May 5, 2015

tentang kak cakra.

Kak Cakra, ia terakhir datang tiga bulan lalu. Aris meneguk ludah saat kilas-kilas itu menembus pundak yang biasa ditepuk oleh sosok dalam benaknya itu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Opeeeerrr!”

Singkap canda menjadi papar petang hari itu. Ia mengamati dari ujung; tidak hanya akan buyar jingga yang semakin memekat dalam lapisan pemayung, namun juga akan segala gerak-gerik sebuah benda bulat yang tengah melambung. Ada empat orang dalam skenario tersebut. Tiga orang tengah berkeliling menyambut setiap hamparan tawa tiap kali benda bulat yang menjadi sentral kebersamaan mereka berpindah kaki, sementara satu lagi adalah dirinya; yang menjadi spektaktor ditemani lembar-lembar putih dan deret angka geometri.

Sudah hampir satu jam ia di sana. Aris, ia senang dipanggil begitu, pun menggigit ujung penanya, lalu menikungkan ujung satunya lagi pada bidang catat. Untuk keberapa kalinya, tidak ada yang tahu. Yang pasti mungkin masih akan berkali-kali lagi hingga teka-teki ilmu hitung yang tengah ia geluti terselesaikan seluruhnya. “Tidak. Bukan begini,” gumamnya setelah menjurangkan detik pada sketsa variabel dalam otak. Lalu ia menerawang lagi pada petak kebebasan di hadapannya.

Hmph. Sudah lama sekali, ya. Poros mata Aris melembut seiring dengan temaram yang semakin memerah dari kawah bening yang berkecipak dan memantulkan riuh perpisahan di ufuk barat. Dalam sketsa yang oleh pribadi lain tak terlihat, perlahan-lahan, sosok seseorang—pijar lengkung penyapa dan punggung yang gagah—melintas bagai ciprat berkas-berkas putih. Ya. Aris masih ingat betul akan sosok itu.

Kak Cakra, ia terakhir datang tiga bulan lalu. Aris meneguk ludah saat kilas-kilas itu menembus pundak yang biasa ditepuk oleh sosok dalam benaknya itu.

Api mulai bermunculan memenuhi corong kaca dari tabung-tabung penerang yang bersender dekat jendela rumah para penghuni dusun. Tanpa sadar, Aris sudah hampir memenuhi lembar yang tengah berdiam di pangkuannya. Bukan dengan respon obligat terhadap persoalan eksakta yang menjadi tanggungannya hari itu, namun dengan sketsa wajah Kak Cakra yang cenderung distorsi. Yah, setidaknya mata besar di wajah yang ia gambar sudah mirip dengan mata Kak Cakra. Bagus ataupun tidak, ia ingat Kak Cakra akan selalu memuji gambarnya, walau sebenarnya, Kak Cakra tidak paham akan seluk-beluk menggambar. Apalagi bermain futsal. Itu juga sama parahnya.

“Goooollllll!” Terdengar seseruan dari salah satu dari tiga bilik nyawa di seberangnya. Mereka pun spontan mengambrukkan tubuh ke tanah, membiarkan pori-pori pakaian menyerap lumpur ditemani ungu yang semakin menghitam di atas sana.

Aris tertawa kecil. Ia ingat dirinya dan Kak Cakra pernah melakukan hal serupa. Hari itu anak-anak lain sedang sibuk dengan entah apa hingga hanya ada mereka berdua di petak kosong itu. Sebelum berbaring pada kasur berselimut debu-debu coklat di sana, pribadi yang lebih tua menghela napas dalam skala yang sangat repetitif; mencoba memasok sisa-sisa udara yang ada guna memulihkan fisiknya yang seakan diuji. Lalu gol kesekian dari Aris; yang sejujurnya jarang sekali terjadi saat sang bocah bermain dengan teman-teman sebayanya, hingga bisa ditarik satu konklusi: Kak Cakra memang payah dalam bermain bola. Namun, Aris tak mempedulikannya. Ia pun mengibaskan rambut hitamnya yang basah oleh keringat, lalu menyusul menatap ladang atmosfer yang masih biru di saat itu.

