banyak memori yang gagal tersemat bersama parasut sore cerah.
dan aku tak lagi ingat akan apa-apa.
sejujurnya, hari ini akan kukatakan:
aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang
apalagi untuk menjejaki seluruh kewajiban.
sudah empat hari aku tertidur terlalu lama, seakan bayang-bayang gelap begitu kuat menutup
kelopak; membuatnya membantah perintah otak untuk menggiatkan perkara.
juni,
banyak memori yang menyenangkan karena
itulah bagaimana aku banyak diajarkan; akan lensa yang harus dikenakan, akan rapuh yang
harus dilupakan. lalu aku dibuat teringat akan guru-guru luar biasa yang beberapa tak pernah
kukenali dari nama.
logisnya, aku banyak meniru boneka kayu yang dirajut Kakek Geppetto;
memanjangkan hidung demi diri sendiri, sampai rajut kurva itu muncul—di mana dari teropong personal, hanya jejak manis itu yang akhirnya terlihat.
tapi sejujurnya, hari ini akan kukatakan:
aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang
apalagi untuk mereka-reka ketidaknyataan
yang terlalu senang kupercayai sebagai nyata.
juni,
hujan ini membuatku sangat ketakutan; akan berbagai jadwal yang tak dapat diganti sesukanya.
aku bosan diminta belajar untuk bersabar. namun pada akhirnya aku tahu
kita semua tetap akan belajar menerima ketidaksempurnaan.
sudah empat hari dunia seakan berputar tanpa kusadari
dan aku belajar lagi menerima ketidaksempurnaan; akan alam, akan keindahan. apalagi akan kebodohan
diri sendiri
yang sengaja melalaikan rutinitas, seakan mengetes seberapa lama dunia akan bersabar.
sejujurnya, hari ini akan kukatakan:
aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang
aku sangat ingin menghabiskan waktu hanya menulisi hujan
karena aku akan menjadi sangat tidak waras tanpanya.
andaikan saja aku bisa menjadi hujan yang ditulis Sapardi. andai saja.
mungkin kau akan lebih menyenangiku, bukan, juni?
tapi sejujurnya, hari ini akan kukatakan:
aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang
untuk berpura-pura menjadi hujan yang diidam-idamkan.
.
June 12, 2015. di luar hujan, barusan. lalu aku tersadar, bahwa lagi-lagi aku membuang waktu luang. lalu aku tersadar, bahwa aku sudah tak punya banyak lagi waktu luang. sebuah tanya: kapan lagi aku bisa menulisi hujan?