Showing posts with label kontemplasi kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi kehidupan. Show all posts

November 28, 2020

menutup.

hampir dua tahun sudah semenjak terakhir menulis di sini. sekarang dua puluh lima dan kutip kisah lama seakan gelitik yang menghibur pada serpih waktu yang entah mengapa tiba-tiba terluangkan untuk menjenguk masa lampau meski barang sesaat.

dan dari semua itu, jutaan gugus alfabet yang terlantarkan. lalu kelip ingatan yang terbiar dan pelan-pelan buyar tanpa pernah tercatat dalam frasa. dan yang paling tentu, letup aksara yang masih saja berdiam dalam ruang-ruang tersembunyiuntuk menjadi entah, juga hal-hal yang tidak dimengerti.

pada akhirnya, dua puluh lima bagai kilas kegagalan dan kekhawatiran yang mungkin tidak pernah perlu. dua puluh lima secarik ragu antara membuka dan menutup. di antaranya menutup kemungkinan-kemungkinan terburuk dan belajar untuk tidak takluk pada ketakutan untuk menjadi apa-apa yang masih memeluk dalam sunyikeping diri yang sejak awal (andai aku lebih cepat menyadari) selalu layak untuk dipeluk kembali.

rapuh dan kabut tebal. dari apa yang tertangguhkan, kembali belajar berbicara.

tidak apa.

semua akan baik-baik saja.

.

.

.

memutuskan untuk "menutup" ruang kecil yang sudah menjadi teman bicara yang sangat baik (terima kasih!) sejak pertengahan 2014 ini.

setidaknya untuk sementara, dan setidaknya masih terbuka untuk diri sendiri jikalau beberapa tahun dari sekarang rindu untuk menulis dalam bahasa indonesia (sekarang percakapan-percakapan translusen seperti ini lebih sering tertulis di jurnal fisik dalam bahasa inggris haha).

pertama kali menulis (di blog pertama sebelum ini) sejak 2009. dan selain banyak membantu sedikit lebih menemukan diri, entah mengapa juga menjadi arsip beberapa ingatan penting. (di luar topik, tapi salah satu goal setidaknya mulai pertengahan tahun depan adalah untuk benar-benar merapikan arsip kenangan pribadi. terlalu banyak yang tercecer bahkan belum bisa ditemukan karena zaman dulu teledor sekali, tapi untungnya sekarang sudah lebih baik dan selalu berusaha memperbaiki haha)

tapi di luar itu, "menutup" ruang kecil ini dengan harapan untuk membuka lagi.

sekali lagi, terima kasih dan sampai bertemu. :)

December 19, 2018

televisi bosan dengan berita kita yang tak kunjung membaik.

tidak ada lagi air mata hari ini. semua sudah berganti menjadi dengki.

bahwa pada akhirnya kita hanyalah semacam alat tukar, dan bahwa menjadi manusiadengan segala keapaadaannyabukanlah hal yang wajar, semua menjadi sangat masuk akal.

aku tidak kunjung paham bagaimana kita masih dapat bahagia dengan kantung mata ketika sisa tabungan kita terlalu sedikit untuk membayar tagihan demi tagihan. aku tak pernah bisa benar-benar menyenangi uang; dan sekarang aku sendiri semakin mengerti mengapa.

tapi apa itusuka dan tidak suka kita terhadap sesuatuakan sungguh berarti?

kita hanya bongkah yang tak pernah mampu menjelma piranti. kita hanya bekas yang mencoba percaya bahwa ia dapat menjadi sesuatu, suatu hari. teriakmu? teriakkan lagi. dan terhadap segala yang sepertinya akan sia-sia, kita masih saja peduli.

tidak ada lagi air mata hari ini, tidak ada lagi air mata hari ini.

semua sudah berganti menjadi dengki. kata, manusia, dan segala seluk-beluk buruk rupa yang merumahkan diri di atas kepala.

kita yang dipaksa lupa siapa kitasekadar untuk meledak dan digantikan oleh kita-kita yang lainnya.

.

