Ada setumpuk pekerjaan yang belum selesai, namun aku masih sempat-sempatnya bersantai. Tidur enam jam, masih bisa ikut kegiatan organisasi, masih bisa mengajar di rumah singgah beberapa kali. Semua sungguh menyadarkanku akan kemalasan diri yang semakin menjadi-jadi.
Dengan mata yang mengerjap, aku mulai mengurutkan perkara dan kewajiban-kewajiban yang belum sempat terlaksana. Beberapa buah sketsa, sekumpulan tugas kuliah, dan utamanya portfolio yang, secara murni dan harafiah, masih kosong melompong.
Di minggu terakhir liburan, kepala jurusan menjentikkan otak kami—aku dan beberapa teman sejurusan yang mengambil program khusus—dengan sisi realistik industri dan tenggat waktu yang kami miliki sampai harus siap untuk terjun ke dalamnya. Singkat kata, dua bulan untuk menyiapkan ensiklopedi karya yang—diharapkan—bisa mendapat setidaknya sebuah lirik dari setidaknya satu saja studio atau creative agency.
Seorang teman di sesi pertemuan dengan kepala jurusan itu—sebuah sesi yang sedikit kuludahi dengan kutuk karena berpapasan dengan rencanaku mengajar di rumah singgah di minggu itu—mengutarakan pertanyaan yang cukup menarik. "Apakah kita kerjanya nanti boleh ke luar negeri?" yang lalu dibalas dengan kilat-kilat artifisial yang terlalu membuat bergidik.
Persaingan global, standar internasional, harapan untuk tak mengambil lokal—segala tetek-bengek duniawi. Yah, apa pun itu, aku tetap akan ambil lokal saja, dengusku tidak begitu mengacuhkan.
Seusai sesi dengan sang bos besar jurusan, bincang dan cakap melimpah-ruah. Nyaris semua anak mengerumun dan bertanya akan peluang kerja. Aku menoleh sesaat dan berbalik berbincang dengan beberapa teman yang tak menyatukan diri dalam kerumunan tersebut.
"Ton, udah kepikiran mau ngelamar ke mana?"
"Belum."
---
'Ton, ingat makan, ya. Ingat latihan 3D.'
Lensaku spontan berputar terhadap lika-liku alfabet yang menyeruak dari ponselku itu. Dari Pap. Kurasakan betapa selasar-selasar pemikir sangat ingin memainkan tuts-tuts yang ada untuk mengutarakan sebentuk alasan, namun akhirnya tidak dalam keputusan.
Aku rasa inilah kutukan besar memilih jurusan yang sering mereka katakan 'media komunikasi bergerak' ini. Stereotipnya tak akan jauh dari kemahiran memahat ataupun menghembuskan hidup pada atribut-atribut yang terkerangkeng dalam ranah yang tak hanya y dan x, namun juga z. Semester ini, berkat program khusus yang—anehnya—berhasil kuambil, dua mata kuliah yang menjelajah sampai ranah ketiga itu digantikan dengan mata kuliah teori.
"Sebenarnya gue jadi ragu dan agak nyesel lho ngambil program ini, Ton," ujar salah satu temanku suatu hari. Disendoknya lauk di hadapannya, lalu diam sesaat. "Banyak mata kuliah penting yang dihilangin, kata dosen."
"Yaa... Kalau gue nggak masalah, sih."
Lalu lanjut menikmati es teh poci yang sudah nyaris habis. Dalam hati, dua mata kuliah menyebalkan lenyap. Sekilas aku merasa telah mencurangi pemikiran akan pentingnya sebuah value alih-alih tipu daya huruf yang seakan-akan mematenkan volume otak dan kinerja tangan sesosok pembelajar. Semester lalu, nilaiku benar-benar anjlok di mata kuliah tiga dimensi. Dan bukannya aku trauma terhadap deretan alfabet kedua dan ketiga yang terbang bebas dalam girang, namun banyak waktu yang akan tersita pastinya bila dua mata kuliah itu tetap harus diambil. Aku menyayangkan waktu. Masih banyak value lain yang lebih ingin kukejar.
Kemudian seruput menyajikan udara lewat sedotan. Sial. Es teh poci semakin mahal saja.
---
Di sebuah subuh di pertengahan Oktober, aku merusakkan laptop-ku.
Otakku sekejap kebas di jam dua pagi. Aku sangat ingin menelepon Pap—aku selalu meneleponnya tiap kali aku melakukan sesuatu yang mungkin mengharuskanku mengeluarkan agak banyak uang—namun ia pasti masih mengulum dengkur sekarang. Rasa-rasanya aku ingin muntah. Tidak, aku tidak lagi mengutuk nasib sekarang. Bagaimanapun, bayangan terbakarnya selip-selip lembar pahit bernominal mendorongku untuk tak bisa tak menegukkan ludah.
