i
Ke manakah ku harus pergi?
Kembangkan layar tuju teluk abadi.
Kepakkan sayap raih hasrat surgawi.
Kerontang darat tempat kusandarkan kaki.
Di manakah ku berada?
Diam ditelan ombak sang raja.
Damai sesaat oleh puyuh diterpa
Dering semangat semut menggiring pusaka.
Siapakah aku, kawan?
Satu-satunya manusia yang kehilangan
senyum dari raut yang dengan
sayang harus terlepas dari genggaman?
.
ii
Pernah kudatangi negeri seberang
dan kutemui sekumpulan pasukan perang
permainkan kastil kecil yang
dimainkan sang lawan, pelan-pelan hilang.
Pernah kutuliskan sepucuk surat
dalam untaian tali yang ditutup karat
pada penjahit ternama setempat,
kirimkan pedang 'tuk sambarkan kilat.
Di atas junjungan atap balai
di mana rerumputan tampak tenang dan melambai,
kugoreskan tinta tanda maju melerai.
Namun, langkahku tak mantap, lemas terkulai.
.
iii
Biar saja.
Yang penting, bibit kastil itu tak musnah.
Diam saja
tanpa usikan para saudagar kaya.
.
iv
Siapakah aku, kawan?
Satu-satunya manusia yang kehilangan
seluruh prajurit yang dengan
sekuat tenaga buat kastil tetap bertahan?
.
.
old work. March 15, 2010. salah satu kenangan dari hari-hari sekolah menengah; ketika doodle huruf begitu populer walau terjebak eksklusivitas, juga ketika ia selalu mampir dari setiap koda kelas. ia yang terbangkit pada keluangan singkat yang mengundang malas.