March 17, 2016

mencuri waktu.

belakangan aku senang sekali mencuri waktu. untuk melamun, untuk mengetik apa-apa yang menjadi pengusir kejenuhan.

atau sebenarnya aku sekadar mengosongkan pikiran. kepalaku begitu bising seperti ngengat yang simpang-siur menjilati cahaya remang. di mana-mana aku selalu merenungkan hal-hal yang tidak pada tempatnya. di laju bus dan angkutan, di malam demi malam ketika kelopak kini lebih sering menolak untuk tetap terbuka, juga di sela-sela kesunyian dan rutinitas (cukup) interaktif kantor yang entah mengapa masih membuatku bertanya: apa benar ini yang ingin aku kerjakan?

dalam renungku, aku mengingat begitu banyak wajah, juga senyum yang tak lupa tertaut padanya.

aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa.

.

selama dua tahun mengamati beberapa orang yang kutemui di universitas, aku sering kali mempertanyakan bagaimana mereka memperlakukan waktu. tidak sempat ini, tidak sempat itu, tetapi masih sempat saja dengan ini-itu lainnya yang (menurutku) tidak begitu perlu. aku bingung dengan pola pikir mereka yang tak selaras dan kebiasaan mereka untuk mengangkat alis terhadap ketidakselarasan. aku khawatir aku sendiri telah mencuri terlalu banyak waktu lewat keluh-keluh pasif seperti itu sekarang.

pada akhirnya, sama seperti mereka, aku rasa aku juga tak dapat memperlakukan waktu dengan benar.

aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa. aku hanya ingin mengabaikan semua pekerjaan yang ada.

.

mengapa waktu berlalu begitu cepat?

rasanya baru kemarin aku dan kawanku berdansa seperti orang bodoh di podium sekolah menengah atas (yang lebih senang kami sebut dengan "penjara sosial"). dan bahkan sampai sekarang, orang-orang masih senang menempelkan label yang satu demi satu aku coba tanggalkan. namun mengapa kelihatannya justru tak waras bahwa terhadap perkara-perkara (yang bagiku) tak penting itu sama sekali tak kusediakan waktu?

rasanya aku butuh lagi mencuri waktu. aku perlu lebih banyak membaca, lebih banyak menulis, lebih banyak merekam, lebih banyak bermimpi, dan lebih banyak berkelana.

atau mungkin aku tidak memerlukan semua itu. sebab aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa.

.

belakangan aku senang sekali mencuri waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak seharusnya kupikirkan. aku pikir aku bisa hidup hanya dengan mengenal wajah dan senyum, tetapi perutku berteriak. juga benak menghimpun bakti-bakti yang tak mungkin bisa nuraniku tak upayakan.

aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa. aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa. aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa.

namun aku masih mengerjakan segala kewajiban hingga tuntas, meski dengan lamun-lamun yang menari di sela-sela jemari yang letih. dan aku menjadi bertanya: apakah apa yang kulamunkan adalah semacam deduksi dari keinginanku untuk menjadi?

yang pasti, aku takut sekali kalau-kalau seseorang akan datang berkata bahwa apa yang selama ini kulamunkan adalah sebuah kesia-siaan. aku tak ingin mempercayainya. aku masih senang bersandiwara. aku masih terus mengingat senyum dan wajah. aku tetap tidak tahu aku ingin menjadi apa.

.
.
.

bolehkah aku berpegang pada ketidaktahuan saja selamanya?

.

March 17, 2016.