September 3, 2015

k e l u m i t

Ada sekelumit abstrak di kepalaku; dan aku mencintainya, sungguh, meski jarang mengungkapkannya lewat laku apalagi sentuh.

...

Entah mengapa, di saat-saat bising memudarkan diri seperti ini, aku kerap kali ingin meniupkan huruf-huruf kelabu atas rasa yang tersemai jauh di kalbu. Dan entah mengapa, aku tiba-tiba teringat surat-surat cita-cita yang anak-anakyang sekarang sudah menginjakkelas sembilan tulis lebih kurang sembilan bulan lalu.

Aku ingat betul hari-hari mengajar mereka hanya sendiri. Meminta mereka menulis surat dan membacanya dengan lekat. Begitu kewalahan, namun begitu menyenangkan. Sekarang ketika sudah bisa ada sepuluh guru dalam kelas, aku merasa lega. Akhirnya mereka bisa belajar dengan lebih baik karena lebih banyak pendamping. Walau, di satu sisi, aku tak dapat berbohong bahwa aku agak merindukan masa-masa kekurangan relawan, baik di awal tahun ini, namun lebih lagi di akhir tahun lalu.

Ada sekelumit ego di benakku; dan aku mengkhawatirkannya, sungguh.

Aku sangat ingin memukuli diriku, mengambil secarik kertas yang nantinya akan kujejalkan pada lensaku yang mulai rabun, dan menuliskan:

Atas dasar apa, kau merasa bahwa anak-anak itu adalah anak-anakmu?

Mungkin inilah masalahnya. Aku agak mudah menaruh hati pada segalanya, lalu merasa memilikinya.

Bila logis adalah apa yang mengontrol pemikiran-pemikiran yang sebenarnya agak tak pantas dikatakan terpola, bukankah pada akhirnya manusia bisa diibaratkan subjek semata? Tidak harus aku. Ada ratusan ribu kakak lain yang bisa mengajarkan mereka; ratusan ribu yang jauh lebih pintar, jauh lebih menyenangkan dariku. Bedanya, hanya pada tempat dan waktu. Karena dulu yang setia mengajar mereka, karena yang paling sering mengeluarkan mereka dari rutinitastestimoni, surat cita-cita, surat hari ibu, foto kelasbukan berarti memiliki mereka.

Namun, terkadang, aku tak habisnya berpikir apakah sudah cukup yang kuberikan pada mereka; atau apakah ketua divisi edukasi tahun depan akan memperbolehkanku membuatkan kenang-kenangan pada merekacukup buku tahunan, video, dan sesi perpisahan, itu sudah membuatku sangat puas.

...

Belakangan, teman-teman di komunitas sosial ini banyak memperbincangkan relawan-relawan baru dan cara-cara memberdayakannya. Terhadap itu, aku mengangguk kecil, namun tak mampu membohongi diri bahwa aku merasa agak bosan terhadap setiap upaya perumusan sistem yangmenurutku, seharusnya kelumit, namun entah mengapasenang sekali dibuat rumit. Delapan bulan di divisi ini dan aku masih saja bodoh sistem, bodoh organisasi. Banyak belajar, memang, tapi tetap bodohdan masih sedikit apatis tiap melihat riuh emosi dalam rapat-rapat evaluasi. Jauh lebih baik dibanding tahun lalu, setidaknya. Tahun ini adalah tahun yang tenteram; dan ini membukakan mataku akan berbagai hal baik selain anak-anak.

Tetapi, tetap saja, apabila konsen awal otak yang mungkin sedikit gegar ini adalah pada anak-anak, pada akhirnya sulit untuk memikirkan sistem. Rapat menjadi sangat membosankan. Hanya jam tiga sampai jam lima saja yang paling menyenangkan, terutama di hari Kamis. Lebih menyenangkan bersama anak-anaksesuatu yang baiknya tidak diucapkan di publik, sebab terdengar egois dan lumrah di saat yang bersamaan.

Dan sekali lagi:

Atas dasar apa, kau merasa bahwa anak-anak itu adalah anak-anakmu?

...

Dua minggu yang lalu, Holis bercerita tentang hari-hari pertama ia mengikuti bimbel di tempat ini. Tentang orang-orang yang tak ia ingat namanya. Tentang tigasemoga di tahun depan bisa genap jadi empattahunnya yang manis. Dari baju putih merah hingga tahun terakhirnya memakai putih biru sekarang. "Kak, di akhir tahun, kita bikin tukaran kado yuk buat perpisahan." Aku hanya termenung dalam gelagat riang yang terlalu malu kutunjukkan di depan mereka.

Terkadang aku merasa agak tidak enak dengan ketua divisi edukasi tahun lalu, Kak N. Ia sangat pandai sistem, pandai organisasi. Ia bisa fokus pada relawan, fokus pada sebuah template perkembangan anak. Di sisi lain, aku sangat tidak mahir segala hal ituironisnya, agak apatis, bahkan. Pemikiranku terlalu kelumit; dan aku tidak tahu apakah itu salah atau tidak apa-apa. Aku sangat bosan dengan sistem, bosan dengan aturan-aturan yang senang sekali kulanggar.

"Mulai sekarang, kalau ada yang sudah nggak masuk empat kali, langsung kita coret namanya," kata Kak N. Aku mengutarakan sedikit pertidaksetujuan yang ragu. Maksud hati, ingin mendiskusikan dulu. Kali ini aku ingin menghindari kelumit yang berdiam di otakku untuk mencuarkan ego seperti bulan Juli lalu. Semester lalu, kami bertujuh sudah sepakat, namun pada akhirnya batas absen yang lima pun aku manipulasi menjadi delapan atau tujuh. Duh, aku benar-benar ingin memukuli diriku.