19 Desember 2018.

November 8, 2018

november rasa petasan.

aku ingin meledak.

kegagalan demi kegagalan dan sajakku semakin tidak enak dibaca.

dua puluh tiga dan aku masih memiliki cara-cara untuk bahagia. namun kembang api begitu bising. pun manusia semakin menyergapku dengan tanya: benarkah kita memang terlampau senang memelihara apa yang sudah sedemikian rusak? ataukah kegagalan yang membuat kita tak yakin bahwa kita mampu mengenalmenjadisesuatu yang lebih baik?

oktober rasa petasan; dan november memutuskan untuk melanjutkan.

aku ingin meledak. sisa-sisa tenagaku habis dalam kesia-siaan. aku ingin berteriak. aku ingin berlari meski aku tak tahu apa yang kukejar. aku ingin bermimpi meski ragaku terlalu lemah. petasan membakar; aku menyaksikan seluruh gamit tanganku menghilang ditelan masa yang tak kunjung membiarkanku merdeka. kegagalan lagi; dan sajakku sudah jadi seonggok sampah dan corat-coret yang mengganggu pikiran.

duar. duar. duar. 

ledakan demi ledakan.

aku lupa apa yang ingin kutuliskan. namun november rasa petasan; dan kepalaku kini sudah berubah menjadinya.

.

8 November 2018.

October 30, 2018

untuk apa lagi kita berlari?

aku ingin bepergian malam ini;

jupiter begitu kelabu, namun mungkin darinya pasifik bisa menjadi sebatas debu yang terlahap debu. mungkin begitu juga waktu; tapi kepalaku memaksaku berjalan tanpa teduh.

oktober terasa buruk tapi aku tak ingin banyak mengutuk. sisa-sisa demam dan rindu pada mimpi yang dipaksa redup bukanlah hal yang terlalu perlu; walau aku tak pandai berbohong dan masih tak ingin mendengarkan diriku yang berkata seperti itu—abai padanya yang terus mencoba membuatku tak menjadi aku; yang seakan tak waras untuk menjadi letih, yang bahkan tak pernah mengenali dirinya sendiri.

untuk apa lagi kita berlari?

sebab begitu saja, waktu pergi. dari segala bisu yang berbincang; dari segala bisik dan pejam. manusia semacam kebas yang berkejaran dengan jarum jam. aku punya banyak langkah pelan; aku masih memeluk halte dan hujan. lantas bagaimana mungkin aku tetap perlu lengang untuk sesekali tersengal?

kedip, lalu ingatan atas lelap berkepanjangan yang mengusik. akhir pekan adalah kesementaraan yang perlu kita rayakan sembunyi-sembunyi. kenakalan; betul bahwa kita begitu senang melalaikan kewajiban untuk sekadar menjadi rapuh. langkah-langkah sepatu. aku ingin bepergian sebab aku lebih senang kabur; batas sejenis lekas yang tak pernah ada, gesit dan ikatan dan segala yang tak pernah mampu dimengerti.

lucu sekali. kita tak kunjung berhenti.

.

30 Oktober 2018.

June 30, 2018

aku sempat melihat sekilas bayangan juni.


lalu juni pamit; dan kita hanya sebatas debu yang tak ingat ia sapa ketika halunya meringkuk bersama letih sinar tepi jendela. juni seperti hamparan makna dan kita abjad-abjad yang terlewat.

aku masih bingung, bagaimana kita masih juga rikuh; bahwa kita pernah menjadi sesuatu: sendu, pun segala yang tak mampu kita banggakan.

malam ini, aku bertemu pantul; ia semacam gugup dan riuh gelagat yang tak perlu. sengaunya begitu gaduh dan bayangnya begitu buruk. ia dan juga rekam tentang ia yang ia bungkam di masa lalu.

mengapa kita bisa menjadi begitu dungu? mengapa kita masih tak ingin mabuk?

kupikir aku butuh tidur, namun semesta masih ingin bercakap-cakap denganku. aku dan ia dan kita dan ia yang ia bungkam di masa lalu.

ia dan setumpuk kegilaan dan kerentanan yang mulai tak mampu ia pahami; dan aku yang masih mencoba untuk tak membenci: tentang bagaimana ia pernah menjadi, pun kini.

"aku baik. bagaimana kabarmu?"

"tidak apa. semesta sedang lucu-lucunya. aku ingin belajar tertawa."

"berbaiklah pada ia."

"aku tahu. ia dulu pernah menjadi tawa yang tak tertawa; lama, lalu berubah aku: tidak. ia ingin belajar tertawa. aku ingin belajar tertawa. pada berbagai lain, sudah. pada kebodohan diri kita sendiri, sukar. ya... semesta memang sedang lucu-lucunya, bukan?"

"untunglah begitu banyak orang baik."

napas lega sesaat; senyum lepas.

"...ya."

lalu juni pamit.

30 Juni 2018.

June 6, 2018

tidak ada lagi sajak baik malam ini.

dua puluh dua; dan surat kabar yang tak pernah terbaca semacam penyadar bahwa kata-kata sudah berkali-kali gagal sebelumnya. remah-remah aksara dan udara yang lepas dari huruf. manusia sebatas lintas lalu yang tak perlu, namun terhadapnya kita masih juga acuh.

aku begitu ingin menulis sajak baik, namun "maaf, apa adik punya uang? saya ingin pulang. saya habis kabur. saya habis kecopetan." sewaktu-waktu kita berlutut di jalan, lalu "makasih, bang." senyum, namun apa lanjutnya?