Duh, mengapa uang tak bisa dihasilkan dari riuh yang menusuk kepala?
Pada akhirnya, sehari setelahnya, keajaiban memungkinkan laptop-ku benar dengan sendirinya. Seakan-akan segala ribut dalam rongga pemikir hanya untuk membuatku sadar akan seberapa besar gusar yang selama ini diam-diam bertengger di pelupuk napas; tentang lembar tukar, tentang hitungan hambar.
"Ingat. Kita ini nggak kaya. Jadi nggak bisa seenaknya."
Kata-kata kakakku kembali terpendar. Terhadap itu, aku benar-benar ingin menutup tirai; melukis hitam pada layar pandang agar bisa mengandai-andaikan bahwa apa yang baru saja terpikir tidaklah harus menjadi nyata—sekalipun ia sudah lama menjadi bagian dari kenyataan itu sendiri.
---
"Itu kira-kira berapa?"
Seorang teman di komunitas sosial kampus memandangku letih. Ia baru saja menanyakan harga pencetakan dekorasi panggung untuk acara seminar di mana ia menjadi salah satu koordinatornya. Siluet emas di sepanjang panggung setinggi manusia, rencananya.
"Hah? Itu seriusan mau nyetak semua? Jangaaan. Mahal. Pakai karton emas aja bikin sendiri," ujarku setelah mengkalkulasi harga cetak yang kemungkinan mencapai tujuh angka.
"Yaah... Nggak ngerti cara bikinnya. Emang seberapa, sih? Soal uang mah aku yang tanggung aja paling. Gampang, lah."
"Jangaaan. Minta temen-temen yang bisa dekor, aja, dong." Di sini aku meneguk ludah terhadap pernyataannya tadi. "Pasti ada yang bantu, kok."
Aku tidak habis pikir. Mataku mengerjap dalam sketsa yang tak terlihat. Sejujurnya, sedari dulu, aku memang selalu memiliki pola pikir yang berlawanan dengan temanku yang satu ini; dan kali ini, kami kembali berselisih pendapat, meski kebanyakan waktu aku tak begitu menyatakannya kecuali bila sudah menyangkut bidang di mana aku dan teman-teman satu divisi bertanggungjawab. Seminar ini tidak termasuk dalamnya, maka aku tak berkomentar banyak.
Dan kali ini, ia berbicara umpama langit menggerimiskan berlian ke atas atapnya secara berkala. Pada akhirnya, terhadap jalan pemikirannya, aku tetap tak paham; dan sepertinya, memang tidak akan pernah paham. Yang pasti, aku tak yakin aku akan sanggup hidup dengan pemikirian yang demikian.
---
Di pertengahan Oktober, aku disadarkan akan sebuah kemalasan yang telah lama bergumul dalam diri. Ada setumpuk pekerjaan yang belum selesai, namun, seperti apa yang kulakukan di penghujung September, aku masih sempat-sempatnya bersantai.
Bedanya, kali ini, ada sesuatu yang segera menggerogot diriku, mengatakan bahwa aku harus cepat-cepat memulai. Buat portfolio yang bagus, magang di tempat yang baik, lulus tepat waktu, lalu kerja di tempat yang baik dengan jadwal yang memungkinkanku untuk tetap bisa mengajar di rumah singgah dan yayasan.
Ya. Aku tak boleh kalah sekarang.
Pada akhirnya, ada value yang ingin kukejar, ada kebahagiaan yang ingin kuperjuangkan. Meski langit tak menggerimiskan berlian ke atap rumah, aku tetap harus berusaha.
Saatnya untuk melawan kemalasan.
Bedanya, kali ini, ada sesuatu yang segera menggerogot diriku, mengatakan bahwa aku harus cepat-cepat memulai. Buat portfolio yang bagus, magang di tempat yang baik, lulus tepat waktu, lalu kerja di tempat yang baik dengan jadwal yang memungkinkanku untuk tetap bisa mengajar di rumah singgah dan yayasan.
Ya. Aku tak boleh kalah sekarang.
Pada akhirnya, ada value yang ingin kukejar, ada kebahagiaan yang ingin kuperjuangkan. Meski langit tak menggerimiskan berlian ke atap rumah, aku tetap harus berusaha.
Saatnya untuk melawan kemalasan.
.
October 17, 2015. catatan sporadik ujung September hingga pertengahan Oktober. ya, saatnya untuk melawan kemalasan.