Showing posts with label 2016. Show all posts
Showing posts with label 2016. Show all posts

October 23, 2017

perkara-perkara.

sebab kita tidak bisa terus-menerus memikirkan perkara-perkara yang kita sendiri tak pahami; seperti menangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

sebab kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
seperti mendengar desis cerutu yang disediakan persimpangan grogol—di mana lelap adalah teman yang kita tak pernah benar-benar peluk sebab kita tak pernah merasai tidur di jalan.
atau bisik-bisik pengap kopaja sepanjang slipi - rawa buaya;
atau cempaka timur dan segala persimpangannya yang bertengger di sebelah kemegahan.

aku pikir kita tidak bisa bahagia hanya berkawan dengan cita-cita yang muluk.
aku rasa kita perlu berhenti sejenak dan lebih memperhatikan deru napas kita.

atau mungkin juga tidak.

sebab hanya air mata yang pernah kudapati dari memikirkan udara-udara dingin yang menggerogot malam yang hendak berganti.
aku tak mengerti mengapa kita bisa bersedih atas tangis-tangis manusia yang ruas takdirnya tak pernah sepenuhnya berpapasan dengan kita sebelumnya.

seperti lintas lalu di sudut mata yang tengah menutup.
tawa menjadi kelegaan dan ringkas senja yang hidup,
sementara isak adalah apa yang bersemayam dalam debu; begitu mudahnya ia tertiup, mengaburkan kedip-kedip yang sebelumnya hanya paham akan riuh.

sebab sekali lagi, kita tidak tahu rasanya tidur tak berselimut;
lupa akan deru napas, hanya tahu akan cita-cita yang muluk.
kita lupa caranya tidur tanpa kepala yang mengawang pada gusar akan perkara-perkara yang orang-orang anggap tak perlu.

sejak kapan ‘tahu’ menjadi begitu kelu di persilangan kalbu?
aku kira ‘tahu’ ada untuk menyulut api pada gedung-gedung yang menutup-nutupinya dan sorot lampu bagi para pejalan kaki di pelosok.
apakah ‘tahu’ lantas menjadi abai seperti paling wajah dari lolongan maut yang kelaparan akan anak-anak yang lupa bersekolah?
apakah ‘tahu’ kini hanya sebatas lembar-lembar perpustakaan megah yang mengurung manusia dalam definisi ‘tahu’ yang selama ini ada?

sebab kita tidak lagi diajak memikirkan perkara-perkara seperti selimut dan pengap asap ibukota.

sebab ‘tahu’ yang kumiliki pada akhirnya hanya berakhir menjadi air mata.

tak ada paham baru yang singgah;
masih juga tangis di tengah peluh ibukota dan gersang ingatan akan rumah.

dan dari segala hal yang kita kira kita ketahui, mungkin sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa-apa.

.

Juni 2016.

January 23, 2017

tanah pasir dalam segala kesederhanaannya.

old photos. January 23, 2016. tentang satu tahun lalu yang begitu lekat dalam ingat. dan karenanya, jadi sedikit rindu, entah mengapa.

.
.
.
















.


dan kalian, adik-adik hebat, teruslah bersemangat! :))

.

January 9, 2017

salman, tempo hari (3).

.

"Kak Tony kuliah, Kak?"

"Iya, Man."

"Kalau kuliah itu di mana, Kak? Gedungnya namanya apa?"

"Kampus, Man."

"Di universitas, ya, Kak?"

"Iya, Man. Di kampus. Universitas."

"Oh..."

"Berarti di universitas... orang-orangnya kayak Kak Tony semua, dong?"

"Iya, Man. Banyak banget. Segede Kakak semua orang-orangnya."

 .

Mei 2016. dulu ada percakapan seperti ini. dulu sekali. dulu hingga mungkin sudah terlukis dengan reka di berbagai sudut yang telah luput dari ingatan. entah mengapa tiba-tiba aku ingat. entah mengapa.

December 26, 2016

untukmu, yang begitu asing.

.

Bisakah malam ini kita bertemu saja sebentaruntuk sekadar membicarakan jiwa-jiwa yang lapar, atau semacam tergusur bersama hembus angin yang kesepian? Aku tahu aku terlalu sering menyangkal, tetapi hari ini mudah-mudahan tidak.

