December 30, 2015

tujuh puluh tujuh.

.

"Lah, memang kemarin kalian dapat berapa?"

"Tu... tujuh puluh tujuh, Pak."

Sarah, kawanku, melanjutkan, "Kalau saya, tujuh puluh delapan..."

"Lah, itu masih bagus, kan?" Celetuk yang membungkam napas kami sesaat. "Buat apa perbaikan?"

.

Entah mengapa memori usil di semester satu itu menghampiriku hari ini. Tentang rentetan peristiwa yang cukup memberi banyak arti dalam kehidupan kuliah desain selama kurang lebih lima semester. Tentang sebuah angka yang memobilitaskan fraksi-fraksi revolusi tersebut.

Tentang tujuh puluh tujuh.

Aku mendapatkannya dalam penugasan individual nirmana mika yang tenggatnya berbarengan dengan tugas kelompok nirmana kubusdi mana aku ingat betul bahwa Sarah, aku, dan Angel telah menghuni kantin kampus sedari pukul delapan pagi hingga pukul tiga sore untuk menyelesaikan tugas kelompok itu; yang akhirnya tak selesai juga, hingga demi mengejarnya aku harus merelakan tak mengajar di komunitas sosial kampus hari itu.

Satu lagi yang harus kurelakan adalah karya mikaku yang baru tersentuh sekitar satu jam sebelum batas pengumpulan. Aku benarnya sudah menduga akan hasilnya yang kurang memuaskan, namun setidaknya tak begitu bersedih karena berhasil di penugasan satunya lagi. Sarah, aku, dan Angel menatap puas pada empat kubus kami yang berjejer dengan gores tubuh yang menyerupai sirkuit. Dosen-dosen mengintip karya kami dengan raut wajah puas. Kami merasa seperti pemenang hari itu.

Hal yang agak melegakan lainnya adalah ketika Pak Imam, dosen utama kami, mengumumkan akan kesempatan perbaikan bagi penugasan nirmana mika. Kali ini aku benar-benar mempersiapkannya. Hingga pada saat Sarah dan aku hendak mengajukan hasil perbaikan kami, kalimat-kalimat itulah yang menyentak.

.

"Lah, itu masih bagus, kan? Buat apa perbaikan?"

.

Lepas dari itu, Pak Imam banyak menambahkan mengenai bagaimana kami lebih baik mengejar di penugasan-penugasan berikutnya. Dan benarnya tanpa penjelasannya, dua baris aksara interogatif yang ia lontarkan sebelumnya sudah cukup menjadi cambuk penyadaran. Upaya perbaikan kami akhirnya menjadi nihil, namun hanya secara fisikal. Secara value dan bahkan pola pikir ke depan, kami mendapat banyak. Dan oleh karena itulah, pada wajah kami, berbanding terbalik dengan teman-teman kami lainnya yang juga mengerjakan perbaikan, senyumlah yang menjadi tautan.

Aku rasa kebanyakan dari kitatermasuk aku sendiripun sering jatuh pada kecenderungan seperti itu. Tidak. Aku tidak berbicara tentang upaya perbaikan yang justru baik (lewat perbaikan, kita mendapat pembelajaran yang lebih mendalam, bukan?), melainkan kecenderungan memandang nilai sebagai segalanya.

Mungkin apabila Pak Imam tak sempat menyentilku, aku akan tetap bersedih atas mata kuliah menggambaryang sampai saat ini, untungnya masih menjadi mata kuliah dengan paraf nominal terendah yang kudapat. Tetapi, pada akhirnya, aku tak menjadikan gugus-gugus yang lalu diintepretasikan sistem sebagai alfabet itu sebagai patokan.

Aku sangat suka film meski audio visual di semester empat, dari teropong akademisi, tidak begitu gemilang (sang dosen lebih suka hal-hal berbau sinetron dan wanita cantik, rupanya). Aku menyenangi tipografi meski tipografi di semester dua juga tak begitu baik (aku tak bisa meniru huruf, juga baru bisa mengoperasikan basis photoshop dan illustrator di akhir semester tiga). Lalu, screenplay, meski gagal mengantong A, tidak berarti aku tak dapat menulis; justru menjadi pengingat bahwa masih banyak ruang untuk belajar.

Dan aku bahkan tidak perlu banyak angkat bicara tentang mata kuliah desain komunikasi visual satudi mana sang dosen utama sangat amat tidak kompeten (bukan hanya sebagai pengajar desain, namun juga sebagai pengajar). Aku melihat beberapa kawanku menyerah begitu saja pada mata kuliah ini. Terhadapnya, aku cukup sedih. Nilai lima puluh pada salah satu tugas mandiri juga sempat membuatku patah, tetapi tidak boleh terpaku pada nilai, bukan?

Aku rasa tuntutan akademik telah sama-sama membuat kita lupa akan value, terkadang. Dan terutama saat masih menginjak semester-semester awal dulu, aku pun merasakan tekanan itu. Saat kau mendapat dosen dengan pemikiran yang tak terbuka, kau menjadi terjebak dalam pilihan menjadi idealis dengan nilai pas-pasan atau menjadi penurut demi nilai yang sekadar pemuas nafsu subjektivitas (terkadang menurut bisa membawamu pada pemikiran baru yang tak pernah kauketahui sebelumnya, namun dalam kasus ini tidak).

Selama ini, kabar baiknya, aku tak menyesal memilih untuk menjadi idealis, khususnya pada saat-saat di mana aku merasa tak ada hal baik yang bisa didapat dari berkompromi. Dan dari sana, terkadang, kita mendapat pembelajaran juga.

Sebab, sampai kapan pun, nilai hanya akan menjadi sebatas nilai. Yang tak terbatas adalah pembelajaran dan bagaimana pembelajaran itu mempengaruhi kita ke depannya. Seperti tujuh puluh tujuh yang tak elok namun dapat menjadi guru kehidupan.

.

December 30, 2015. dari percakapan Desember 2013. terima kasih, pak imam, atas tujuh puluh tujuh yang cukup menyadarkan.