Pada sela kelowongan yang cukup sedikit pada awal Januari kemarin, memutuskan untuk menonton ulang Gie (2005) yang merupakan karya dari studio produksi film impian. Ingat betul pertama kali menonton film ini pada masa sekolah menengah atas dalam mata pelajaran bahasa Indonesia—yang tidak selesai, sebab teman-teman sekelas memutuskan untuk, dengan begitu saja, bosan di pertengahan untai adegan. Dan memunculkannya lagi sebagai vakansi audio visual menjadi keputusan tepat tersendiri. Dengan liang pikir yang sedikit lebih luas dan ritme hidup yang sedikit lebih lama terdengarkan sekarang, ada tingkat pemahaman yang juga menjadi lebih. Idealisme yang membuncah-ruah mengetuk hatiku cukup dalam.
Hal yang cukup menggugah lainnya adalah bagaimana Gie mengingatkanku akan tokoh Kakek (ayah dari ayahku) yang hanya dapat kudengar dari cerita-cerita lama.
Selepas memutus ikatan fisik pada benang-benang kebarangkalian jauh sebelum diriku menggemakan hirup pertama, aku seperti ditakdirkan untuk sebatas menjejak misteri kecil yang masih cukup baik untuk meninggalkan petunjuk pada puing-puing kenangan—mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sendiri tak kupahami, namun perlu kujawab. Sekadar induksi akan inspeksi tak pasti. Sebuah upaya pencarian diri.
"Kakekmu," ucap bibi ayahku suatu waktu ketika kakakku menanyakan tentang figur terkutip, "senang sekali membolos dulu. Ia akan memilih pergi ke pasar untuk bekerja atau melukis di dermaga."
Dan oleh pernyataan itu, lembah imajilah yang langsung menghamparkan diri. Bertumbuh tanpa mahir dalam (namun kurang lebih cukup menyenangi) pekerjaan 'keras' membuatku menaruh kekaguman tersendiri pada orang-orang seperti Kakek. Aku pun seperti mengisi ribuan tanda tanya—yang tak dapat kuubah menjadi rambu alfabetik—dengan bahasa yang kubuat-buat sendiri.
Mengapa Kakek senang membolos? Apakah sistem pendidikan pada masanya (atau mungkin institusi di mana ia terperangkap) sebegitu bobroknya? Ataukah ia melihat sisi lain dari pembelajaran yang ditawarkan di pasar—kehidupan yang terjun langsung ke masyarakat dan akan selalu penuh oleh polemik dinamika?
Entah mengapa, hanya bayangan-bayangan idealis saja yang muncul. Sama sekali tak terbesit olehku bahwa Kakek membolos karena urgensi-urgensi yang tak ada dan basis-basis kemalasan saja.
Sebab keluarga besar ibuku (kakek satu lagi yang merupakan ayah dari ibuku atau salah satu pamanku, contoh dominannya) begitu bertolak belakang denganku dari instrumen maupun persepsi yang diciptakannya—terlalu bergelimang dan terlalu materialis, baik dari nama maupun harta. Tidak ada empati yang terasa tulus. Tidak ada kesederhanaan dalam hidup. Kebahagiaan begitu dikotak-kotakkan, juga regulasi-regulasi membosankan. Aku penasaran apa Kakek juga tak menyenangi pola pikir yang seperti itu. Aku seperti mencari akar yang mendefinisikan kilat-kilat yang menyambarku menjadi aku yang sekarang, membiarkan pion-pion ilusi menopangku agar gerus otak menjadi terlihat sedikit lebih waras.
Lalu aku teringat akan cerita lainnya: tentang Kakek yang bertengkar dengan seseorang oleh karena perkara kapal. Mengapa Kakek bertengkar? Apakah itu kapal yang ia sewa untuk mengajak orang berharga baginya (adik kesayangannya, atau mungkin seorang kakek atau nenek tua yang ia kenal di pasar) dalam sebuah ekspedisi singkat? Ataukah sebuah laju yang soliter tentang lamun dan gores tinta pada kanvas okuler? Apa yang sebenarnya Kakek ingin perjuangkan?
Rasanya aku semakin disulap oleh berbagai kemungkinan yang cukup heroik meski juga hiperbolik.
Apakah Kakek sangat pintar hingga menolak menjadi budak sistem? Apakah Kakek menyisihkan uang yang ia dapat dari bekerja di pasar untuk tetangganya atau orang yang memerlukan? Apakah Kakek senang melakukan petualangan kecil sendirian? Apakah Kakek mengimpikan tersesat di tengah alam dan kebebasan? Apakah Kakek menyenangi sastra? Apakah Kakek mengutuk ketidakadilan? Apakah Kakek mencatat pemberontakan-pemberontakan rahasianya? Apakah Kakek idealis? Apakah Kakek humanis?
Apakah ini—apakah itu?
Apakah Kakek benar adanya seperti yang kuimingkan?
.
.
.
Pada akhirnya, mungkin aku hanya mencoba melepaskan gembok demi gembok atas ketidakpastian yang tanpa sadar memunculkan sejumlah ekspektasi. Akan sosok enigma dan implisit sebuah alusi. Akan Kakek yang tak pernah kukenal dan tak pernah kujumpai.
Ya. Mungkin, sekali lagi, aku hanya mencoba mendefinisikan diri.
Dan kali ini, aku memutuskan bahwa hal tersebut dapat dimaklumi. Sebab layaknya (atau tidak selayaknya) seseorang, aku perlu meracau sesekali, juga termasuk di dalamnya mengarang tentang kepahlawanan yang mungkin saja bisa menjadi lebih dari sekadar karangan.
Sosok Kakek memang pernah benar ada; dan aku ingin mempercayainya sebagai sosok yang luar biasa.
.
February 20, 2016. tentang kakek yang kuharapkan adalah seorang idealis—atau setidaknya, kaya dalam segala kesederhanaannya.