"sudah tiga tahun nggak ada guru matematika SMA." "murid-murid kita, capek-capek kita sekolahin sampai kelas 4, kelas 5, eh... berhenti, nikah." "dulu saya putus gak tamat SMK. nyesel ke depannya susah banget cari kerja."

.
.
.

"bingung sama itu anak. waktu itu ketemu di jalan. disuruh pulang nggak mau. nggak tahu maunya apa."

.

manusia sebatas lintas lalu yang tak perlu.

bukankah begitu?

.
6 Juni 2018.

April 14, 2018

betapa lucunya.

semesta menjengukku lagi malam ini. ia bertanya tentang kabar dan aku kehabisan suara untuk menjawab. namun aku tahu aku sudah punya satu kesimpulan: segala yang berubah itu niscaya, namun kita boleh membiarkannya berlalu pelan-pelan.

segala mimpi yang pernah berkibar, segala semangat yang pernah didengungkan; semua bisa saja pudar. kita bisa berupaya, namun tak akan pernah bisa memaksa. segala yang berubah itu niscaya. dan kita hanya manusia.

namun, tidakkah lagi betul bahwa segala yang berubah itu niscaya?

suatu hari, mungkin segala yang pernah akan berdansa dalam ingatan. mungkin segala enggan akan terkikis; dan benar kaulangkahkan sepatumu yang sudah entah pada ungkap yang pernah tereja. aku lelah menerka. segala yang berubah itu niscaya. aku ingin percaya.

tidakkah kau rindu pada bau seragam?

14 April 2018.

February 15, 2018

akhir-akhir ini, hujan datang rajin sekali.

Hujan di akhir Januari bisa jadi semacam petuah yang datang sembunyi-sembunyi. Hela dan henti, lalu ketukan pada peron aspal dan helm pengemudi.

"Kapan terakhir kau menanyakan kabar dirimu sendiri?"

Matamu sembab oleh ilusi perjalanan, namun kauyakin betul itu yang ingin ia sampaikan; atau otakmu telah rindu betul hingga ia mencoba untuk merekayasa segala abjad yang gagal tertranslasi di udara. Sedikit demi sedikit, kau semakin paham bahwa ketidakpahaman yang semula kaukhawatirkan tidak akan menjadi apa-apa; tidak ada yang pernah paham sejak semula, tidak ada yang tahu akan apa dan mengapa. Semua hanya menerka.

Kira-kira kapan lagi turun hujan? Kira-kira kapan lagi ia reda? Sudah berapa lama kita berpisah dari hari-hari bebas? Seberapa bisa kita merindukannya ketika kita sempat memakinya? Semua hanya mengira. Semua hanya menerka.

Aksara untuk kesekian kalinya tak mampu menjelaskan apa-apa.

15 Februari 2018.

October 23, 2017

perkara-perkara.

sebab kita tidak bisa terus-menerus memikirkan perkara-perkara yang kita sendiri tak pahami; seperti menangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

sebab kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
seperti mendengar desis cerutu yang disediakan persimpangan grogol—di mana lelap adalah teman yang kita tak pernah benar-benar peluk sebab kita tak pernah merasai tidur di jalan.
atau bisik-bisik pengap kopaja sepanjang slipi - rawa buaya;
atau cempaka timur dan segala persimpangannya yang bertengger di sebelah kemegahan.

aku pikir kita tidak bisa bahagia hanya berkawan dengan cita-cita yang muluk.
aku rasa kita perlu berhenti sejenak dan lebih memperhatikan deru napas kita.

atau mungkin juga tidak.

sebab hanya air mata yang pernah kudapati dari memikirkan udara-udara dingin yang menggerogot malam yang hendak berganti.
aku tak mengerti mengapa kita bisa bersedih atas tangis-tangis manusia yang ruas takdirnya tak pernah sepenuhnya berpapasan dengan kita sebelumnya.

seperti lintas lalu di sudut mata yang tengah menutup.
tawa menjadi kelegaan dan ringkas senja yang hidup,
sementara isak adalah apa yang bersemayam dalam debu; begitu mudahnya ia tertiup, mengaburkan kedip-kedip yang sebelumnya hanya paham akan riuh.

sebab sekali lagi, kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
lupa akan deru napas, hanya tahu akan cita-cita yang muluk.
kita lupa caranya tidur tanpa kepala yang mengawang pada gusar akan perkara-perkara yang orang-orang anggap tak perlu.

