September 29, 2017

12:14

Sudah genap satu setengah bulan aku dengan pandainya merawat kegagalan. Ia tumbuh subur di pekarangan belakang, memandikan ilalang dan gulma yang tak pernah berhenti merimbunkan diri mereka sendiri. Akar-akar mereka menancap tajam, melahap habis sisa-sisa beling dari cermin yang biasa kusapasekarang yang terlihat di sana hanyalah seonggok ketidaklayakan dan usaha sia-sia untuk percaya akan apa yang masih diam-diam kukejar.

Aku juga mulai bertanya-tanya bagaimana lelap tak lagi datang ketika ia adalah yang tak henti-hentinya kulawan dulu pada masa perkuliahan (yang sejujurnya kini menjadi agak kurindukan). Pukul tiga pagi aku akan tertidur untuk kembali terhuyung pada pukul yang tak pernah lebih kecil dari sepuluh. Dari situ, waktu lalu menjelma menjadi muntahan yang tak lagi penting hingga mampu teringat. Aku sempat berjanji untuk merampungkan sejumlah angan-angan (pun beberapa tulisan dan catatan perjalanan), namun rasanya roda itu kini berputar terlalu sendu; aus dan sama sekali lupa untuk melaju pada hari-hari tertentu.

Aku kecewa; dan baru detik ini aku benar-benar mengakuinya.

Dan sejumlah abjad-abjad lelah telah menjadi pengingat bahwa kekecewaan yang bergumul sekarang adalah serupa dengan kekecewaan pada masa kerja praktik dulu, bahkan jauh lagi sebelum itu.

Aku kira aku telah membuangnya jauh, namun nyatanya ia hanya terkubur. Sejumlah kesenangan dan perasaan ingin berjuang pada tahun terakhir perkuliahan telah membumbungkanku. Namun semua itu akhirnya perlu pudar dan dikesampingkan sejenak oleh tuntutan yang benarnya tak lepas dari standar-standar yang terlebih dahulu dibuat masyarakat. Aku menurut, sebab aku sendiri sudah lama paham; hanya baru kali ini betul-betul kehabisan alasan untuk menunda kenyataan.

Tetapi bukankah baik untuk akhirnya dapat (mencoba) menjadi manusia seperti pada umumnya, kau mungkin bilang. Namun tidakkah kau paham? Aku tak pernah pandai mengejar apa yang manusia umumnya punya, pun tak mahir melakukan apa yang manusia umumnya bisa. Lantas bagaimana aku harus bahagia?

Sebab tetap akan ada tagihan-tagihan yang perlu dibayar. Dan semakin aku mencoba memahami kewajiban yang tak kunjung dapat kukabulkan, semakin subur ilalang dan gulma menjadi-jadi di halaman belakang. Segalanya semakin mengingatkanku akan sejumlah kegagalan lain di masa lalu yang masih terpelihara hingga sekarang; pilihan-pilihan hati yang terasa benar namun nyatanya tak akan punya makna bila ditakarkan dengan uang, atau mungkin sekadar kemampuan dasar yang harus kaumiliki sebagai manusia pada umumnya.

Pikiranku mulai lelah dengan kepenuhannya sendiri. Ia lagi-lagi menolak untuk terlelap. Tak ada yang dapat dihasilkan dari bentrokan dan misil-misil imajiner, namun ia tak pernah mendengar; tak pernah belajar. Masih memikirkan lamaran-lamaran yang tak tergubris, juga tak bosan mempersalahkan nasib.

Mengapa kita perlu dilahirkan dengan kepala yang begitu berisik?

29 September 2016.