Kasus kecil seperti biasa usai pembelajaran rutin yang masih belum terekapitulasi dengan sempurna, namun tak akan pernah mampu dikatakan berantakan sebab masih ada senyum dan masih ada peluh dari mereka yang cukup manis untuk menyisihkan waktunya.
Lalu sebuah telepon dari ponselku yang sudah ketinggalan zaman. 'Oh, tadi saya tungguin nggak ada,' ucap suara di ujung sana. Lalu pemberitahuan bahwa sang lawan bicara akan datang menjemput beberapa menit mendatang di pintu belakang. Lalu perjalanan singkat berdua. Lalu sebentuk duduk pada tepian dan sepasang ratap pada latar yang sama.
Lalu sebuah telepon dari ponselku yang sudah ketinggalan zaman. 'Oh, tadi saya tungguin nggak ada,' ucap suara di ujung sana. Lalu pemberitahuan bahwa sang lawan bicara akan datang menjemput beberapa menit mendatang di pintu belakang. Lalu perjalanan singkat berdua. Lalu sebentuk duduk pada tepian dan sepasang ratap pada latar yang sama.
.
"Ei, namanya siapa?"
"Angga."
"Kelas berapa?"
"Kelas dua."
"Oh, kelas dua. Angga tadi habis belajar apa aja?"
"Belajar matematika."
"Oh, matematikanya belajar apa aja? Tambah-tambahan? Eh, tadi yang ada kakak bukan sih kelasnya? Yang kita nyanyi bareng?"
"Iya."
.
Sebuah senyum, lalu beberapa pasang gigi mencuat melewati renda bibir atas. Lucu sekali melihatnya.
Sang pangeran kecil, Angga, lalu mengorek lumut yang menyembul dari celah-celah bebatuan. Teropong mengunci gerakan tangan tersebut, lalu usil mengikuti sesaat. Ada kegelian sendiri—bagai nostalgi akan sesuatu yang tak pernah dialami sebelumnya—begitu rumpun mungil itu menyentuh jari.
Entah atas alasan yang sama atau tidak, namun aku rasa aku cukup menikmati pengisian waktu kosong tersebut layaknya Angga.
Sang pangeran kecil, Angga, lalu mengorek lumut yang menyembul dari celah-celah bebatuan. Teropong mengunci gerakan tangan tersebut, lalu usil mengikuti sesaat. Ada kegelian sendiri—bagai nostalgi akan sesuatu yang tak pernah dialami sebelumnya—begitu rumpun mungil itu menyentuh jari.
Entah atas alasan yang sama atau tidak, namun aku rasa aku cukup menikmati pengisian waktu kosong tersebut layaknya Angga.
.
"Angga biasa dijemput sama siapa? Sama Papa, ya? Atau sama Kakak?"
"Bukan. Sama Mama."
"Ah, kalau di rumah berarti belajarnya sama siapa?"
"Gak ada. Gak ada yang ngajarin di rumah."
.
Tenggakan ludah. Sebuah jawaban yang sangat polos, memang. Dan apabila tidak terlalu canggung, mungkin aku sudah mengelus benang-benang berkilauan yang memayungi kubah imajinasinya.
.
"Angga... Angga senang belajar di sini?"
"Senang. Senang banget."
.
Dan satu jawaban itu meluluhkanku. Tatapanku semakin menghalus.
Angga masih bergulat dengan permainan buatannya sendiri. Aku melontarkan lagi sebuah pertanyaan singkat dan ia menjawab atas apa yang tak perlu banyak direka. Atas gumpalan wol yang melintas dalam tengadah yang mulai keruh akan spektrum jingga pun, sebentuk napas terhela.
Mungkin memang lebih nyaman seperti ini. Hidup tanpa titel-titel yang merantai obligasi dan ekspektasi pada gardu-gardu pelangkah.
Cukup sebentuk diri, duduk di sebelah sesosok Angga, mendalami percakapan di suatu senja.
Memang, jenuh dan kilas-kilas ketidakwarasan akan selalu tersemat di tempat ini. Namun, dari semua itu, mungkin sebuah frasa interogatif yang mirip sudah dapat diajukan. Dan meski alur kata akan berbeda apabila diucapkan dalam sisi skenario yang satunya (fokus utama otoritas dalam topeng organisasi 'sosial'), terhadap sisi skenario yang satu ini, cukup ada satu celetuk.
.
"Ya. Senang. Senang banget."
.
Dan di senja itu, semua begitu syahdu. Percakapan suatu senja berakhir manis seperti gula gerimis yang akan datang keesokan harinya. Percakapan antara aku dan Angga, serta aku dan aku.
Lain kali, ayo mengobrol lagi di bawah prisma jingga-biru!
.
March 24, 2015. impuls alfabet dalam rona awan yang berlomba-lomba meniduri ufuk barat. untuk Angga, atau siapa pun para penyebar serbuk-serbuk gula, mari mengobrol lagi suatu saat! :)