Nyatanya aku telah gagal berbohong bahwa aku tak pernah perlu dituntun. Sebab aku pun masih bingung bagaimana aku mampu begitu setia memaksakan langkah-langkah yang lurus ketika seluruh kepalaku geming. Dunia seperti lintingan-lintingan abu yang masuk dalam cawan yang habis dalam kelap-kelip. Aku tak perlu alkohol atau petikan asapmu. Aku hanya perlu telinga yang tak akan pernah bosan mendengar syair-syair. Masih adakah kegilaan yang bertengger di rangkulan subuh dan gerak kota yang membenci sepi?

Bisakah kita bergurau saja sebentar? Aku ingin tahu apa arti subuh bagimu, juga alasan mengapa kita perlu tertidur untuk terbangun oleh riuh-ronta yang hambur. Kau bisa berdiri di ujung jembatan dan aku bisa memandang tubuhmu yang merentang dari kejauhan. Aku masih urung meloncat sebab manusia tidak dititipi sebentuk keajaiban bernamakan sayap. 

Dan aku akan ingat lagi bagaimana dunia cukup menjungkirkanku seperti sepeda yang jatuh dari titian benang yang begitu kasat mata. Aku bahkan tak bisa mengayuh sepeda di atas pejal jalanan. Kau akan tertawa atas kegagalan beruntun dan keraguanku untuk mencoba. Tetapi alih-alih, jika kau mau, aku bisa menggoes remah-remah huruf dari pekat udara. Mungkin kau pun bisa sabar-sabar mengayuh sementara aku mendorong dari belakang. Kau tahu itu akan lama dan melelahkan, namun itu semua tidak apa-apa.

Sebab kita tak akan pernah perlu paham akan waktu. Selepas letih, kau akan mengigau, sementara aku rebah menghitung pijar-pijar lampu yang semakin senjang. Purnama telah membentuk seonggok rasa yang janggal di pinggir rongga dadaku yang sesak. Aku ingin meneriakkan sajak-sajak yang kutulis untuk lenyap detik itu juga; atau barangkali menyesap ke alam bawah sadarmuya, mungkin itu akan membuatku sedikit senang.

Aku mulai sadar bahwa sejak dahulu aku telah terlelap dalam delusi-delusi yang entah apa. Aku butuh teman berbincang, tetapi mungkin juga tidak.

Begitu membosankan, begitu menyedihkan, mereka mungkin bilang. Tetapi aku telah terlanjur jatuh cinta pada ketidakbernamaan. Ingatan adalah alasan untuk terus berjalan ketika ia jugalah asal dari beban-beban yang sulit dilepaskan.

Sebab aku tak paham bagaimana aku bisa masih mengingat hujan deras dan bocah baik yang menumpangkan harap pada senandungnya di kopaja 88, atau bapak renta tuna netra yang bepergian sendirian hendak menuju halte Cawang, atau kuyup Tanah Pasir dan pria yang kesakitan setelah motornya menabrak bemo dengan naasyang, akan tawaran bopohan menuju apotek, hanya berujar, "Nggak apa-apa, masnya. Saya nggak ada duitnya. Duit tinggal segini buat makan istri saya." Dan sang juragan bemo yang serakah masih lebih mempermasalahkan ganti rugi dibanding sang pria yang hanya bisa terus memegangi lengannya sambil menahan sakit (sudahkah aku menceritakan padamu betapa muaknya aku pada dunia?). Manusia sebatas onggok napas dan perlintasan wajah yang tak sungguh-sungguh penting, tetapi mengapa aku masih mengingat?

Lalu bagaimana dengan mereka yang telah menjadi lebih dari sekadar nama?

Perlukah aku merangkul nostalgi pada lalu-lalang kota untuk berpura-pura lupa pada keinginan untuk menanyakan suatu kabar di ujung sana?

Apa harimu baik-baik saja? Apakah kau masih menyimpan mimpi-mimpi yang sempat menguar dalam cakap sederhana kita? Mengapa aku perlu tahu akan segala apa dan bagaimana? Ulah ingatankah?

Dan sekarang mungkin kau mengerti mengapa aku sesekali mengutuk ingatan.

Karena itu, bisakah malam ini kita yang begitu asing bertemu saja tanpa suatu alasan?