sejak kapan ‘tahu’ menjadi begitu kelu di persilangan kalbu?
aku kira ‘tahu’ ada untuk menyulut api pada gedung-gedung yang menutup-nutupinya dan sorot lampu bagi para pejalan kaki di pelosok.
apakah ‘tahu’ lantas menjadi abai seperti paling wajah dari lolongan maut yang kelaparan akan anak-anak yang lupa bersekolah?
apakah ‘tahu’ kini hanya sebatas lembar-lembar perpustakaan megah yang mengurung manusia dalam definisi ‘tahu’ yang selama ini ada?

sebab kita tidak lagi diajak memikirkan perkara-perkara seperti selimut dan pengap asap ibukota.

sebab ‘tahu’ yang kumiliki pada akhirnya hanya berakhir menjadi air mata.

tak ada paham baru yang singgah;
masih juga tangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

dan dari segala hal yang kita kira kita ketahui, mungkin sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa-apa.

.

Juni 2016.

September 29, 2017

12:14

Sudah genap satu setengah bulan aku dengan pandainya merawat kegagalan. Ia tumbuh subur di pekarangan belakang, memandikan ilalang dan gulma yang tak pernah berhenti merimbunkan diri mereka sendiri. Akar-akar mereka menancap tajam, melahap habis sisa-sisa beling dari cermin yang biasa kusapasekarang yang terlihat di sana hanyalah seonggok ketidaklayakan dan usaha sia-sia untuk percaya akan apa yang masih diam-diam kukejar.

Aku juga mulai bertanya-tanya bagaimana lelap tak lagi datang ketika ia adalah yang tak henti-hentinya kulawan dulu pada masa perkuliahan (yang sejujurnya kini menjadi agak kurindukan). Pukul tiga pagi aku akan tertidur untuk kembali terhuyung pada pukul yang tak pernah lebih kecil dari sepuluh. Dari situ, waktu lalu menjelma menjadi muntahan yang tak lagi penting hingga mampu teringat. Aku sempat berjanji untuk merampungkan sejumlah angan-angan (pun beberapa tulisan dan catatan perjalanan), namun rasanya roda itu kini berputar terlalu sendu; aus dan sama sekali lupa untuk melaju pada hari-hari tertentu.

Aku kecewa; dan baru detik ini aku benar-benar mengakuinya.

Dan sejumlah abjad-abjad lelah telah menjadi pengingat bahwa kekecewaan yang bergumul sekarang adalah serupa dengan kekecewaan pada masa kerja praktik dulu, bahkan jauh lagi sebelum itu.

Aku kira aku telah membuangnya jauh, namun nyatanya ia hanya terkubur. Sejumlah kesenangan dan perasaan ingin berjuang pada tahun terakhir perkuliahan telah membumbungkanku. Namun semua itu akhirnya perlu pudar dan dikesampingkan sejenak oleh tuntutan yang benarnya tak lepas dari standar-standar yang terlebih dahulu dibuat masyarakat. Aku menurut, sebab aku sendiri sudah lama paham; hanya baru kali ini betul-betul kehabisan alasan untuk menunda kenyataan.

Tetapi bukankah baik untuk akhirnya dapat (mencoba) menjadi manusia seperti pada umumnya, kau mungkin bilang. Namun tidakkah kau paham? Aku tak pernah pandai mengejar apa yang manusia umumnya punya, pun tak mahir melakukan apa yang manusia umumnya bisa. Lantas bagaimana aku harus bahagia?

Sebab tetap akan ada tagihan-tagihan yang perlu dibayar. Dan semakin aku mencoba memahami kewajiban yang tak kunjung dapat kukabulkan, semakin subur ilalang dan gulma menjadi-jadi di halaman belakang. Segalanya semakin mengingatkanku akan sejumlah kegagalan lain di masa lalu yang masih terpelihara hingga sekarang; pilihan-pilihan hati yang terasa benar namun nyatanya tak akan punya makna bila ditakarkan dengan uang, atau mungkin sekadar kemampuan dasar yang harus kaumiliki sebagai manusia pada umumnya.

Pikiranku mulai lelah dengan kepenuhannya sendiri. Ia lagi-lagi menolak untuk terlelap. Tak ada yang dapat dihasilkan dari bentrokan dan misil-misil imajiner, namun ia tak pernah mendengar; tak pernah belajar. Masih memikirkan lamaran-lamaran yang tak tergubris, juga tak bosan mempersalahkan nasib.

Mengapa kita perlu dilahirkan dengan kepala yang begitu berisik?

