Pagi ini,
aku membolos kelas, setelah beberapa lama tidak pernah membolos. Berada di kelas di mata kuliah tersebut—audio visual, atau mungkin istilah lebih awamnya, film—sangatlah membosankan. Banyak ilmu yang jauh lebih banyak didapat dari luar. Pengalamanku di dalam kelas tak pernah lebih dari mengguratkan coret pada buku sketsa atau mengejar tugas mata kuliah selanjutnya. Oleh karena rutinitas yang demikianlah, aku memutuskan pagi ini untuk membolos mengejar menyunting ujian tengah semester untuk mata kuliah yang bersangkutan. Pikirku, bisa mengelarkannya sebelum mata kuliah berakhir di jam sebelas, namun ternyata tidak bisa. Ya, sudahlah. Toh sekelas juga ternyata tidak ada yang sanggup menjawab tantangan dosen untuk mengelarkannya lima hari sebelum hari seharusnya tugas tersebut dikumpulkan. Aku dan tim sendiri baru berhasil mengelarkannya lima belas menit yang lalu. Sesuatu yang sebenarnya cukup lumayan, kurasa. Ah, dosen mata kuliah film semester ini sedikit, maaf, membosankan dibanding semester lalu yang luar biasa seru. Aku hanya berharap kelompok yang sangat baik untuk menerimaku di dalamnya semester ini tidak akan mencoba menyanjung sang dosen dengan membuat film-film ala sinetron favorit sang dosen untuk ujian akhir.
Siang ini,
aku pertama kali melihat Andreas menitikkan air mata. Hanya aku yang melihat; dan itu wajar, karena aku sendiri melihatnya secara diam-diam ketika ia menempelkan kepalanya pada meja, beberapa detik kemudian mengelap kacamatanya yang sedikit berembun. Siang ini ia hanya menatap ponselnya dengan gores wajah yang muram. Aku menanyakan alasan apakah ia perlu bercerita dan ia menunjukkan sebuah foto di ponselnya padaku. Aku menenggak ludah, lalu menepuknya pelan sebelum wajahnya ia sandarkan pada meja sekarang. Hanya menautkan senyum tiap kali ia menengok kecil, adalah tegur sederhana darinya yang meruntuhkan suasana canggung. 'Ton, nggak makan?' Aku menggeleng, lalu mengembalikan pertanyaannya. Sekilas aku teringat akan angin serupa yang menembus pundakku cepat. Terakhir kali adalah ketika Pak Sigit menyapaku ceria sehari setelah kejadian sedih menimpa keluarganya. Aku tetap tak habis pikir. Manusia itu bodoh karena mereka senantiasa berlomba-lomba memenuhi skala kewarasan yang mereka ciptakan sendiri, seharusnya begitu; tetapi, masih saja ada manusia-manusia yang memilih untuk menjadi tidak waras. Dan di satu sisi, aku mengerti dan, mungkin, kagum akan manusia-manusia tidak waras tersebut.
Sore ini,
aku bergegas menuju lantai delapan menyusuri tangga demi tangga. Sebelumnya ketika hendak meninggalkan kelas, aku berpamitan dan menepuk pundak Andreas dengan logat yang ceria. Setidaknya ia sudah kelihatan jauh lebih baik. Sampai di kelas pengajaran, aku pun bersenang bersama anak-anak yang datang hari itu. Lalu salah satu dari mereka, Vina meminta izin untuk memotretku; yang berakhir menjadi fotonya dengan kami semua kakak-kakak pengajar kelas mereka hari itu. Aku sangat senang Vina dan kawannya, Azzam, masih betah belajar di sini bahkan setelah nyaris dua tahun. Mudah-mudahan mereka akan terus lanjut.
Malam ini,
aku tiba-tiba ingat akan Imam. Ia tak pernah lagi membalas sms-ku sejak entah kapan. Aku penasaran apakah pesanku untuknya dan teman-teman agar semangat di ujian nasional yang tengah ia jalani sekarang bahkan terbaca olehnya. Mungkin aku akan meneleponnya lagi di akhir minggu untuk memastikan. Aku mengecek lagi jadwalku, lalu tersenyum. Mungkin aku akan menyempatkan diri mengajar lagi di himmata atau sekar satu hari senggang di antara ujian-ujian. Bahkan, jika dipikir lagi, bukan hanya itu. Banyak sekali yang ingin kulakukan. Beberapa lomba kecil, juga sejumlah rekaman yang menunggu disunting. Aku sudah tak sabar menyentuh mereka, terutama rekaman anak-anak bimbel kelas sembilan. Duh, apakah bahkan sempat? Aku ingin melenyapkan ludo dari peredaran dunia tiba-tiba rasanya; namun, ya, seperti apa yang sering kukatakan pada anak-anak, tidak boleh mengeluh, harus semangat. Dan kurasa, itu yang harus kulakukan sekarang.
Ya, begitulah.
Hanya sebentuk permintaan maaf atas racauan tengah malam.
Seperti yang sudah tertera, salahkan 10:42 yang telah memulainya, atau salahkan 11:41 yang memutuskan untuk mengakhirinya.
.
April 15, 2015. sebuah penyalahan pasif akan sebuah rentang waktu. kontemplasi dadakan yang membuat lamun dan angan pucat-pasi dan menggebu.