Sebab aku ingin tak lagi punya nama. Aku ingin mengajakmu mengigaukan semesta hingga fajar tiba; sisa-sisa percakapan yang akan selalu membekas tanpa kau pernah tahu siapa yang membisikkannya.

Dan untuk bola matamu, aku ingin menyisihkan percik-percik api dari abu kota yang selalu menolak memejam. Mungkin dari gedung-gedung yang satu per satu runtuh, akhirnya dapat kaupahami bahwa ingatanlah yang sesungguhnya telah menancapkan bayangan kita ketika kota ini sudah semakin temaram.

Mungkin malam ini kau bisa tertidur lelap dan terbangun dengan jawaban atas sejumput pertanyaan akan ingatan.

Dan setelah itu, mungkin kau bisa mengajariku agar aku akhirnya bisa paham.

.

December 24, 2016. catatan perjalanan - awal november hingga akhir desember 2016.

October 16, 2016

tentang bekerja ;


video: September 11, 2016. written on September 28, 2015. mempertanyakan kembali makna "bekerja".


September 27, 2016

malam.

malam begitu melankoli. aku khawatir kepalaku kini telah menjelma malam. ia begitu takut namun begitu haru pada binar lampu yang membentuk lintasan nostalgis di bawah. sejak kapan kita bisa merindu selain pada sajak?

September 16, 2016.

September 23, 2016

bio fantasy: a tribute to chairil anwar.

August 18, 2016. tentang penyempatan waktu untuk tenggelam dalam eksplorasi visual terhadap sajak-sajak pujangga kesayangan. dari galeri salihara, perjalanan kereta yang teduh, dan pasar minggu yang keruh dalam terik asing jalanan.

.


.
 
 "Ini rahasiaku kepadamu, aku ingin menjadi hologram seperti Chairil Anwar, yang selalu dibaca sebagai beberapa karakter yang berbeda." Melissa Sunjaya.

.

September 22, 2016

catatan-catatan rindu di perjalanan.

.

Adalah kesedihan bahwa kita masih belum juga dihinggapi keberuntungan untuk mampu merekayasa kenyataan sepandai kita mampu memproyeksikan ingatan. Sejujurnya aku sudah lama sekali khawatir bahwa aku tak kunjung menjadi rabun seiring usia. Sebab bagaimana mungkin kita tak juga lupa akan perasaan-perasaan yang tidak perlu? Tentang ribuan manusia yang kita kenali sebatas wajah, tentang sejumlah mereka yang berubah menjadi nama-nama dan kisah-kisah, juga tentang mimpi-mimpi yang membias dalam lensa kaca.

Aku pernah ingat, waktu itu kusaksikan betul mimpi-mimpi yang habis digerus waktu. Aku khawatir aku sudah lupa apa itu mimpi hingga titik di mana aku tak lagi sanggup mengajarkannya pada anak-anak tanpa membohongi diri sendiri; atau mungkin mimpi hanyalah sebatas apa yang kembali aku reka seusai meliput mimpi-mimpi dari raut bahagia mereka setelah menuntaskan kewajiban sekolah.

Dan aku kembali bertanya, sudah benarkah aku selama ini bersekolah? Sebab aku sedemikian rindu, ketika waktu sedemikian luang dan mimpi sedemikian ringan untuk tinggi-tinggi diterbangkan. Kawan-kawanku akan berhura-hura pada guru-guru yang membebaskan mereka atas segala laku dan aku akan jengah lalu kabur membaca Chairil di sela-sela rak perpustakaan yang semakin lusuh. Ada rantai-rantai di kepalaku dan ada tanya yang menggebu.

Mengapa Chairil begitu jalang? Begitu jalang namun begitu benar: kontradiksi yang selama ini tak pernah diajarkan oleh tembok-tembok kelas yang dingin. Sejak itu, aku mulai tidak mempercayai apa lagi yang selama ini kuketahui. Aku khawatir bahwa banyak yang lebih dapat kupelajari di luar apa yang tertera di papan tulis dan buku-buku yang belum juga disubsidi.