"Nanti semester berikutnya, kayaknya kita lebih baik nggak ada lagi kelonggaran. Kalau dia nggak bisa daftar ulang ya udah dia nggak daftar ulang. Kasih kesempatan ke yang baru," kata Kak N di hari lain. Terhadapnya, aku masih terdiam. Salah sekali aku mengambil tugas penolakan di meja depan Juli kemarin. Demi apa pun, aku tak sanggup menegakkan aturan. Aku terlalu tak cocok berorganisasi, sungguh.

Kak N adalah orang yang pengertian. Mungkin ia akan paham apabila aku menceritakan tentang Risky yang tiga pertemuan ini tak pernah absen, atau tentang Zaurgi yang sempat menatap kosong pada karpet biru yang ia duduki"kalau kamu memang masih mau les, pasti kakak-kakak usahain, kok", atau tentang anak-anak lainnya yang diam-diam kuketahui tak bisa mendaftar lagi namun kami loloskan diam-diam (aku tak dapat memungkiri aku kadang tersenyum bila melihat mereka ada dalam barisan sebelum naik ke kelas). Yang teringat lagi adalah Alfito. "Itu yang saya khawatirkan, Kak," kata ayahnya dulu. "Dia ini orangnya pemalu, nggak gampang bergaul. Makanya saya lesin di sini dengan harapan bisa bergaul. Nggak perlu nilai bagus, yang penting gaulnya dia aja." Aku rasa aku paham maksudnya. Alfito memang pintar, ia bahkan mengajari kakak pengajarnya akan materi yang ia kerjakan. Namun yang menghangatkan hati kemarin adalah fist bump yang ia tawarkan di tangga turun pulang. Aku membalasnya dengan berjuta perasaan lega. Seorang Alfito yang kata ayahnya tak bisa bergaul sama sekali bisa memberikan kepalan tangan yang agak personal seperti itu. Pikirku, ada gunanya juga ternyata menjadi orang yang sangat tidak pandai menegakkan aturan terkadang.

...

Belakangan ini, aku tak dapat memungkiri bahwa aku sempat lagi mempertanyakan ruas-ruas alfabet balasan atas penawaran yang cukup mengejutkan tahun lalu; yang mungkin agak tergesa-gesa kubalas dengan anggukan. Jika ditinjau lagi, masih banyak sekali orang yang lebih berbakat, lebih berpengalaman, dan lebih punya alasan mulia. Karenanya, aku kembali berpikir, jika bukan aku, harusnya semua lebih tertata sekarang. Sebab pada akhirnya, seberusaha apa pun aku belajar menjadi penerap sistem, aku tetap saja terlalu mudah merasa bosan. Lebih senang mengajar. Lebih senang bertemu anak-anak.

Begitulah sekelumit ego makin mengerumun di benakku; dan aku mengkhawatirkannya, sungguh.

Ibarat debu yang menggantung di kerongkongan seperti luapan kata yang tak terpikirkan. Sebenarnya, aku tahu, aku seharusnya sibuk memikirkan sistem ke depannya, namun entah mengapa yang terpikirkan sekarang hanya gurau apa lagi yang akan tersisip ke telinga, atau senyum ramah, atau soal-soal sulit yang membuatku dua tahun ini dekat dengan anak-anak kelas sembilan. Demi apa pun, aku sangat ingin seseorang segera melempari kepalaku dengan bata. Atau lebih baiknya lagi, menghapus titel tak perlu agar aku bisa menjadi sebatas 'kak tony' hari ini. Ya. Itu akan jauh lebih menyenangkan.

"Kak, kalau soal yang ini gimana, Kak?"

Ah, rasanya seperti bunyi titik-titik air yang turun di akhir tahun; rindu yang begitu submisif dan teduh.

Kapan lagi aku bisa menjentikkan tuts demi tuts di bawah siraman mentari yang menyelusup dari lubang atap; atau tinta hitam dan garis-garis abstrak? Dan lebih dari itu, kapan lagi aku benar-benar bisa hanya datang untuk belajar bersama anak-anak?

Haaah...

Pada akhirnya, aku memang terlalu mudah menaruh hati pada segalanya. Dan untuk itulah, aku paham mengapa terhadap hal-hal yang penting bagi kebanyakan orang, aku sangat mudah merasa bosan.

Sekali lagi, kuterawang bisik-bisik kecil dari terang alam dan pijar bohlam yang menyatu mengisi ruangan. Di situ napas terhela. Setengah dua belas. Sudah saatnya untuk berangkat, membuang pemikiran tentang apa yang seharusnya dan bagaimana yang seharusnya itu sulit menjadi bagian dari sebentuk 'aku'.

Tapi tidak apa. Pada akhirnya, hari ini pun aku akan bertemu dengan anak-anak. Hanya perlu memikirkan dua jam yang begitu ekstatik, juga seruan dan panggilan yang membungkusku dalam kesenangan yang pasif: "Kak Tony! Kak Tony!".

Dan di situlah, aku benar-benar merasa tak perlu lagi menulissebab bila menulis membantuku menemukan diri, maka di saat-saat seperti ini aku tak begitu memerlukannya; tidak peduli lagi akan entitas, apalagi horizon pola pikir yang gagal termanifestasi.

Di akhir cerita, aku yakin, kelumit yang kini terduduk manis dalam bingkai memori akan menyapaku lagi di jam tiga sore hari ini. Pasti.

Dan di sanalah, aku benar-benar merasa hidup kembali.

...

September 3, 2015. kesiangan, jadinya meracau alih-alih bertualang, merumuskan kelumit yang berdiam di kepala yang belum dibasahi. bersiap untuk bertualang lagi pukul tiga nanti. :)