29 September 2016.

January 3, 2017

menyapa 2017.


halo, 2017. di sela-sela luang yang kubuat-buat di awal babmu, aku ingin pertama-tama mengecupmu dengan ribuan perasaan yang tak pernah perlu sepenuhnya kaupahami. sebab tahun ini aku merasai pijak kakiku kembali teguh; mempercayai bahwa setiap langkah akan menuju pada hal-hal yang akan kukenang bukan dalam sendu melainkan dalam rindu di kemudian hari. konyol, namun pelan-pelan aku belajar lagi untuk merakit mimpi. kali ini benar-benar, dan mungkin jauh lebih sederhana dibanding apa yang akan terlahir di dalam terkamu yang lirih.

kutitipkan sekumpulan harap padamu, 2017. harap yang seadanya; yang begitu entah, namun selalu kubisikkan diam-diam di kala senja menelisik pada inderaku yang semakin rabun. kutitipkan rindu juga pada kawan-kawanmu yang sudah begitu mendewasakan; yang, dari mereka, telah kupelajari bahwa hanya dengan menerima keberadaan rindu, kita baru bisa benar-benar berdamai dengannya.

terima kasih yang sebanyak-banyaknya, 2017. aku ingin memelukmu lekat sebelum aku gagal mengutarakan kejujuran selayaknya aku pada tahun-tahun sebelum. bahwa sesungguhnya hari-hari begitu membahagiakan dan kanak bukanlah satu-satunya waktu untuk tertawa dalam setiap lejang dan jatuh. juga bahwa ingatan tak perlu lagi menjadi akar dari ketakutanku. terlalu banyak hal yang nyatanya tak ingin dilupakan; dan karenanya ingatan sesungguhnya adalah kawan terbaik yang pernah kudapatkan.

juga untuk semesta, kukirimkan padamu sebentuk senyum tertulus. hanya sedikit untuk membalas kebaikanmu atas sekian banyak kejutan-kejutan lucu yang pernah kauhadiahkan untukku, tetapi mudah-mudahan untuk sementara cukup. sebab aku ingin terus belajar bersahabat denganmu, lewat sajak maupun jejak-jejak penjelajahan luar kalbu.

akhir kata, terima kasih, semesta, atas segala yang telah lalu dan apa yang menunggu. aku tak sabar untuk segera dapat mengecap sedemikian banyak petualangan baru yang telah kausiapkan untukku.

January 1, 2017 /drawing/ - January 3, 2017 /writing/.

December 26, 2016

untukmu, yang begitu asing.

.

Bisakah malam ini kita bertemu saja sebentaruntuk sekadar membicarakan jiwa-jiwa yang lapar, atau semacam tergusur bersama hembus angin yang kesepian? Aku tahu aku terlalu sering menyangkal, tetapi hari ini mudah-mudahan tidak.

Nyatanya aku telah gagal berbohong bahwa aku tak pernah perlu dituntun. Sebab aku pun masih bingung bagaimana aku mampu begitu setia memaksakan langkah-langkah yang lurus ketika seluruh kepalaku geming. Dunia seperti lintingan-lintingan abu yang masuk dalam cawan yang habis dalam kelap-kelip. Aku tak perlu alkohol atau petikan asapmu. Aku hanya perlu telinga yang tak akan pernah bosan mendengar syair-syair. Masih adakah kegilaan yang bertengger di rangkulan subuh dan gerak kota yang membenci sepi?

Bisakah kita bergurau saja sebentar? Aku ingin tahu apa arti subuh bagimu, juga alasan mengapa kita perlu tertidur untuk terbangun oleh riuh-ronta yang hambur. Kau bisa berdiri di ujung jembatan dan aku bisa memandang tubuhmu yang merentang dari kejauhan. Aku masih urung meloncat sebab manusia tidak dititipi sebentuk keajaiban bernamakan sayap. 

Dan aku akan ingat lagi bagaimana dunia cukup menjungkirkanku seperti sepeda yang jatuh dari titian benang yang begitu kasat mata. Aku bahkan tak bisa mengayuh sepeda di atas pejal jalanan. Kau akan tertawa atas kegagalan beruntun dan keraguanku untuk mencoba. Tetapi alih-alih, jika kau mau, aku bisa menggoes remah-remah huruf dari pekat udara. Mungkin kau pun bisa sabar-sabar mengayuh sementara aku mendorong dari belakang. Kau tahu itu akan lama dan melelahkan, namun itu semua tidak apa-apa.