Aku khawatir bahwa dari kesedikittahuanku, kekhawatiran inilah yang paling benar. Aku khawatir keinginanku untuk melompat dari pagar sekolah akan memenangkan hatiku. Sebab darinya, aku akan belajar patah hati. Akan wajah-wajah dan nama-nama dan kisah-kisah dan mimpi-mimpi yang membias dalam lensa kaca.

Tetapi hidup seperti apa yang tidak akan mematahkan hati kita sama sekali?

Hidup masih saja penuh oleh loncatan-loncatan dan ambisi-ambisi tentang masa depan. Memang busuk betul bahwa tak banyak sekolah yang mengajarkan akannya dan lebih senang melumpuhkan daya imaji dengan kode-kode angka penentu kepintaran. Tetapi mungkin sekolah hanya mencoba mengajarkan kita akan kenyataan.

Dan sayangnya kenyataan tak mengajarkanku untuk menjadi lebih dari sebatas angka atau kesanggupan-kesanggupan; seberapa pun aku ingin menjadi lebih dari itu. Hingga kembali terbesit sebentuk pertanyaan: mengapa kita harus terus mengekor pada hal-hal yang terlampau tentu? Mengapa tak pernah dianjurkan untuk mendahului tebak-tebak yang sedemikian kaku?

Aku lelah pada konsepsi hidup yang begitu sia-sia: menjadi kaya lalu membeli citra lalu mati tanpa pernah meninggalkan pun memahami makna.

Tetapi makna itu sendiri apa?

Kini aku menjadi bertanya-tanya. Aku begitu ingin bisa terus mengingat akan apa pun selain rasa, seperti manusia-manusia lainnya. Tetapi, entah mengapa, hanya kilat-kilat tak rasional yang demikian lekat di kepala. Pernahkah kita belajar memilah-memilah apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan kita? Tetapi, benarkah hidup hanya sebatas perkara untung dan tidak untung saja? Tidak adakkah makna?

Dan lagi-lagi, apa itu makna?

Aku percaya rasa telah membuatku terlalu pandai dalam menangkap segalanya. Rasa membuatku tak kunjung rabun seiring usia.

.

Bisakah aku melupa saja akan rasa?

.

September 14, 2016. ditulis pertengahan agustus hingga pertengahan september pada hari-hari yang berlainan. tentang catatan-catatan yang dibuat ketika rindu mampir di tengah perjalanan.

September 20, 2016

k e l a s . s e m b i l a n ; (2016)


April 2016 to June 2016.
tentang temu yang berakhir (secara formal) tiga setengah bulan lalu. terima kasih banyak atas kebersamaannya selama dua hingga tiga tahun ini!


September 10, 2016

percakapan dalam kepala.

.

"Ton, kalau dipikir lagi, lo dari dulu anak baik-baik banget, ya. Pas sekolah juga gitu, kan, ya."

"...Mungkin."

"Nggak pernah gitu, bandel sekali, dua kali?"

"Waktu itu pernah bolos kelas, sih. Soalnya nggak ngapa-ngapain juga di kelas."

"Wiiih. Bolos! Cabut, gitu?"

"Iya. Ke perpustakaan. Baca-bacain sastra atau bantu-bantu dikit di sana."

"Hmm. Hidup membosankan amat, ya."

"Mungkin. Haha. Tapi gue bahagia, kok."

.

September 10, 2016. tentang dialog yang berputar-putar di ruang pikir. tidak penting, sungguh, tetapi setidaknya aku senang menuliskannya.

September 8, 2016

selamat pagi.

sebelum kata-kata gagal menemukanmu,
aku ingin terlebih dahulu menyapamu dengan sedikit kecupan manis dari ujung pena yang tak lagi kupakai untuk menulis.

sebab kudapati rautmu semakin lelah dan hatimu terkadang menipis.
entah mengapa kau tak pernah mendengar bisik kecilku untuk merelakan prinsip-prinsip dan gegar pikir yang kaujaga sejak pertama kali kau mengenal tangis.
sekarang aku jadi paham mengapa ayah dan ibumu memutuskan untuk menjagamu jauh-jauh dari dunia ketika kau masih kanak.
namun aku tetap tidak paham mengapa kau harus menjadi bengal dan berpikir bahwa dunia adalah tempat di mana kau layaknya berada.

kau yang pandai menghitung angka, namun tak serta-merta mengejarnya.
kau yang bahagia, seperti itu saja.

sebegitu menyenangkankah berteman dengan sengal napas dan kantung mata?

