"Kak." Ia yang rambutnya paling ikal, Haris, berujar. "Kakak ke sini karena lagi pe-re (libur) atau disuruh, Kak?"
"Hah? Apa, Ris?"
"Kakak... ke sini lagi pe-re atau disuruh?" ulangnya. Masih pertanyaan polos yang diucapkan juga dengan wajah polos.
"Disuruh? Maksudnya disuruh?" Aku berpura-pura tak paham, maksud hati menyelidik persepsi sesosok anak terhadap kedalaman makna 'disuruh' yang selama ini memang menimbulkan polemik tersendiri dalam pikiranku. Respon negatif terlalu berlimpah bahkan dari orang tak dikenal yang hanya berpapasan di gang-gang kampus. Nilai menjadi ultimatum sebuah kebaikan.
"Itu... Disuruh ngajar-ngajar gitu, Kak."
"Oh." Aku menengok sesaat pada Salman yang masih menekuni soal-soal bangun ruang, pada Wahyu yang sedang mendengungkan lagu-lagu lewat senandung nyaris tak terdengar yang semakin lama semakin kuhafal, lalu kembali pada Haris yang menatapku lekat. "Lagi libur, kok, Ris. Makanya bisa ke sini."
Atas kejujuran tersebut, benakku langsung terusik oleh pemikiran seandainya Haris menanyakan itu bukan kepadaku atau teman-teman yang datang memang untuk sekadar 'bermain' dan menengok mereka. Fatamorgana untuk pertama kalinya menampakkan sesuatu lewat kontinuitas percakapan. Dan meski kecil, aku cukup lega karena kulihat di wajah Haris, ada senyum yang terlukis.
"Kakak libur berapa hari, Kak? Kemarin-kemarin nggak kuliah?"
"Kuliah, kok. Lagi ujian, sih. Tadi pagi baru aja kelar ujiannya. Jadi libur dulu sampai... yaa, empat hari, lah."
"Kakak bisa ujiannya, Kak?" tanyanya tiba-tiba.
"Yaaa... Begitu, deh. Haha."
"Berarti Kakak besok libur?" tanyanya lagi. "Besok bisa ke sini? Besok saya matematika lagi, nih, Kak. Besok ke sini, ya. Jangan bulan depan, Kak. Kelamaan."
"Emm... Kakak..." ujarku terbata. Ilusi-ilusi kewajiban yang belum terlaksana mengawang di udara. Bilik penglihat Haris mencermat raut wajahku yang tak absolut terhadap permintaannya. "Usahain, ya," ucap kami kemudian bersamaan. Ia menebak persis akan aksara yang berputar di pangkal otak.
Setelahnya, ada kerenggangan kalimat di sana. Aku berbalik pada Salman dan soal-soal yang masih digelutinya. Hingga beberapa lama, Haris kembali mengetuk indera pendengarku dengan nada bicaranya yang manis.
"Kakak... ujiannya semoga bagus, ya."
"Apa, Ris?" Aku tak sepenuhnya mencerna ucapan sang bulir mimpi. Terlalu cepat dan kecil dilontarkan. Haris pun mengulang.
"Kakak... Kakak semoga ujiannya bisa semua dapat bagus, ya."
Dan entah mengapa, aku tak bisa menahan kebahagiaan saat itu. Tawa yang tak signifikan, lalu mengetuk kakinya yang penuh oleh luka bekas jatuh.
"Iya. Makasih, kamu."
Dan esoknya, atas keajaiban perkataan seorang bocah, untuk kesekian kalinya di minggu yang sama, Tanah Pasir pun kembali menyambut sepasang sepatu hitam dan langkah-langkahnya yang syahdu.
.
November 25, 2015. lagi-lagi anak-anak aneh yang sangat mudah dicintai. :)