“Kak Cakra,” sebuah percakapan dimulai ketika alur oksigen sudah mulai mereda, “apa di tempat Kak Cakra tinggal dulu tak banyak lapangan bola?”

Respon yang diselingi napas yang masih berusaha untuk kembali teratur datang dari Kak Cakra. “Ya… Bisa dibilang begitu. Haha. Kakak sendiri tak begitu sering bermain seperti ini. Paling banter… ya, paling catur. Haha.”

“Pantas Kakak payah banget mainnya,” dengus Aris.

Tak ada alfabet yang langsung berlalu, pertanda sang mentor sepenuhnya setuju terhadap pernyataan bocah yang sudah nyaris lima bulan ini menjadi anak didiknya. Ya. Sejak Januari, sudah rutin bagi Kak Cakra untuk datang menemani mereka, anak-anak kelas enam, di hari Sabtu. Aris sudah hafal itu. Kadang Kak Cakra juga datang di hari Minggu; mengobrol dengan rekan-rekan guru, sebelum akhirnya ia dan teman-teman berebutan mengajaknya bermain. Dan di hari Minggu ini, bisa dikatakan Aris memiliki waktu Kak Cakra sepenuhnya. Ia pun mengajaknya bermain futsal, sebab ia percaya siapa pun pasti menyenangi permainan tersebut. Bahkan Kak Cakra yang payah pun kelihatan menikmati. Setidaknya penyegaran yang cukup sebelum ia kembali bekerja dari hari Senin hingga Jumat nanti. Aris lupa di mana sosok yang ia kagumi itu bekerja, namun sepertinya cukup jauh karena ia hanya bisa rutin mengunjungi mereka sekali sampai dua kali seminggu.

“Ei, Ris,” tiba-tiba sang guru memanggil, “kamu… sudah terpikir belum setelah besar nanti mau ngapain?”

Sebuah kernyit lantas muncul di dahi. “Kak Cakra ngomong apaan, sih? Kejauhan kali, Kak… Ujian akhir aja empot-empotan, udah mikir ke situ. Kak Cakra tahu sendiri kan nilai TO-ku kemarin berapa.”

Tertawa kecil, Kak Cakra langsung berceletuk, “Iya. Jelek banget. Gimana kamu mau lulus, ya? Kakak jadi ragu. Hahaha.” Tawa Kak Cakra makin meledak, mengibaskan spektrum tertinggi pelangi pada wajah Aris. Ia pun meninju-ninju kecil guru favoritnya itu sebagai respon terhadap ejekannya.

“Ahahaha, ampun, Ris. Udah, udah. Kakak cuma becanda,” tukasnya sambil masih tertawa. Aris menggembungkan pipinya seraya instrumen penjentiknya berhenti mengepal. Sisi diri seperti ini jarang ia tunjukkan selain pada Kak Cakra. Pribadi yang bersangkutan hanya tersenyum menanggapinya, kemudian melanjutkan, “Kamu tuh cocoknya jadi petinju tahu gak? Pukulannya tuh… nggak main-main. Haha.”

Hening sesaat, lalu Kak Cakra menjatuhkan nuansa serius namun santai pada kubah alam yang mengerumun. “Masih ada dua minggu, Ris, sampai ujian akhir. Kakak yakin kalian semua bisa, kok. Yang penting jalanin aja dengan jujur. Pas lulus nanti, jalanin SMP sebaik-baiknya, SMA juga. Terus kalau udah ya terserah kamu mau ke mana. Kejar aja cita-cita kalian. Hidup ini tuh yang penting senang dan bisa bermanfaat lah buat orang lain.”