September 8, 2016.

August 28, 2016

show your creativity.



April 16, 2016. dari anak-anak hebat kelas sembilan (yang sekarang sudah menginjak kelas sepuluh) alumni bimbingan belajar teach for indonesia. sejumlah karya tentang cita-cita dan harapan untuk anak-anak Indonesia.
 

burn this city.

.

I guess we're going to be insane
cause this city just keeps talking all the same:
things we didn't give a damn.
can we really find a way out of these vain sceneries?
are you here with me tonight?

burn this city: into ashes, into - m e a n i n g s .

so are you going to be here tonight?

and if you ever feel alone
cause this city just keeps moving on its own.
and things that we never had the chance to say
become memories.
won't you come with me tonight?

burn this city: into ashes, into - m e a n i n g s .

so are you going to be here tonight?

and this city just keeps talking all the same.
things we didn't give a damn.
and this city just keeps talking all the same.

and if you ever feel alone
cause this city just keeps moving on its own.
and things that we never had the chance to say.

.

are you going to be here tonight?

.

August 8, 2016.

August 6, 2016

August 1, 2016

.

Belakangan aku menjadi percaya bahwa semesta menitipkan rindu pada kias-kias jendela dan jingga yang menggeliat pada riak cangkir dan bising kosakata. Ada ketidakgenapan di sana. Ada redup kisah akan sejumlah temu yang menutup dengan gantungnya.

Dan dari situ kita hanya berpegang pada aksara-aksara yang pernah disuarakan. Sebab betul bahwa mereka yang menghabiskan waktunya merenung pada setiap jeda stasiun adalah mereka yang lebih pandai melukis angan dan delusi-delusi perjumpaan ulang yang entah bisa dan entah kapan; belum lagi akan.

Tetapi aku lebih senang berpikir bahwa abstraksi adalah awal dari pesan yang dapat semesta dengar. Itu pun, apabila ia memutuskan untuk mendengarkannya.

Sebab begitulah semesta; begitu adil, begitu paham akan apa yang harus dihadapkannya pada kita. Semesta adalah bagian dari jejak langkah yang sedang memijak dan terdeflasiseluruh gelak implisit dan potongan gerimis pagi hari. Semesta melipat seluruh keinginan, sementara waktu hanyalah ketidakpastian yang letal. Aku seperti membuat keputusan-keputusan yang terus-menerus kulanggar. "Satu stasiun lagi, satu stasiun lagi"dan seterusnya sampai sekarang.

Semesta gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu. Semesta bosan berbicara denganku lewat pintu kereta yang membuka dan menutup.

.

"Sampai kapan kau masih berteguh mencarinya?"

Aku tidak menjawab.

"Lagipula, untuk apa? Bukankah kau sudah tenang sekarang setelah tahu ia ada di tempat yang baik? Dan juga... bagaimana kau tahu bila ia masih mau menemuimu?"

Aku masih tidak menjawab.

"Bukankah manusia bisa berlaku seperti itu? Tidak ingin ditemui karena alasan-alasan tertentu. Kau harusnya paling paham itu."

"...Aku tidak tahu," jawabku lemah.

"Lalu?"

Masih jawaban yang sama.

.

Peron berikut menyambut. Pintu yang membuka, lalu jejak-jejak kaki dan bayangan yang berlalu. Namun tak pernah jejak dan bayangan yang tengah hinggap dalam benak. Kepalaku begitu ingin meledak, sebab kehampirtiadaan rasio membuat hati menjadi pemegang kunci segala keputusan. Pintu menutup beberapa saat kemudian.

Dan aku masih berdiri di sanaberdiam pada gerbong yang sama; abai akan pesan-pesan yang menolak masuk ke telinga.

Aku tak mengerti mengapa aku tak pernah dapat menurut pada petunjuk-petunjuk semesta ketika yakinku begitu bertentangan dengannya. Aku tak percaya pada diriku yang masih saja mencipta khayalan-khayalan semu. Aku sangat tak percaya, namun aku masih saja menemaninya mengejar suatu temuyang entah bisa dan entah kapan; namun terus mengharap pada sebuah akan.

