Kak Cakra, ia terakhir datang tiga bulan lalu. Aris meneguk ludah saat kilas-kilas itu menembus pundak yang biasa ditepuk oleh sosok dalam benaknya itu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------“Opeeeerrr!”
Singkap
canda menjadi papar petang hari itu. Ia mengamati dari ujung; tidak hanya akan
buyar jingga yang semakin memekat dalam lapisan pemayung, namun juga akan
segala gerak-gerik sebuah benda bulat yang tengah melambung. Ada empat orang
dalam skenario tersebut. Tiga orang tengah berkeliling menyambut setiap
hamparan tawa tiap kali benda bulat yang menjadi sentral kebersamaan mereka
berpindah kaki, sementara satu lagi adalah dirinya; yang menjadi spektaktor
ditemani lembar-lembar putih dan deret angka geometri.
Sudah
hampir satu jam ia di sana. Aris, ia senang dipanggil begitu, pun menggigit
ujung penanya, lalu menikungkan ujung satunya lagi pada bidang catat. Untuk
keberapa kalinya, tidak ada yang tahu. Yang pasti mungkin masih akan
berkali-kali lagi hingga teka-teki ilmu hitung yang tengah ia geluti
terselesaikan seluruhnya. “Tidak. Bukan begini,” gumamnya setelah menjurangkan
detik pada sketsa variabel dalam otak. Lalu ia menerawang lagi pada petak
kebebasan di hadapannya.
Hmph.
Sudah lama sekali, ya. Poros mata Aris melembut seiring dengan temaram yang
semakin memerah dari kawah bening yang berkecipak dan memantulkan riuh
perpisahan di ufuk barat. Dalam sketsa yang oleh pribadi lain tak terlihat,
perlahan-lahan, sosok seseorang—pijar lengkung penyapa dan punggung yang
gagah—melintas bagai ciprat berkas-berkas putih. Ya. Aris masih ingat betul akan
sosok itu.
Kak
Cakra, ia terakhir datang tiga bulan lalu. Aris meneguk ludah saat kilas-kilas
itu menembus pundak yang biasa ditepuk oleh sosok dalam benaknya itu.
Api
mulai bermunculan memenuhi corong kaca dari tabung-tabung penerang yang
bersender dekat jendela rumah para penghuni dusun. Tanpa sadar, Aris sudah
hampir memenuhi lembar yang tengah berdiam di pangkuannya. Bukan dengan respon
obligat terhadap persoalan eksakta yang menjadi tanggungannya hari itu, namun
dengan sketsa wajah Kak Cakra yang cenderung distorsi. Yah, setidaknya mata
besar di wajah yang ia gambar sudah mirip dengan mata Kak Cakra. Bagus ataupun
tidak, ia ingat Kak Cakra akan selalu memuji gambarnya, walau sebenarnya, Kak
Cakra tidak paham akan seluk-beluk menggambar. Apalagi bermain futsal. Itu juga
sama parahnya.
“Goooollllll!”
Terdengar seseruan dari salah satu dari tiga bilik nyawa di seberangnya. Mereka
pun spontan mengambrukkan tubuh ke tanah, membiarkan pori-pori pakaian menyerap
lumpur ditemani ungu yang semakin menghitam di atas sana.
Aris
tertawa kecil. Ia ingat dirinya dan Kak Cakra pernah melakukan hal serupa. Hari
itu anak-anak lain sedang sibuk dengan entah apa hingga hanya ada mereka berdua
di petak kosong itu. Sebelum berbaring pada kasur berselimut debu-debu coklat
di sana, pribadi yang lebih tua menghela napas dalam skala yang sangat
repetitif; mencoba memasok sisa-sisa udara yang ada guna memulihkan fisiknya
yang seakan diuji. Lalu gol kesekian dari Aris; yang sejujurnya jarang sekali
terjadi saat sang bocah bermain dengan teman-teman sebayanya, hingga bisa
ditarik satu konklusi: Kak Cakra memang payah dalam bermain bola. Namun, Aris
tak mempedulikannya. Ia pun mengibaskan rambut hitamnya yang basah oleh
keringat, lalu menyusul menatap ladang atmosfer yang masih biru di saat itu.