Sebab kita tak akan pernah perlu paham akan waktu. Selepas letih, kau akan mengigau, sementara aku rebah menghitung pijar-pijar lampu yang semakin senjang. Purnama telah membentuk seonggok rasa yang janggal di pinggir rongga dadaku yang sesak. Aku ingin meneriakkan sajak-sajak yang kutulis untuk lenyap detik itu juga; atau barangkali menyesap ke alam bawah sadarmuya, mungkin itu akan membuatku sedikit senang.

Aku mulai sadar bahwa sejak dahulu aku telah terlelap dalam delusi-delusi yang entah apa. Aku butuh teman berbincang, tetapi mungkin juga tidak.

Begitu membosankan, begitu menyedihkan, mereka mungkin bilang. Tetapi aku telah terlanjur jatuh cinta pada ketidakbernamaan. Ingatan adalah alasan untuk terus berjalan ketika ia jugalah asal dari beban-beban yang sulit dilepaskan.

Sebab aku tak paham bagaimana aku bisa masih mengingat hujan deras dan bocah baik yang menumpangkan harap pada senandungnya di kopaja 88, atau bapak renta tuna netra yang bepergian sendirian hendak menuju halte Cawang, atau kuyup Tanah Pasir dan pria yang kesakitan setelah motornya menabrak bemo dengan naasyang, akan tawaran bopohan menuju apotek, hanya berujar, "Nggak apa-apa, masnya. Saya nggak ada duitnya. Duit tinggal segini buat makan istri saya." Dan sang juragan bemo yang serakah masih lebih mempermasalahkan ganti rugi dibanding sang pria yang hanya bisa terus memegangi lengannya sambil menahan sakit (sudahkah aku menceritakan padamu betapa muaknya aku pada dunia?). Manusia sebatas onggok napas dan perlintasan wajah yang tak sungguh-sungguh penting, tetapi mengapa aku masih mengingat?

Lalu bagaimana dengan mereka yang telah menjadi lebih dari sekadar nama?

Perlukah aku merangkul nostalgi pada lalu-lalang kota untuk berpura-pura lupa pada keinginan untuk menanyakan suatu kabar di ujung sana?

Apa harimu baik-baik saja? Apakah kau masih menyimpan mimpi-mimpi yang sempat menguar dalam cakap sederhana kita? Mengapa aku perlu tahu akan segala apa dan bagaimana? Ulah ingatankah?

Dan sekarang mungkin kau mengerti mengapa aku sesekali mengutuk ingatan.

Karena itu, bisakah malam ini kita yang begitu asing bertemu saja tanpa suatu alasan?

Sebab aku ingin tak lagi punya nama. Aku ingin mengajakmu mengigaukan semesta hingga fajar tiba; sisa-sisa percakapan yang akan selalu membekas tanpa kau pernah tahu siapa yang membisikkannya.

Dan untuk bola matamu, aku ingin menyisihkan percik-percik api dari abu kota yang selalu menolak memejam. Mungkin dari gedung-gedung yang satu per satu runtuh, akhirnya dapat kaupahami bahwa ingatanlah yang sesungguhnya telah menancapkan bayangan kita ketika kota ini sudah semakin temaram.

Mungkin malam ini kau bisa tertidur lelap dan terbangun dengan jawaban atas sejumput pertanyaan akan ingatan.

Dan setelah itu, mungkin kau bisa mengajariku agar aku akhirnya bisa paham.

.

December 24, 2016. catatan perjalanan - awal november hingga akhir desember 2016.

September 27, 2016

malam.

malam begitu melankoli. aku khawatir kepalaku kini telah menjelma malam. ia begitu takut namun begitu haru pada binar lampu yang membentuk lintasan nostalgis di bawah. sejak kapan kita bisa merindu selain pada sajak?

September 16, 2016.

September 22, 2016

catatan-catatan rindu di perjalanan.

.

Adalah kesedihan bahwa kita masih belum juga dihinggapi keberuntungan untuk mampu merekayasa kenyataan sepandai kita mampu memproyeksikan ingatan. Sejujurnya aku sudah lama sekali khawatir bahwa aku tak kunjung menjadi rabun seiring usia. Sebab bagaimana mungkin kita tak juga lupa akan perasaan-perasaan yang tidak perlu? Tentang ribuan manusia yang kita kenali sebatas wajah, tentang sejumlah mereka yang berubah menjadi nama-nama dan kisah-kisah, juga tentang mimpi-mimpi yang membias dalam lensa kaca.

Aku pernah ingat, waktu itu kusaksikan betul mimpi-mimpi yang habis digerus waktu. Aku khawatir aku sudah lupa apa itu mimpi hingga titik di mana aku tak lagi sanggup mengajarkannya pada anak-anak tanpa membohongi diri sendiri; atau mungkin mimpi hanyalah sebatas apa yang kembali aku reka seusai meliput mimpi-mimpi dari raut bahagia mereka setelah menuntaskan kewajiban sekolah.