Dan sampai sekarang pun, semesta masih saja gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu.

.
.
.

August 1, 2016.

July 28, 2016

beberapa kejengahan.

sebenarnya sempat ingin menuliskan tentang ini sedari bulan-bulan kemarin. sebab aku sendiri pun sangat tidak bangga pada umpat-umpat yang sempat beberapa kali menguar pada beberapa kawan yang tentu tak terlepas dari umpat-umpat rahasia mereka tersendiri. menuliskannya hanya sebagai kontemplasi analitik untuk pengambilan-pengambilan keputusan ke depan. sekarang, setelah pemikiran telah menjadi reda akan kernyit-kernyit pada dahi, mungkin adalah waktu yang lebih tepat untuk merekonstruksi ulang beberapa tanya di mana kejengahan berbasis.

July 13, 2016

untuk diingat: (2)


January 10, 2016. kutipan dari sebuah puisi pada bulan yang senantiasa mendewasakan.

July 4, 2016

sebuah lamunan di penghujung juni.



.
 
tetapi, hidup tidak bisa sekadar berpuisi, bukan?

seperti pula kita yang mungkin terlalu berharap akan rentet alfabet yang bergema;
bahkan tatkala ia tak sempat terbaca.
bait remuknya habis terhempas di udara.

dan seperti itu pula kita masih mengecup kata-kata;
bahkan ketika mereka tak ubahnya dengan gerimis: mengalun sejenak, terdiam
lalu dan lupa.

mengapa kita masih juga belum bosan menuliskan aksara?

seakan ia adalah pijar yang tak akan hilang,
ketika kita bahkan tak tahu kesungguhannya.
seperti gerimis dan bait yang terhempaspijar saat kita menjadi satu-satunya orang yang tak terlelap.

dan kita masih juga belum bosan menuliskan aksara.

.

tetapi, hidup tidak bisa sekadar berpuisi, bukan?

.
.
.

July 4, 2016 /drawing/ - June 26, 2016 /poetry/.
semacam penyadaran akan betapa rapuhnya kata sesungguhnya; bahwa sebagaimanapun kita menuliskannya, ia tak akan benar-benar berarti apabila tak sempat terbaca. ...dan setelah semua itu, mengapa kita masih juga belum bosan menuliskan aksara?

June 30, 2016

mengakhiri juni dengan sekedip kontemplasi.

jika ada analogi yang bisa menggambarkan juni, maka ia adalah wahana yang selalu enggan kunaiki di taman bermain. awalnya ia begitu gusar dan sedih, lalu berubah bahagia dan berarti, hingga akhirnya kembali berujung pada sejumlah melankoli.

tetapi, di samping itu, banyak pertemuan-pertemuan kembali (aku percaya orang-orang senang menyebutnya sebagai 'reuni') yang membuatku mengingat betapa rindunya aku akan pola pikir dahulu. banyak sekali hal yang berganti; dan aku seperti dihadapkan pada berbagai kisah yang kulewatkan dari sosok-sosok yang tak lagi kutemui dalam rutinitas. juga bagaimana kita (aku) sebagai manusia bisa sedemikian dungu untuk lupa berpegang pada semacam entitas. khayal masih menjadi kawan yang sungguh sulit kuhembus pergi dari pinggir jendela.

juni menjadi bulan di mana aku banyak menulis, juga melirik pada tulisan-tulisan yang gagal rampung sehimpit masa kemarin. pada akhirnya, tulisan seperti penghibur yang menciptakan sejarah tersendiri. aku seperti menemui lagi bagian diri yang kini hanya separuh kukenali dari manifestasi tuts-tuts yang sempat terketik. aku menyayangkan bahwa tidak semua orang menulis, atau membagi tulisannya dalam jurnal-jurnal rahasia. tetapi aku rasa itu alasan mengapa kita selalu berupaya untuk menyulut api pada kewajiban; agar dapat sekadar bertemu dan bertukar cerita.

dan juni... menjadi bulan kesekian yang gagal membuatku paham bagaimana manusia bisa menjadi sedemikian teguh berpegang pada ingatan-ingatan.

pada akhirnya, mungkin kita hanya bisa memahami kerapuhan manusia; juga kehebatan-kehebatan yang justru muncul darinya.

June 30, 2016.