September 24, 2015

Dunia di dalam Kertas.


tonton juga kisah balik layarnya di sini. :)
.
.
.

Setiap orang punya kenangan...

Kenangan yang senantiasa teringat karena ada sesuatu yang istimewa darinya.

Karena itulah, aku ingin memberinya banyak kenangan-kenangan indah. Karena dengan begitu, mungkin suatu hari, ia akan sadar bahwa dunianya tidak harus sebatas sebuah 'dunia di dalam kertas'.

.

Namaku Reagen. Dan layaknya puisi yang pernah kudengar dari seorang penyair jalanan, "Hidup adalah tentang seberapa banyak senyum yang bisa kauberi."

Dari situlah, aku yang tak biasa tersenyum ini pun mencoba belajar untuk tersenyum.

Satu lagi, aku paling suka membukukan senyum-senyum yang kulihat. Yaa... Nggak harus senyum-senyum yang kelihatan langsung, sih, kalau kalian ngerti apa yang kumaksud. Karena itu juga, nggak heran kalau aku sangat suka jalan-jalan ke berbagai tempat. Karena dengan bepergianlah, aku benar-benar bisa membukukan lebih banyak cerita dan senyum.

Dan hari ini pun, aku akan berkeliling lagi mencari senyum-senyum yang bisa kubukukan di buku sketsaku.

.

Kehidupan di kota ini benar-benar menarik. Orang-orang berlalu-lalang di mana-mana: bergurau, bersantai, bermain bersama melupakan rutinitas yang mungkin menjenuhkan. Satu hal yang paling kusenangi adalah apabila ada senyum yang tertaut di wajah mereka. Sesuatu yang karena jarang kutemui menjadi sangat berharga.

Aku selalu kagum pada mereka yang selalu menyempatkan diri untuk memasang senyum. Menurutku, tidak ada orang yang lebih menawan dari orang yang tersenyum.

Dan aku akan lebih kagum lagi pada mereka yang, dengan gilanya, bisa membuat orang lain yang bahkan belum mereka kenal tersenyum. Termasuk aku.

.

Dan di suatu senja, aku kembali menemukan sebuah senyum yang indah.

"Hai."

"H-hai."

.

Namanya Mita. Sasmita, lengkapnya. Dia gadis yang cukup aneh, namun menarik. Meski baru pertama kali bertemu, dia banyak bertanya soal gambar-gambarku. Yaa... Nggak banyak-banyak banget, sih. Cuma yang pasti, tiap kali dia bertanya, aku selalu teringat akan senyumnya.

Buat aku, senyum Mita itu hidup. Sama kayak senyum-senyum orang yang sudah pernah aku gambar sebelumnya.

Aku sendiri selalu senang tiap kali bisa bertukar cerita dengan orang lain. Dan Mita bisa dibilang, sejauh ini, orang yang paling tertarik dengan cerita-ceritaku.

Sore itu, aku pun mengantar Mita kembali ke rumahnya, meskipun dia kelihatan sungkan. Mungkin bisa menjadi ucapan terima kasihku atas pertanyaan-pertanyaannya yang cukup menyenangkan.

.

"Makasih, ya, Kak."

"Santai aja."

"Eh... Kapan-kapan, datang lagi, ya, ke tempat itu. Aku... Aku ingin melihat gambar-gambar Kakak lagi. Eh, terima kasih."

.

Sejak saat itu, aku jadi makin bersemangat membukukan senyum-senyum di tempat-tempat 'hidup' yang kuketahui. Mita bilang, melihat dan mendengar cerita-cerita tentang gambarku, membuat dia merasa melihat orang-orang dan pemandangan di dalamnya secara langsung.

Aku baru pertama kali mendengar komentar yang menggugah hati begitu. Haha. Rasanya ingin menunjukkan sisi indah kota ini ke dia lebih banyak lagi. Apalagi, dia bilang, dia belum pernah melihat semua ini sebelumnya. Dia sih pernah bilang kalau dia nggak pernah ninggalin wilayah tempat dia tinggal sebelumnya. Nggak pernah bertualang jauh, lah. Atas alasan apa, aku juga nggak tahu. Aku belum sempat menanyakan.

Tapi yang pasti, untuk sekarang, lewat gambar-gambarku, aku pengen nunjukkin ke dia apa dunia itu sebenarnya, walau mungkin hanya sebatas 'dunia di dalam kertas'.

Mudah-mudahan, itu sudah cukup untuk membuat dia tersenyum.

.

"Jadi, hari itu, ada dua orang anak kecil. Mereka lagi main layangan. Tapi layangannya, yaa... setengah rusak kayak gini, lah. Cuma menurut aku itu keren, sih, karena mereka bisa senang-senang dengan layangan yang setengah rusak."

"Yaa... Standar kebahagiaan orang sekarang sih beda-beda. Kalau kata orang dulu, sih, 'Harusnya bahagia itu sederhana,' ya."

"Kak Reagen bijak seperti biasa, ya."

"Biasa aja, kok, Mit. Itu cuma pendapat pribadi aku."

"Kak Reagen, boleh aku tanya sesuatu nggak?"

"Boleh. Kenapa?"