Dan aku kembali bertanya, sudah benarkah aku selama ini bersekolah? Sebab aku sedemikian rindu, ketika waktu sedemikian luang dan mimpi sedemikian ringan untuk tinggi-tinggi diterbangkan. Kawan-kawanku akan berhura-hura pada guru-guru yang membebaskan mereka atas segala laku dan aku akan jengah lalu kabur membaca Chairil di sela-sela rak perpustakaan yang semakin lusuh. Ada rantai-rantai di kepalaku dan ada tanya yang menggebu.

Mengapa Chairil begitu jalang? Begitu jalang namun begitu benar: kontradiksi yang selama ini tak pernah diajarkan oleh tembok-tembok kelas yang dingin. Sejak itu, aku mulai tidak mempercayai apa lagi yang selama ini kuketahui. Aku khawatir bahwa banyak yang lebih dapat kupelajari di luar apa yang tertera di papan tulis dan buku-buku yang belum juga disubsidi.

Aku khawatir bahwa dari kesedikittahuanku, kekhawatiran inilah yang paling benar. Aku khawatir keinginanku untuk melompat dari pagar sekolah akan memenangkan hatiku. Sebab darinya, aku akan belajar patah hati. Akan wajah-wajah dan nama-nama dan kisah-kisah dan mimpi-mimpi yang membias dalam lensa kaca.

Tetapi hidup seperti apa yang tidak akan mematahkan hati kita sama sekali?

Hidup masih saja penuh oleh loncatan-loncatan dan ambisi-ambisi tentang masa depan. Memang busuk betul bahwa tak banyak sekolah yang mengajarkan akannya dan lebih senang melumpuhkan daya imaji dengan kode-kode angka penentu kepintaran. Tetapi mungkin sekolah hanya mencoba mengajarkan kita akan kenyataan.

Dan sayangnya kenyataan tak mengajarkanku untuk menjadi lebih dari sebatas angka atau kesanggupan-kesanggupan; seberapa pun aku ingin menjadi lebih dari itu. Hingga kembali terbesit sebentuk pertanyaan: mengapa kita harus terus mengekor pada hal-hal yang terlampau tentu? Mengapa tak pernah dianjurkan untuk mendahului tebak-tebak yang sedemikian kaku?

Aku lelah pada konsepsi hidup yang begitu sia-sia: menjadi kaya lalu membeli citra lalu mati tanpa pernah meninggalkan pun memahami makna.

Tetapi makna itu sendiri apa?

Kini aku menjadi bertanya-tanya. Aku begitu ingin bisa terus mengingat akan apa pun selain rasa, seperti manusia-manusia lainnya. Tetapi, entah mengapa, hanya kilat-kilat tak rasional yang demikian lekat di kepala. Pernahkah kita belajar memilah-memilah apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan kita? Tetapi, benarkah hidup hanya sebatas perkara untung dan tidak untung saja? Tidak adakkah makna?

Dan lagi-lagi, apa itu makna?

Aku percaya rasa telah membuatku terlalu pandai dalam menangkap segalanya. Rasa membuatku tak kunjung rabun seiring usia.

.

Bisakah aku melupa saja akan rasa?

.

September 14, 2016. ditulis pertengahan agustus hingga pertengahan september pada hari-hari yang berlainan. tentang catatan-catatan yang dibuat ketika rindu mampir di tengah perjalanan.

September 10, 2016

percakapan dalam kepala.

.

"Ton, kalau dipikir lagi, lo dari dulu anak baik-baik banget, ya. Pas sekolah juga gitu, kan, ya."

"...Mungkin."

"Nggak pernah gitu, bandel sekali, dua kali?"

"Waktu itu pernah bolos kelas, sih. Soalnya nggak ngapa-ngapain juga di kelas."

"Wiiih. Bolos! Cabut, gitu?"

"Iya. Ke perpustakaan. Baca-bacain sastra atau bantu-bantu dikit di sana."

"Hmm. Hidup membosankan amat, ya."

"Mungkin. Haha. Tapi gue bahagia, kok."

.

September 10, 2016. tentang dialog yang berputar-putar di ruang pikir. tidak penting, sungguh, tetapi setidaknya aku senang menuliskannya.

