.
satu.
cilincing membuatku sangat haus oleh rasa penasaran belakangan. aku sangat ingin mengunjunginya. melihat kampung nelayan, atau mencari-cari tentang (dan bila memungkinkan, sekali-dua kali) mengajar di rumah belajar di sana.
haris kemarin menanyakan di mana rumahku sebenarnya ('kalideres' begitu asing di telinganya); dan bertanya apakah rumahku lebih dekat ke rumahnya di cilincing dibanding ke rumah singgah. aku hanya tertawa kecil dan membenarkan pernyataannya yang lugu. kalideres - tanah pasir adalah satu setengah jam perjalanan. kalideres - cilincing mungkin bisa mencapai tiga setengah jam. tetapi aku tetap ingin mengunjunginya suatu saat. melihat kesungguhan dari air yang mengapungkan kapal dan (meski menyayat) bising truk-truk kontainer yang lebih riuh dari plumpang.
atau mungkin aku hanya ingin tahu di tempat seperti apa haris (dan banyak lagi lainnya) tinggal. aku ingin tahu tempat seperti apa yang membesarkan anak-anak hebat yang alur hidupnya dengan alur hidupku ditakdirkan untuk berpapasan, meski baru sesaat.
dua.
aku belum sempat berbincang lagi dengan kak ridwan. terakhir kami bertukar kabar singkat tentang kebakaran dao yang menghanguskan (lagi) rumah belajar yang ia dampingi. ia masih menanyakan kapan aku akan bermain ke dao. aku masih menanyakan kapan anak-anak akan mulai belajar agar kunjunganku ke sana bertepatan dengan momentum-momentum semacam itu.
aku tak bisa membayangkan menjadi kak ridwan saat ini. sebab setelah api, lalu penggusuran, lalu api lagi. aku takjub akan kegigihannya. aku ingin membantunya begitu keluangan sudah sedikit lebih kudapatkan.
dao kedengaran seperti tempat menakjubkan. aku ingin tahu bagaimana rasanya duduk memandangi rel yang tak akan pernah dilalui kereta. sebab kereta seperti penungguan. dan aku ingin sekali saja menikmati sebuah penungguan yang absurd dari jalur yang telah mati.
tiga.
lalu itu mengingatkanku. aku ingin naik kereta lagi. aku baru pernah sekali menaikinya. waktu itu kak dien dan michael yang menemaniku menunggui sang gerbong mimpi di peron palmerah untuk bertemu kak ridwan di pasar pagi. sayangnya aku belum punya alasan yang cukup untuk menaiki kereta lagi.
di kelas penulisan proposal kemarin, aku merajut salah satu ide tugas akhir (yang aku harap terpilih) tentang lokomotif. mungkin alam bawah sadarkulah yang menghasutku untuk merancang sesuatu yang berkaitan dengan kereta. entah mengapa di pandanganku, kereta terlihat begitu nostalgik. aku sedikit iri ketika haris berkata ia pernah menaiki kereta dari senen hingga yogyakarta.
sama sepertinya, aku juga ingin bepergian jauh dengan kereta, kemudian berbincang seru dengan kawan yang baru hari itu juga kukenal. atau setidaknya menginjakkan kaki di stasiun tanjung priok dan menaiki armada dari sana. aku ingin tahu seperti apa rasanya berkunjung ke stasiun yang (sejauh ini) baru tiga bulan bernapas setelah koma selama satu setengah dasawarsa. aku ingin tahu bagaimana kehidupan akan mengambil rupa ketika lelap sudah memeluknya terlalu lama.
empat.
juni nanti aku berharap dapat menyelesaikan setumpuk proyek-proyek pribadi. dua bulan telah kulalui, menyisakan dua bulan dengan keseharian bekerja praktik di sebuah studio grafis. dan yang tak dapat dipungkiri, adalah saat-saat di mana dinding-dinding dan titik-titik kursor menjadi begitu menjenuhkan.
kamis lalu, salah satu tembok di studio dihancurkan untuk menyatukan dua ruangan yang terpisah. entah mengapa aku begitu girang melihat bata-bata yang dulu saling menopang itu kini tergeletak lunglai di tanah. tidak, aku tidak anarkis, tetapi mungkin aku mengidamkan sebuah kebebasan yang lebih fisik. sebab atmosfer bukanlah sesuatu yang dapat direka. atau aku saja yang terlalu perasa.
lima.
lalu benar. aku masih mengharapkan pekerjaan yang selaras dengan kebebasan; yang memungkinkanku banyak berinteraksi dengan orang-orang (dalam artian bukan hanya dengan rekan-rekan, tetapi juga masyarakat pada umumnya). aku mungkin masih ingin menjadi pekerja sosial, meski kenaifan dan idealisme itu belajar kuredam perlahan.
tetapi bukan berarti aku meninggalkannya sepenuhnya. sebab cukup baik dicatatkan bahwa aku masih ingin dapat terus melowongkan waktu untuk melakukan hal-hal menyenangkan itu di sela-sela pekerjaanku (apa pun yang akan menjadi pekerjaan utamaku nanti). mencatat mimpi itu menyenangkan. juga melihat mimpi-mimpi yang beterbangan.
enam.
aku rasa aku paham sekarang mengapa kita perlu terus bermimpi; juga mengapa kita perlu bahagia ketika kita menjadi bagian dari perjalanan mimpi orang-orang yang ikut mengobarkan mimpi-mimpi kita.
tujuh.
aku tak sabar untuk tersesat lagi dalam perjalanan mimpi lainnya.
.
.
.
March 30, 2016.