“Kak
Cakra,” sebuah percakapan dimulai ketika alur oksigen sudah mulai mereda, “apa
di tempat Kak Cakra tinggal dulu tak banyak lapangan bola?”
Respon
yang diselingi napas yang masih berusaha untuk kembali teratur datang dari Kak
Cakra. “Ya… Bisa dibilang begitu. Haha. Kakak sendiri tak begitu sering bermain
seperti ini. Paling banter… ya, paling catur. Haha.”
“Pantas
Kakak payah banget mainnya,” dengus Aris.
Tak
ada alfabet yang langsung berlalu, pertanda sang mentor sepenuhnya setuju
terhadap pernyataan bocah yang sudah nyaris lima bulan ini menjadi anak
didiknya. Ya. Sejak Januari, sudah rutin bagi Kak Cakra untuk datang menemani
mereka, anak-anak kelas enam, di hari Sabtu. Aris sudah hafal itu. Kadang Kak
Cakra juga datang di hari Minggu; mengobrol dengan rekan-rekan guru, sebelum
akhirnya ia dan teman-teman berebutan mengajaknya bermain. Dan di hari Minggu
ini, bisa dikatakan Aris memiliki waktu Kak Cakra sepenuhnya. Ia pun
mengajaknya bermain futsal, sebab ia percaya siapa pun pasti menyenangi permainan
tersebut. Bahkan Kak Cakra yang payah pun kelihatan menikmati. Setidaknya
penyegaran yang cukup sebelum ia kembali bekerja dari hari Senin hingga Jumat
nanti. Aris lupa di mana sosok yang ia kagumi itu bekerja, namun sepertinya
cukup jauh karena ia hanya bisa rutin mengunjungi mereka sekali sampai dua kali
seminggu.
“Ei,
Ris,” tiba-tiba sang guru memanggil, “kamu… sudah terpikir belum setelah besar
nanti mau ngapain?”
Sebuah
kernyit lantas muncul di dahi. “Kak Cakra ngomong apaan, sih? Kejauhan kali,
Kak… Ujian akhir aja empot-empotan, udah mikir ke situ. Kak Cakra tahu sendiri
kan nilai TO-ku kemarin berapa.”
Tertawa
kecil, Kak Cakra langsung berceletuk, “Iya. Jelek banget. Gimana kamu mau
lulus, ya? Kakak jadi ragu. Hahaha.” Tawa Kak Cakra makin meledak, mengibaskan
spektrum tertinggi pelangi pada wajah Aris. Ia pun meninju-ninju kecil guru
favoritnya itu sebagai respon terhadap ejekannya.
“Ahahaha,
ampun, Ris. Udah, udah. Kakak cuma becanda,” tukasnya sambil masih tertawa.
Aris menggembungkan pipinya seraya instrumen penjentiknya berhenti mengepal.
Sisi diri seperti ini jarang ia tunjukkan selain pada Kak Cakra. Pribadi yang
bersangkutan hanya tersenyum menanggapinya, kemudian melanjutkan, “Kamu tuh
cocoknya jadi petinju tahu gak? Pukulannya tuh… nggak main-main. Haha.”
Hening
sesaat, lalu Kak Cakra menjatuhkan nuansa serius namun santai pada kubah alam
yang mengerumun. “Masih ada dua minggu, Ris, sampai ujian akhir. Kakak yakin
kalian semua bisa, kok. Yang penting jalanin aja dengan jujur. Pas lulus nanti,
jalanin SMP sebaik-baiknya, SMA juga. Terus kalau udah ya terserah kamu mau ke
mana. Kejar aja cita-cita kalian. Hidup ini tuh yang penting senang dan bisa
bermanfaat lah buat orang lain.”
