya membantah perintah otak untuk menggiatkan perkara.

juni,
banyak memori yang menyenangkan karena
itulah bagaimana aku banyak diajarkan; akan lensa yang harus dikenakan, akan rapuh yang
harus dilupakan. lalu aku dibuat teringat akan guru-guru luar biasa yang beberapa tak pernah
kukenali dari nama.

logisnya, aku banyak meniru boneka kayu yang dirajut Kakek Geppetto;
memanjangkan hidung demi diri sendiri, sampai rajut kurva itu muncul—di mana dari teropong personal, hanya jejak manis itu yang akhirnya terlihat.

tapi sejujurnya, hari ini akan kukatakan:

aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang

apalagi untuk mereka-reka ketidaknyataan
yang terlalu senang kupercayai sebagai nyata.

juni,
hujan ini membuatku sangat ketakutan; akan berbagai jadwal yang tak dapat diganti sesukanya.
aku bosan diminta belajar untuk bersabar. namun pada akhirnya aku tahu
kita semua tetap akan belajar menerima ketidaksempurnaan.

sudah empat hari dunia seakan berputar tanpa kusadari
dan aku belajar lagi menerima ketidaksempurnaan; akan alam, akan keindahan. apalagi akan kebodohan
diri sendiri
yang sengaja melalaikan rutinitas, seakan mengetes seberapa lama dunia akan bersabar.

sejujurnya, hari ini akan kukatakan:

aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang

aku sangat ingin menghabiskan waktu hanya menulisi hujan
karena aku akan menjadi sangat tidak waras tanpanya.

andaikan saja aku bisa menjadi hujan yang ditulis Sapardi. andai saja.
mungkin kau akan lebih menyenangiku, bukan, juni?

tapi sejujurnya, hari ini akan kukatakan:

aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang

untuk berpura-pura menjadi hujan yang diidam-idamkan.

.

June 12, 2015. di luar hujan, barusan. lalu aku tersadar, bahwa lagi-lagi aku membuang waktu luang. lalu aku tersadar, bahwa aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang. sebuah tanya: kapan lagi aku bisa menulisi hujan?

May 25, 2015

terhadap lembar putih.

untuk bocah yang tak dapat berhenti melukis matahari;

// b e r s a b a r l a h //

jika dua hari lagi gurat-gurat logis itu masih mematukmu untuk menjadi perwira, maka bersabarlah;
karena yang ada bukanlah sesosok diri yang mengalah, melainkan memahami alur dunia.

dan bila ada angka-angka itu mengirimmu sebentuk gusar
pada malam yang penuh akan dokumen-dokumen untuk diselesaikan, biarlah sebuah matahari kembali
terlukis.
dentang perjalanan menyapu pergi bayangan palsu gerimis;
wajah yang merekah menyambut berbagai pelarian-pelarian kecil yang manis.

terkadang, ada praduga yang membekas bersama udara yang lugas
seperti udara di pukul sebelas tiga puluh.

// b e r s a b a r l a h //

mungkin selama ini ia terlalu banyak melukis matahari, pikirnya sepihak; namun bersabarlah,
terutama di tahun-tahun seperti sekarang di mana ia benar-benar dapat menjadi pijar aslinya yang
idealis.
dentang perjalanan menjadi pembuka album di mana ia, yang biasanya, kini tak mampu menjadi apatis;
wajah yang merekah menyambut rekah-rekah serupa yang tak pernah habis.

puisi membosankan regulernya terus menautkan baris. bersabarlah saja, karena tinggal sebentar lagi
ia akan menutupnya dalam senyap pergantian hari.

dan esok pun, ia masih mengelap kuas-kuasnya pada tembok-tembok khayal.

ia akan melukis lagi sejumlah matahari;

// b e r s a b a r l a h //

oleh karenanya; sebab, sejak awal, ia memang sudah terlanjur terpikat pada
dentang perjalanan dan sorot lembut dari papar ilusi.
wajah yang merekah menuju lembar napas baru yang tak pernah berhenti membuatnya tak lagi takut untuk berlari.

.

May 25, 2015. lagi-lagi lembar putih itu terlalu menggoda untuk dilukiskan dengan apa yang benar-benar menggebu dari dalam. mungkin sebuah perjalanan dan pembukuan atas gugus-gugus emosi yang mampir memang apa yang hanya akan benar-benar menggugah sampai akhir.