Dan dari situ kita hanya berpegang pada aksara-aksara yang pernah disuarakan. Sebab betul bahwa mereka yang menghabiskan waktunya merenung pada setiap jeda stasiun adalah mereka yang lebih pandai melukis angan dan delusi-delusi perjumpaan ulang yang entah bisa dan entah kapan; belum lagi akan.
Tetapi aku lebih senang berpikir bahwa abstraksi adalah awal dari pesan yang dapat semesta dengar. Itu pun, apabila ia memutuskan untuk mendengarkannya.
Sebab begitulah semesta; begitu adil, begitu paham akan apa yang harus dihadapkannya pada kita. Semesta adalah bagian dari jejak langkah yang sedang memijak dan terdeflasi—seluruh gelak implisit dan potongan gerimis pagi hari. Semesta melipat seluruh keinginan, sementara waktu hanyalah ketidakpastian yang letal. Aku seperti membuat keputusan-keputusan yang terus-menerus kulanggar. "Satu stasiun lagi, satu stasiun lagi"—dan seterusnya sampai sekarang.
Semesta gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu. Semesta bosan berbicara denganku lewat pintu kereta yang membuka dan menutup.
.
"Sampai kapan kau masih berteguh mencarinya?"
Aku tidak menjawab.
"Lagipula, untuk apa? Bukankah kau sudah tenang sekarang setelah tahu ia ada di tempat yang baik? Dan juga... bagaimana kau tahu bila ia masih mau menemuimu?"
Aku masih tidak menjawab.
"Bukankah manusia bisa berlaku seperti itu? Tidak ingin ditemui karena alasan-alasan tertentu. Kau harusnya paling paham itu."
"...Aku tidak tahu," jawabku lemah.
"Lalu?"
Masih jawaban yang sama.
.
Peron berikut menyambut. Pintu yang membuka, lalu jejak-jejak kaki dan bayangan yang berlalu. Namun tak pernah jejak dan bayangan yang tengah hinggap dalam benak. Kepalaku begitu ingin meledak, sebab kehampirtiadaan rasio membuat hati menjadi pemegang kunci segala keputusan. Pintu menutup beberapa saat kemudian.
Dan aku masih berdiri di sana—berdiam pada gerbong yang sama; abai akan pesan-pesan yang menolak masuk ke telinga.
Aku tak mengerti mengapa aku tak pernah dapat menurut pada petunjuk-petunjuk semesta ketika yakinku begitu bertentangan dengannya. Aku tak percaya pada diriku yang masih saja mencipta khayalan-khayalan semu. Aku sangat tak percaya, namun aku masih saja menemaninya mengejar suatu temu—yang entah bisa dan entah kapan; namun terus mengharap pada sebuah akan.
Dan sampai sekarang pun, semesta masih saja gagal memintaku berhenti menuntaskan rindu.
.
.
.
August 1, 2016.