Pola
frasa itu dicerna Aris dengan mulut yang menikung. Sebuah tanya menyusul. “Kak
Cakra…” Sosok yang dipanggil menoleh. “Memangnya pas seumuran kita dulu, Kak
Cakra mau jadi apa pas udah lulus?”
Membelalak
sebentar, Kak Cakra lalu mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada dagu. Cercah surya
yang begitu terik menjelmakan bayangan mulai dari tempat ia terduduk sekarang.
Sang murid mengikut gurunya meninggalkan posisi baringnya yang semula. Sosok di
sampingnya masih bergumam.
“Hmm…
Apa, yaaa? Kayaknya nggak ada. Hahaha. Jadi polisi kali, ya?” Jawaban itu
terdengar sangat tidak serius di telinga Aris. Menyadari lipatan-lipatan yang
tak perlu pada wajah muridnya, Kak Cakra pun langsung menautkan baris,
“Beneraaan, Ris. Dulu tuh Kakak pengen jadi polisi. Keren gitu. Terus, ya,
lambat-laun kepikiran lagi pengen jadi yang lain seiring SMP dan SMA. Sekarang
udah kerja ya begini, deh, jadinya. Haha.”
Aris
hanya terdiam. Kalimat itu melekat dalam koda seakan kamus perseptornya tak mampu
menerjemahkannya dengan begitu baik. Di sisi lain, Kak Cakra menjunjungkan
telapak tangannya, mencoba menggapai awan yang bergumul dalam sebuah
petualangan rahasia, lalu berkata, “Yang penting, sih, kamu sekolah dulu, Ris.
Sekolah yang baik. Soalnya nggak semua orang bisa sekolah kayak kamu. Soal
cita-cita mah nanti juga ketemu.”
Tertusuk
oleh gugus-gugus alfabet yang tertenun ke udara, sang bocah kembali teringat
akan hari pertama pertemuannya dengan figur di sampingnya. Saat itu, ia masih
senang membuang gumpalan kertas di tengah-tengah pelajaran. Ia akan mengunyah
pensil, menggambar-gambar apa yang ada di benak, dan mengabaikan celoteh guru
yang berdiri di depan. Kemudian, suatu hari, Kak Cakra memintanya maju ke
depan. Ia tak menggubrisnya, lalu Kak Cakra menegurnya, benar-benar dengan nada
bicara yang agak janggal; yang memunculkan luap-luap baru yang tak pernah dapat
ia pahami. Ditahan seusai kelas, itu juga pertama kali ia alami. Namun ditahan
sambil diajak mengobrol mengenai hal-hal yang sebagian asing dan sebagian ia
sukai, itu yang lebih janggal lagi; bahkan sama sekali tak pernah muncul dalam
bayangannya akan sebentuk ‘hukuman’ yang begitu—sekali lagi, janggal—yang,
lebih janggalnya lagi, datang dari orang yang baru mengajarnya tak lebih dari
satu sesi. Sabtu demi Sabtu, ia kembali ditahan lagi, hingga lama-lama ialah
yang justru menahan sang guru untuk mengobrol singkat seusai pelajaran; kadang
sendiri, biasanya ramai-ramai membahas hal-hal tentang materi maupun tentang
diri.
Benar
saja. Ia masih ‘bodoh’. Angka tiga puluh sudah menjadi keajaiban bila sudi
menitikkan diri pada kertas ujiannya yang kini tidak lagi ia remas atau jadikan
kapal-kapalan, tetapi setidaknya ada sedikit hal yang membuatnya bersemangat
menunggu Sabtu. Menunggu waktu bisa mengobrol dengan Kak Cakra bagaikan
penduduk dusun yang menunggu bibit-bibit yang kelak akan membentuk permadani kuning.
Dan bilamana ia sudah cukup besar untuk lebih akur dengan istilah membolos,
setidaknya satu hal yang pasti: Sabtu tak akan pernah masuk dalam daftar
keabsenannya. Pikirnya, sekolah memang masih sulit, namun setidaknya tidak
sepenuhnya membosankan lagi.