Pola frasa itu dicerna Aris dengan mulut yang menikung. Sebuah tanya menyusul. “Kak Cakra…” Sosok yang dipanggil menoleh. “Memangnya pas seumuran kita dulu, Kak Cakra mau jadi apa pas udah lulus?”

Membelalak sebentar, Kak Cakra lalu mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada dagu. Cercah surya yang begitu terik menjelmakan bayangan mulai dari tempat ia terduduk sekarang. Sang murid mengikut gurunya meninggalkan posisi baringnya yang semula. Sosok di sampingnya masih bergumam.

“Hmm… Apa, yaaa? Kayaknya nggak ada. Hahaha. Jadi polisi kali, ya?” Jawaban itu terdengar sangat tidak serius di telinga Aris. Menyadari lipatan-lipatan yang tak perlu pada wajah muridnya, Kak Cakra pun langsung menautkan baris, “Beneraaan, Ris. Dulu tuh Kakak pengen jadi polisi. Keren gitu. Terus, ya, lambat-laun kepikiran lagi pengen jadi yang lain seiring SMP dan SMA. Sekarang udah kerja ya begini, deh, jadinya. Haha.”

Aris hanya terdiam. Kalimat itu melekat dalam koda seakan kamus perseptornya tak mampu menerjemahkannya dengan begitu baik. Di sisi lain, Kak Cakra menjunjungkan telapak tangannya, mencoba menggapai awan yang bergumul dalam sebuah petualangan rahasia, lalu berkata, “Yang penting, sih, kamu sekolah dulu, Ris. Sekolah yang baik. Soalnya nggak semua orang bisa sekolah kayak kamu. Soal cita-cita mah nanti juga ketemu.”

Tertusuk oleh gugus-gugus alfabet yang tertenun ke udara, sang bocah kembali teringat akan hari pertama pertemuannya dengan figur di sampingnya. Saat itu, ia masih senang membuang gumpalan kertas di tengah-tengah pelajaran. Ia akan mengunyah pensil, menggambar-gambar apa yang ada di benak, dan mengabaikan celoteh guru yang berdiri di depan. Kemudian, suatu hari, Kak Cakra memintanya maju ke depan. Ia tak menggubrisnya, lalu Kak Cakra menegurnya, benar-benar dengan nada bicara yang agak janggal; yang memunculkan luap-luap baru yang tak pernah dapat ia pahami. Ditahan seusai kelas, itu juga pertama kali ia alami. Namun ditahan sambil diajak mengobrol mengenai hal-hal yang sebagian asing dan sebagian ia sukai, itu yang lebih janggal lagi; bahkan sama sekali tak pernah muncul dalam bayangannya akan sebentuk ‘hukuman’ yang begitu—sekali lagi, janggal—yang, lebih janggalnya lagi, datang dari orang yang baru mengajarnya tak lebih dari satu sesi. Sabtu demi Sabtu, ia kembali ditahan lagi, hingga lama-lama ialah yang justru menahan sang guru untuk mengobrol singkat seusai pelajaran; kadang sendiri, biasanya ramai-ramai membahas hal-hal tentang materi maupun tentang diri.

Benar saja. Ia masih ‘bodoh’. Angka tiga puluh sudah menjadi keajaiban bila sudi menitikkan diri pada kertas ujiannya yang kini tidak lagi ia remas atau jadikan kapal-kapalan, tetapi setidaknya ada sedikit hal yang membuatnya bersemangat menunggu Sabtu. Menunggu waktu bisa mengobrol dengan Kak Cakra bagaikan penduduk dusun yang menunggu bibit-bibit yang kelak akan membentuk permadani kuning. Dan bilamana ia sudah cukup besar untuk lebih akur dengan istilah membolos, setidaknya satu hal yang pasti: Sabtu tak akan pernah masuk dalam daftar keabsenannya. Pikirnya, sekolah memang masih sulit, namun setidaknya tidak sepenuhnya membosankan lagi.