September 8, 2016

selamat pagi.

sebelum kata-kata gagal menemukanmu,
aku ingin terlebih dahulu menyapamu dengan sedikit kecupan manis dari ujung pena yang tak lagi kupakai untuk menulis.

sebab kudapati rautmu semakin lelah dan hatimu terkadang menipis.
entah mengapa kau tak pernah mendengar bisik kecilku untuk merelakan prinsip-prinsip dan gegar pikir yang kaujaga sejak pertama kali kau mengenal tangis.
sekarang aku jadi paham mengapa ayah dan ibumu memutuskan untuk menjagamu jauh-jauh dari dunia ketika kau masih kanak.
namun aku tetap tidak paham mengapa kau harus menjadi bengal dan berpikir bahwa dunia adalah tempat di mana kau layaknya berada.

kau yang pandai menghitung angka, namun tak serta-merta mengejarnya.
kau yang bahagia, seperti itu saja.

sebegitu menyenangkankah berteman dengan sengal napas dan kantung mata?

September 8, 2016.

August 6, 2016

August 1, 2016

.

Belakangan aku menjadi percaya bahwa semesta menitipkan rindu pada kias-kias jendela dan jingga yang menggeliat pada riak cangkir dan bising kosakata. Ada ketidakgenapan di sana. Ada redup kisah akan sejumlah temu yang menutup dengan gantungnya.

Dan dari situ kita hanya berpegang pada aksara-aksara yang pernah disuarakan. Sebab betul bahwa mereka yang menghabiskan waktunya merenung pada setiap jeda stasiun adalah mereka yang lebih pandai melukis angan dan delusi-delusi perjumpaan ulang yang entah bisa dan entah kapan; belum lagi akan.

Tetapi aku lebih senang berpikir bahwa abstraksi adalah awal dari pesan yang dapat semesta dengar. Itu pun, apabila ia memutuskan untuk mendengarkannya.

Sebab begitulah semesta; begitu adil, begitu paham akan apa yang harus dihadapkannya pada kita. Semesta adalah bagian dari jejak langkah yang sedang memijak dan terdeflasiseluruh gelak implisit dan potongan gerimis pagi hari. Semesta melipat seluruh keinginan, sementara waktu hanyalah ketidakpastian yang letal. Aku seperti membuat keputusan-keputusan yang terus-menerus kulanggar. "Satu stasiun lagi, satu stasiun lagi"dan seterusnya sampai sekarang.

Semesta gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu. Semesta bosan berbicara denganku lewat pintu kereta yang membuka dan menutup.

.

"Sampai kapan kau masih berteguh mencarinya?"

Aku tidak menjawab.

"Lagipula, untuk apa? Bukankah kau sudah tenang sekarang setelah tahu ia ada di tempat yang baik? Dan juga... bagaimana kau tahu bila ia masih mau menemuimu?"

Aku masih tidak menjawab.

"Bukankah manusia bisa berlaku seperti itu? Tidak ingin ditemui karena alasan-alasan tertentu. Kau harusnya paling paham itu."

"...Aku tidak tahu," jawabku lemah.

"Lalu?"

Masih jawaban yang sama.

.

Peron berikut menyambut. Pintu yang membuka, lalu jejak-jejak kaki dan bayangan yang berlalu. Namun tak pernah jejak dan bayangan yang tengah hinggap dalam benak. Kepalaku begitu ingin meledak, sebab kehampirtiadaan rasio membuat hati menjadi pemegang kunci segala keputusan. Pintu menutup beberapa saat kemudian.

Dan aku masih berdiri di sanaberdiam pada gerbong yang sama; abai akan pesan-pesan yang menolak masuk ke telinga.

Aku tak mengerti mengapa aku tak pernah dapat menurut pada petunjuk-petunjuk semesta ketika yakinku begitu bertentangan dengannya. Aku tak percaya pada diriku yang masih saja mencipta khayalan-khayalan semu. Aku sangat tak percaya, namun aku masih saja menemaninya mengejar suatu temuyang entah bisa dan entah kapan; namun terus mengharap pada sebuah akan.

Dan sampai sekarang pun, semesta masih saja gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu.

.
.
.

August 1, 2016.

July 28, 2016

beberapa kejengahan.

sebenarnya sempat ingin menuliskan tentang ini sedari bulan-bulan kemarin. sebab aku sendiri pun sangat tidak bangga pada umpat-umpat yang sempat beberapa kali menguar pada beberapa kawan yang tentu tak terlepas dari umpat-umpat rahasia mereka tersendiri. menuliskannya hanya sebagai kontemplasi analitik untuk pengambilan-pengambilan keputusan ke depan. sekarang, setelah pemikiran telah menjadi reda akan kernyit-kernyit pada dahi, mungkin adalah waktu yang lebih tepat untuk merekonstruksi ulang beberapa tanya di mana kejengahan berbasis.