.
Bisakah malam ini kita bertemu saja sebentar—untuk sekadar membicarakan jiwa-jiwa yang lapar, atau semacam tergusur bersama hembus angin yang kesepian? Aku tahu aku terlalu sering menyangkal, tetapi hari ini mudah-mudahan tidak.
Nyatanya aku telah gagal berbohong bahwa aku tak pernah perlu dituntun. Sebab aku pun masih bingung bagaimana aku mampu begitu setia memaksakan langkah-langkah yang lurus ketika seluruh kepalaku geming. Dunia seperti lintingan-lintingan abu yang masuk dalam cawan yang habis dalam kelap-kelip. Aku tak perlu alkohol atau petikan asapmu. Aku hanya perlu telinga yang tak akan pernah bosan mendengar syair-syair. Masih adakah kegilaan yang bertengger di rangkulan subuh dan gerak kota yang membenci sepi?
Bisakah kita bergurau saja sebentar? Aku ingin tahu apa arti subuh bagimu, juga alasan mengapa kita perlu tertidur untuk terbangun oleh riuh-ronta yang hambur. Kau bisa berdiri di ujung jembatan dan aku bisa memandang tubuhmu yang merentang dari kejauhan. Aku masih urung meloncat sebab manusia tidak dititipi sebentuk keajaiban bernamakan sayap.
Dan aku akan ingat lagi bagaimana dunia cukup menjungkirkanku seperti sepeda yang jatuh dari titian benang yang begitu kasat mata. Aku bahkan tak bisa mengayuh sepeda di atas pejal jalanan. Kau akan tertawa atas kegagalan beruntun dan keraguanku untuk mencoba. Tetapi alih-alih, jika kau mau, aku bisa menggoes remah-remah huruf dari pekat udara. Mungkin kau pun bisa sabar-sabar mengayuh sementara aku mendorong dari belakang. Kau tahu itu akan lama dan melelahkan, namun itu semua tidak apa-apa.
Sebab kita tak akan pernah perlu paham akan waktu. Selepas letih, kau akan mengigau, sementara aku rebah menghitung pijar-pijar lampu yang semakin senjang. Purnama telah membentuk seonggok rasa yang janggal di pinggir rongga dadaku yang sesak. Aku ingin meneriakkan sajak-sajak yang kutulis untuk lenyap detik itu juga; atau barangkali menyesap ke alam bawah sadarmu—ya, mungkin itu akan membuatku sedikit senang.
Aku mulai sadar bahwa sejak dahulu aku telah terlelap dalam delusi-delusi yang entah apa. Aku butuh teman berbincang, tetapi mungkin juga tidak.
Begitu membosankan, begitu menyedihkan, mereka mungkin bilang. Tetapi aku telah terlanjur jatuh cinta pada ketidakbernamaan. Ingatan adalah alasan untuk terus berjalan ketika ia jugalah asal dari beban-beban yang sulit dilepaskan.
Sebab aku tak paham bagaimana aku bisa masih mengingat hujan deras dan bocah baik yang menumpangkan harap pada senandungnya di kopaja 88, atau bapak renta tuna netra yang bepergian sendirian hendak menuju halte Cawang, atau kuyup Tanah Pasir dan pria yang kesakitan setelah motornya menabrak bemo dengan naas—yang, akan tawaran bopohan menuju apotek, hanya berujar, "Nggak apa-apa, masnya. Saya nggak ada duitnya. Duit tinggal segini buat makan istri saya." Dan sang juragan bemo yang serakah masih lebih mempermasalahkan ganti rugi dibanding sang pria yang hanya bisa terus memegangi lengannya sambil menahan sakit (sudahkah aku menceritakan padamu betapa muaknya aku pada dunia?). Manusia sebatas onggok napas dan perlintasan wajah yang tak sungguh-sungguh penting, tetapi mengapa aku masih mengingat?
Lalu bagaimana dengan mereka yang telah menjadi lebih dari sekadar nama?
Perlukah aku merangkul nostalgi pada lalu-lalang kota untuk berpura-pura lupa pada keinginan untuk menanyakan suatu kabar di ujung sana?
Apa harimu baik-baik saja? Apakah kau masih menyimpan mimpi-mimpi yang sempat menguar dalam cakap sederhana kita? Mengapa aku perlu tahu akan segala apa dan bagaimana? Ulah ingatankah?
Dan sekarang mungkin kau mengerti mengapa aku sesekali mengutuk ingatan.
Karena itu, bisakah malam ini kita yang begitu asing bertemu saja tanpa suatu alasan?
Sebab aku ingin tak lagi punya nama. Aku ingin mengajakmu mengigaukan semesta hingga fajar tiba; sisa-sisa percakapan yang akan selalu membekas tanpa kau pernah tahu siapa yang membisikkannya.
Dan untuk bola matamu, aku ingin menyisihkan percik-percik api dari abu kota yang selalu menolak memejam. Mungkin dari gedung-gedung yang satu per satu runtuh, akhirnya dapat kaupahami bahwa ingatanlah yang sesungguhnya telah menancapkan bayangan kita ketika kota ini sudah semakin temaram.
Mungkin malam ini kau bisa tertidur lelap dan terbangun dengan jawaban atas sejumput pertanyaan akan ingatan.
Dan setelah itu, mungkin kau bisa mengajariku agar aku akhirnya bisa paham.
.
December 24, 2016. catatan perjalanan - awal november hingga akhir desember 2016.