July 22, 2014

lain kali.

Angin, aku tak menyangka
kau akan kembali lagi hari ini.
Umpama kekecilan hati yang menyeruput diri:

          sampan hanyut yang ceritanya kaubawa lari
                                       hanya
          untuk tidak utuh bumi ketahui;
                                                     yang
          dari usang dan remuk terambil,
          alun relung sang subuh memanggil
          hati yang tidak ada lagi
                               yang

tak mengerti mengapa dikatakan begitu
apabila kini dirinya berdenyut dalam kehancuran
                                atas
kalimat-kalimat yang mengawali namun masih tak sanggup melenyapkan.

          Tuang puisi yang makin buram akan biru;
          angin, masih pantaskah kausimpan dongeng kosong itu?
          Hei, maksudku, kau bahkan tidak tahu:
          untuk apa celah ini ada,

lembah pikir yang menganga
                   dan berkata
aku ingin termakan mimpi
                  sampai
garis pelarian tak tampak lagi,
                       sampai
ikatan akan apa yang tak pernah masuk dalam sang pembicara yang memang sudah kacau
                  sejak dulu


          mati.

          Angin, bolehkah kaukembalikan kisah yang sekarang kausimpan pada batin ini
lagi?
Dan mungkin, kini,

terima kasih.

          Aku mengerti.

          Figur yang tak tahu lagi ini
                          hanya berharap ia dapat sungguh-sungguh mengucapkannya

lain kali.

.

old work. November 7, 2012. ketika tahu mengungkapkan sebuah ketidakberadaan.