“Ei, Kak Cakra…” Aris membenamkan wajahnya setelah mengingat semua hari-hari menyenangkannya dengan sang lawan bicara. “Terima—“

“Hmm?”

“Ng—nggak ada. Eh, ayo kita main lagi!”

Sebentuk kurva kembali terlukis di wajah Kak Cakra; dan kurva itulah yang terus ia bawa hingga tiba saatnya ujian akhir. Hari itu Aris dan teman-teman dikagetkan akan kehadiran Kak Cakra di hari Rabu, usai ujian Ilmu Pengetahuan Alam. Semua spontan memeluknya, beberapa menangis ketika ia berkata Sabtu depan adalah Sabtu terakhirnya mengajar Aris dan teman-teman. Atas alasan apa, Aris lupa. Yang pasti ia tak datang dalam acara perpisahan Kak Cakra. Terlalu terpukul, mungkin. Ia sendiri tak bisa menjelaskannya.

Aris masih tak tahu ia harus menyesal atau tidak atas ketidakdatangannya hari itu.

Sekarang pun, tiga bulan setelah hari itu, ia masih tidak tahu. Setelah tiga bocah di hadapannya berkemas menuju rumah masing-masing, ia masih duduk di sana. Pola-pola aljabar tak lagi ia gubris. Melipat tangannya, ia lalu termenung akan gulita dan ketidakhadiran purnama. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya di mana Kak Cakra berada sekarang. Apakah ia mengejar mimpinya lagi menjadi polisi? Ataukah ia sedang berada di belahan bumi lain, mengobrol dengan anak-anak sepertinya? Ia tidak tahu. Hanya hela napas yang mampu ia suarakan sekarang. Aris melihat lagi sketsa wajah Kak Cakra yang ia gambar barusan, lalu menutupnya; menaruh sang jilid pencatat ke dalam ranselnya yang sudah berlubang di beberapa sisi, namun serasi dengan baju berantakan—Kak Cakra tak pernah menegurnya soal ini—dan celana biru yang ia kenakan kini. Ya, benar sekali. Seandainya saja Kak Cakra tidak pernah datang, mungkin ia bahkan tak akan pernah bisa—atau lebih parahnya, peduli—untuk mengenakan seragam barunya ini.

Rerumputan kini sudah ramai oleh suara jangkrik. Aris tahu sudah saatnya ia pulang. Dan perjalanan pulang hari itu ia bukukan dalam renungan dan tangkis pandang pada segerombol bintang. Seandainya saja Kak Cakra masih berkunjung ke sini, ia pasti akan menanyakan arti-arti dari bintang-bintang yang sekarang tengah menari-nari di atas sana.

Dan sesampainya di rumah…

—Aris terhenti. Ada sebuah kejut yang memeluknya begitu melihat sepucuk kertas menyembul dari dalam kotak suratnya yang sudah ramai ditutupi karat. Menggosokkan tangannya untuk menghilangkan gugup, ia pun meraih lembar rapi itu perlahan. Disimaknya bentuk tulisan yang tergores di halaman depannya; dan sebentuk kurva—yang seakan ditularkan Kak Cakra sejak entah kapan padanya—terbentuk dengan mudahnya. Kau tahu, hari ini ia benar-benar bersyukur ia memutuskan untuk tak sepenuhnya memelihara persepsi ignorannya yang delapan bulan lalu masih menguasainya; sebab jika tidak, maka malam ini, ia tidak akan bermimpi indah. Salah satunya mengimpikan kalimat yang menyapanya kembali bagai angin bukit yang hangat—tempat ia dulu senang bermain futsal dan tertidur di atas lumpur bersama sosok terlekat.


‘Untuk muridku yang paling semangat.’

.


April 20, 2015. respon terhadap sebuah sayembara menulis. belum bisa berjaya, tetapi setidaknya menjadi motivasi untuk mengangkat pena lagi. :)