"Menurut Kak Reagen, standar kebahagiaan itu standar seperti apa?"

"Hmm... Standar kebahagiaan, ya?"

"Buat aku, ngelihat senyum-senyum mereka, bisa ngegambar mereka, dan melihat betapa besarnya hati mereka itu... Aku udah senang banget gitu. Karena orang lain udah bilang dunia ini... hancur, lah, gitu. Dan karena senyum-senyum mereka, aku bisa bilang dunia ini indah banget."

"Mit?"

"Maaf, Kak Reagen, jadi melamun."

"Kamu nggak apa-apa, kan?"

"Aku nggak apa-apa, kok."

"Baguslah, kalau gitu. Kalau gitu, aku boleh nanya juga nggak? Dulu kamu pernah bilang, kalau kamu nggak pernah pergi dari tempat ini. Emangnya kenapa?"

"Maaf, Kak Reagen."

"Kenapa?"

"Aku... Aku harus pergi dulu."

"Mit. Tunggu, Mit. Mita!"

.

Aku nggak tahu apa yang salah dari pertanyaanku hari itu, tapi aku benar-benar berharap bahwa Mita akan baik-baik saja.

.

Hari berikutnya, saat aku datang ke padang rumput, Mita nggak ada di sana. Juga hari berikutnya. Berikutnya... Berikutnya...

Lama-lama aku makin merasa kalau dia memang nggak pernah datang lagi. Semua sejak hari itu. Hari di mana aku menanyakan alasan dia nggak pernah berkelana dari tempat ini.

Tunggu dulu... Itu, kan...

"Mita!"

.

"Ayo diminum, Mit."

Setelah lama tidak bertemu, sore itu, Mita banyak bercerita. Ilalang yang biasa menguping pembicaraan kami kini berganti menjadi butir-butir cahaya yang menyusup dari jendela.

Senyum Mita masih belum kembali pada wajahnya, tapi hari itu, aku menjadi tahu alasannya, termasuk alasan ia tak pernah pergi.

Ia bercerita bahwa waktunya sudah tidak lama lagi, juga bagaimana ia sangat takut untuk mengenang. Semakin banyak kenangan indah, maka ia akan semakin sedih, semakin tidak rela untuk meninggalkan dunia. Itulah juga mengapa ia sangat menyenangi gambar-gambar yang kubuat. Karena lewat mereka, ia dapat melihat keindahan dunia tanpa benar-benar merasakannya.

Saat itu, aku benar-benar tak mampu berkata-kata. Aku hanya tahu, aku harus bertingkah biasa. Sebab hanya dengan begitu, Mita benar-benar dapat menerima kenyataan yang, sejujurnya, juga kuharapkan tidaklah nyata.

.

"Terima kasih, ya, Kak Reagen. Aku sudah tidak apa-apa."

.

"Kak Reagen. Terima kasih, ya, untuk hari ini."

"Iya. Santai aja, Mit."

"Lain kali, kita ketemu di tempat itu lagi, ya, Kak."

"Oke. Aku balik dulu, ya."

"Iya."

.

Sejak kemarin, entah mengapa perkataan Mita terus mengganjalku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Mita. Tentang rentang waktu yang dia punya dan tentang ketakutannya untuk mengenang.

Membiarkannya begini... apakah benar?

Aku harus melakukan sesuatu.

"Mita?"

Ya. Aku nggak boleh ragu.

.

"Mit."

"Ya, Kak?"

"Ayo kita pergi."

"Pergi ke mana?"

"Melihat dunia. Ini saatnya kamu keluar. Melihat dunia yang sesungguhnya, bukan hanya 'dunia di dalam kertas'. Karena sesungguhnya, dunia di luar jauh lebih indah."

"Tapi, tapi, Kak, kau tahu kan keadaanku?"

"Jangan takut, Mit. Nggak ada yang perlu kamu takutin."

"Tapi, Kak, Kakak tidak akan mengerti perasaanku. Bayangkan, kau berada di dalam kereta dan kereta itu pasti akan jatuh ke jurang. Untuk apa aku melihat keluar?"

"Kakak tidak akan pernah mengerti."

"Maaf, Kak, aku tahu dunia itu memang menyenangkan, tapi aku tidak bisa. Cukup melihat gambar Kakak saja sudah membuatku senang. Terima kasih untuk selama ini."

"Mita. Kalau begitu, aku akan membuatmu yakin."

"Jangan, Kak. Sampai jumpa, Kak."

.

"Mit..."

"K-Kak Reagen?"

"Mit... Mita."

.

"Kak Reagen!"

.


Setiap orang punya kenangan.

Kenangan yang senantiasa teringat karena ada sesuatu yang istimewa darinya.

Dan dari sini, aku akan memastikan, Mita mendapat banyak kenangan indah sebelum hari terakhirnya. Sebab dialah yang membuatku sadar bahwa kenangan terindah adalah apa yang justru tidak mampu dibukukan di dalam kertas.

 .

"Hidup adalah tentang seberapa banyak senyum yang bisa kauberi."

.
.
.

project done on July 4, 2015.

thanks for the hard work, Kacang Goreng Production! thanks, Kak Egen! am honestly really happy with this project and am hoping to be able to make more stuff like this in the future. :)