June 30, 2016

mengakhiri juni dengan sekedip kontemplasi.

jika ada analogi yang bisa menggambarkan juni, maka ia adalah wahana yang selalu enggan kunaiki di taman bermain. awalnya ia begitu gusar dan sedih, lalu berubah bahagia dan berarti, hingga akhirnya kembali berujung pada sejumlah melankoli.

tetapi, di samping itu, banyak pertemuan-pertemuan kembali (aku percaya orang-orang senang menyebutnya sebagai 'reuni') yang membuatku mengingat betapa rindunya aku akan pola pikir dahulu. banyak sekali hal yang berganti; dan aku seperti dihadapkan pada berbagai kisah yang kulewatkan dari sosok-sosok yang tak lagi kutemui dalam rutinitas. juga bagaimana kita (aku) sebagai manusia bisa sedemikian dungu untuk lupa berpegang pada semacam entitas. khayal masih menjadi kawan yang sungguh sulit kuhembus pergi dari pinggir jendela.

juni menjadi bulan di mana aku banyak menulis, juga melirik pada tulisan-tulisan yang gagal rampung sehimpit masa kemarin. pada akhirnya, tulisan seperti penghibur yang menciptakan sejarah tersendiri. aku seperti menemui lagi bagian diri yang kini hanya separuh kukenali dari manifestasi tuts-tuts yang sempat terketik. aku menyayangkan bahwa tidak semua orang menulis, atau membagi tulisannya dalam jurnal-jurnal rahasia. tetapi aku rasa itu alasan mengapa kita selalu berupaya untuk menyulut api pada kewajiban; agar dapat sekadar bertemu dan bertukar cerita.

dan juni... menjadi bulan kesekian yang gagal membuatku paham bagaimana manusia bisa menjadi sedemikian teguh berpegang pada ingatan-ingatan.

pada akhirnya, mungkin kita hanya bisa memahami kerapuhan manusia; juga kehebatan-kehebatan yang justru muncul darinya.

June 30, 2016.