December 9, 2015

t a n y a .

 

.

i

mengapa harus baik hanya ketika dilihat (atau kasarnya, disidak)?

sebenarnya bukan konsep menjadi baik yang salah, namun fakta bahwa ketika ada penyidakan, segalanya menjadi sangat digembar-gemborkan. ketidakpedulian sehari-hari, lalu ketidakpercayaan dan obligat (yang mudah-mudahan saja tidak benar-benar obligat, karena sesungguhnya tidak ada value yang terluka apabila hal tersebut dilanggar) begitu pihak luar beraksi.

padahal, menjadi seperti biasa saja (seperti yang selama ini) sudah sangatlah baik. sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan di sini. namun masih saja senang sekali menghimbau manusia untuk menjadi apa pun selain diri sendiri. dan apabila tidak dituruti, mencurigai.

otak korporasi itu ternyata munafik.

.

ii

 mengapa apresiasi harus selalu berarti perayaan?

mungkin aku akan mengutip cerita yang kausampaikan sendiri, tentang seorang guru yang berjuang mengajar murid-muridnya namun perlahan-lahan murid-muridnya berhenti sampai tidak ada sama sekali. padahal, ia sudah menyiapkan bubur kacang hijau di setiap pertemuan, tetapi tetap saja anak-anak itu tidak bertahan.

katamu, menambahkan apa yang kuucapkan, itulah perbedaan dari pengajaran yang kita (kami, jika aku boleh sedikit jujur dan kasar) berikan. ada kedekatan antara pengajar dan anak-anak, hingga setidaknya masih ada yang terus ingin belajar di sini.

lalu kau memakan kata-katamu sendiri.

apakah kau akan marah dan dengki apabila aku tidak mau melahap bubur kacang hijau yang sudah kausiapkan setengah mati?

.

iii

aku ingat betul, kau pernah meminta publikasi yang lebih (yang menjadi alasan keduaku tidak ingin memilih divisi publikasi, di samping alasan pertama bahwa aku memang lebih ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak secara riil). dan aku paham betul, seperti yang kaukatakan, dengan publikasi, kita bisa mengajak lebih banyak orang untuk berbuat baik.

tetapi, bukankah di satu sisi, dalam kasusmu, itu menjadi alasan bagi dirimu sendiri untuk tidak secara langsung berbuat baik?

.

iv

mengapa berkoar dulu baru menindaklanjuti?

semua tahu akan acara-acara besarmu, semua tahu akan nama dan penghargaan. tetapi bagaimanapun kita bukan komunitas olimpiade. sebuta itukah dirimu untuk terus-menerus mengejar titel alih-alih mengurus organmu yang bobrok?

apa jadinya tempat ini tanpa aksi-aksi dan semangat kritis anak-anak yang justru, berbeda darimu, tidak dibayar?

aku tak tahu berapa ratus kilogram gula atau tong mentega lagi yang bermaksud kauawetkan. atau buku-buku yang lebih kaupilih menjadi serdadu penjaga gudang alih-alih petualang yang menggugah jemari-jemari pemimpi yang membalik halamannya. sekarang aku paham mengapa orang-orang seperti Robin Hood ada.

.

v

di poin ini, aku ingin berterima kasih karena kau masih cukup punya hati untuk tahu bahwa pengajaran demi nilai tidak akan pernah semaksimal pengajaran demi anak. aku cukup bahagia akan persetujuanmu untuk mengurangi 'eksploitasi' anak-anak di sini sebagai upaya pemenuhan nilai mata kuliah.

 aku hanya berharap kau masih akan cukup berhati untuk menerima kesepakatan masa depan untuk sepenuhnya meniadakan pekerja nilai dari tempat ini.

aku hanya berharap otakmu yang terlalu C tidak melupakan SR yang juga kaupanggul meski acap kali terhadapnya kau tak peduli.

.

vi

mengapa mengetahui komunitas sosial harus dikepalai orang yang lebih mementingkan citra dibanding perbuatan baik, rasanya sedih sekali?

.

vii

mengapa aku begitu subjektif?


December 9, 2015. meh.