—sejumput langit. atau bagaimanalah engkau menakar sang bunglon biru. kini mimikri menjadi kelabu. labuh-labuh kapal berganti semu. labuh-labuh diri mulai tak tentu.
mungkin kita sudah lama tak menyisakan detik untuk berbaring dan hanya membisu. dengan otak yang juga bisu. dengan telinga yang mengatup teduh. dengan mulut yang tak mengeringatkan keluh. capai yang bukan sekadar capai, namun mencapai.
dan di situ kita bertanya: sudahkah sepantasnya kita berhenti membenci diri kita sendiri atas anomali-anomali yang lapuk dan tidak pasti? atas segmentasi, atas standardisasi yang terlampau tinggi; yang, untungnya, untuk kali ini, masih bisa sama-sama kita perjuangkan dan oleh karenanya menjadi cukup dapat dinikmati.
pada akhirnya, sepertinya kita semua memang telah lama mengimpikan sejumput langit. namun kita lupa bahwa kita bukan burung atau satelit, atau pesawat yang di bawah payung malam berkelap-kelip. kita tidak bisa hidup bertetanggakan halimun yang tak henti-hentinya bernyanyi. kita tidak bisa hidup hanya menjilati hambar kapas-kapas putih.
a b c d e. sial, kita sudah terlalu sempurna mengeja rupanya, namun belum bisa benar-benar merangkai sebuah kata. terdidik dan berusaha mendidik, namun tak dapat mempertahankan hidup. sungguh ironi yang semakin lama semakin meluap meski samar. masih mencoba tegar padahal gusar.
tetapi, bukankah kita memang tak pernah dianjurkan membenci diri kita sendiri?
kita semua mengimpikan sejumput langit; dan secepat itu pula, kita semua melupakannya. mimpi kita rontok oleh dengus asap dan gesek roda, lalu kabur ke tepi bukit untuk menatap senja. kita semua lupa menjemputnya. ia terlalu asyik tidur di lapang lebar, tak berselimut namun beratapkan antariksa. dan terkadang kita berpikir, apakah ia masih mau bertengger pada diri kita yang kini sudah penuh oleh berbagai prasangka? atau, apakah telantar dapat menyusupkan dendam dalam hati kecilnya?
dan kita menjadi yakin bahwa kita memang sudah lama tak menyisakan detik untuk berbaring dan hanya membisu. kita sudah lalai dalam memelihara ia yang selama ini bisa hidup berkat lamun.
september hingga november adalah bulan mimpi; dan oleh karenanya, november berakhir dengan sedih sekali.
sebab kita tak lagi bisa mengukir nyenyak di bantal-bantal mimpi. kita tak lagi sanggup berpikir akan sejumput langit, akan malam yang berganti pagi. memang sial menjadi terlalu sempurna mengeja, namun belum bisa benar-benar merangkai sebuah kata. pelukan hangat dan omong-kosong akan bentang aksara.
bertahun-tahun kita dikejar masa dan olehnya kita dibuat menjadi semakin pelupa. bisakah alih-alih sejumput langit, terhadap cara mengeja saja kita lupa?
pada akhirnya, mungkin kita memang harus menyisakan detik untuk berbaring dan hanya membisu. capai yang bukan sekadar capai, namun mencapai.
.
December 6, 2015. photos taken on: November 2015.