“Ei,
Kak Cakra…” Aris membenamkan wajahnya setelah mengingat semua hari-hari
menyenangkannya dengan sang lawan bicara. “Terima—“
“Hmm?”
“Ng—nggak
ada. Eh, ayo kita main lagi!”
Sebentuk
kurva kembali terlukis di wajah Kak Cakra; dan kurva itulah yang terus ia bawa
hingga tiba saatnya ujian akhir. Hari itu Aris dan teman-teman dikagetkan akan
kehadiran Kak Cakra di hari Rabu, usai ujian Ilmu Pengetahuan Alam. Semua
spontan memeluknya, beberapa menangis ketika ia berkata Sabtu depan adalah
Sabtu terakhirnya mengajar Aris dan teman-teman. Atas alasan apa, Aris lupa.
Yang pasti ia tak datang dalam acara perpisahan Kak Cakra. Terlalu terpukul,
mungkin. Ia sendiri tak bisa menjelaskannya.
Aris
masih tak tahu ia harus menyesal atau tidak atas ketidakdatangannya hari itu.
Sekarang
pun, tiga bulan setelah hari itu, ia masih tidak tahu. Setelah tiga bocah di
hadapannya berkemas menuju rumah masing-masing, ia masih duduk di sana.
Pola-pola aljabar tak lagi ia gubris. Melipat tangannya, ia lalu termenung akan
gulita dan ketidakhadiran purnama. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya di mana
Kak Cakra berada sekarang. Apakah ia mengejar mimpinya lagi menjadi polisi?
Ataukah ia sedang berada di belahan bumi lain, mengobrol dengan anak-anak
sepertinya? Ia tidak tahu. Hanya hela napas yang mampu ia suarakan sekarang.
Aris melihat lagi sketsa wajah Kak Cakra yang ia gambar barusan, lalu
menutupnya; menaruh sang jilid pencatat ke dalam ranselnya yang sudah berlubang
di beberapa sisi, namun serasi dengan baju berantakan—Kak Cakra tak pernah
menegurnya soal ini—dan celana biru yang ia kenakan kini. Ya, benar sekali. Seandainya
saja Kak Cakra tidak pernah datang, mungkin ia bahkan tak akan pernah bisa—atau
lebih parahnya, peduli—untuk mengenakan seragam barunya ini.
Rerumputan
kini sudah ramai oleh suara jangkrik. Aris tahu sudah saatnya ia pulang. Dan
perjalanan pulang hari itu ia bukukan dalam renungan dan tangkis pandang pada
segerombol bintang. Seandainya saja Kak Cakra masih berkunjung ke sini, ia
pasti akan menanyakan arti-arti dari bintang-bintang yang sekarang tengah
menari-nari di atas sana.
Dan
sesampainya di rumah…
—Aris
terhenti. Ada sebuah kejut yang memeluknya begitu melihat sepucuk kertas
menyembul dari dalam kotak suratnya yang sudah ramai ditutupi karat.
Menggosokkan tangannya untuk menghilangkan gugup, ia pun meraih lembar rapi itu
perlahan. Disimaknya bentuk tulisan yang tergores di halaman depannya; dan
sebentuk kurva—yang seakan ditularkan Kak Cakra sejak entah kapan
padanya—terbentuk dengan mudahnya. Kau tahu, hari ini ia benar-benar bersyukur
ia memutuskan untuk tak sepenuhnya memelihara persepsi ignorannya yang delapan
bulan lalu masih menguasainya; sebab jika tidak, maka malam ini, ia tidak akan
bermimpi indah. Salah satunya mengimpikan kalimat yang menyapanya kembali bagai
angin bukit yang hangat—tempat ia dulu senang bermain futsal dan tertidur di
atas lumpur bersama sosok terlekat.
‘Untuk muridku yang paling
semangat.’
.
April 20, 2015. respon terhadap sebuah sayembara menulis. belum bisa berjaya, tetapi setidaknya menjadi motivasi untuk mengangkat pena lagi. :)