Angin, aku tak menyangka
kau akan kembali lagi hari ini.
Umpama kekecilan hati yang
menyeruput diri:
sampan hanyut yang ceritanya kaubawa lari
hanya
untuk tidak utuh bumi ketahui;
yang
dari usang dan remuk terambil,
alun relung sang subuh memanggil
hati yang tidak ada lagi—
yang
tak mengerti mengapa dikatakan
begitu
apabila kini dirinya berdenyut
dalam kehancuran
atas
kalimat-kalimat yang mengawali
namun masih tak sanggup melenyapkan.
Tuang puisi yang makin buram akan biru;
angin, masih pantaskah kausimpan dongeng kosong itu?
Hei, maksudku, kau bahkan tidak tahu:
untuk apa celah ini ada,
lembah pikir yang menganga
dan berkata
‘aku
ingin termakan mimpi
sampai
garis pelarian tak tampak lagi,
sampai
ikatan akan apa yang tak pernah
masuk dalam sang pembicara yang memang sudah kacau
sejak dulu
mati’.
Angin, bolehkah kaukembalikan kisah yang sekarang kausimpan
pada batin ini
lagi?
Dan
mungkin, kini,
terima kasih.
Aku mengerti.
Figur yang tak tahu lagi ini
hanya
berharap ia dapat sungguh-sungguh mengucapkannya
lain
kali.
.
old work. November 7, 2012. ketika tahu mengungkapkan sebuah ketidakberadaan.