Showing posts with label sisa-sisa nostalgi. Show all posts
Showing posts with label sisa-sisa nostalgi. Show all posts

January 23, 2017

tanah pasir dalam segala kesederhanaannya.

old photos. January 23, 2016. tentang satu tahun lalu yang begitu lekat dalam ingat. dan karenanya, jadi sedikit rindu, entah mengapa.

.
.
.
















.


dan kalian, adik-adik hebat, teruslah bersemangat! :))

.

January 9, 2017

salman, tempo hari (3).

.

"Kak Tony kuliah, Kak?"

"Iya, Man."

"Kalau kuliah itu di mana, Kak? Gedungnya namanya apa?"

"Kampus, Man."

"Di universitas, ya, Kak?"

"Iya, Man. Di kampus. Universitas."

"Oh..."

"Berarti di universitas... orang-orangnya kayak Kak Tony semua, dong?"

"Iya, Man. Banyak banget. Segede Kakak semua orang-orangnya."

 .

Mei 2016. dulu ada percakapan seperti ini. dulu sekali. dulu hingga mungkin sudah terlukis dengan reka di berbagai sudut yang telah luput dari ingatan. entah mengapa tiba-tiba aku ingat. entah mengapa.

September 20, 2016

k e l a s . s e m b i l a n ; (2016)


April 2016 to June 2016.
tentang temu yang berakhir (secara formal) tiga setengah bulan lalu. terima kasih banyak atas kebersamaannya selama dua hingga tiga tahun ini!


August 28, 2016

show your creativity.



April 16, 2016. dari anak-anak hebat kelas sembilan (yang sekarang sudah menginjak kelas sepuluh) alumni bimbingan belajar teach for indonesia. sejumlah karya tentang cita-cita dan harapan untuk anak-anak Indonesia.
 

April 24, 2016

in my perfect future...


December 17, 2015. daftar impian. kelas terakhir di tahun 2015 lalu.

March 20, 2016

c a n d a ;

Percakapan singkat dengan Halima dan Wanda di pendalaman materi bimbel Teach for Indonesia. Aku dalam deret huruf tegak, Halima dalam deret huruf miring, dan Wanda dalam deret huruf miring tebal.

.

"Okee. Udah benar semua, deh."

"Horeee! Seratus! Latihan inggrisnya dapat seratus!"

"Iya. Seratus dengan berbagai perbaikan sebelumnya, kan. Haha."

"Kak, entar soalnya (soal uji coba try-out di bimbel) sama nggak sama latihan?"

"Ya nggak, laaah. Kalau sama, kamu gimana belajarnya? Emangnya UN juga bakal sama teks-teksnya sama latihan ini? Nggak, kan? Haha."

"Yaaah... Kak, samain aja. Samain, ya, Kak. Nanti... Nanti saya kasih bakso. Hahaha."

"Emang juragan bakso, tuh, si Wanda, Kak."

"Waaah. Boleh, tuh. Entar pas pertemuan terakhir, buat perpisahan, kita makan-makan bakso gratis, ya, dari si Wanda."

"Iya, Kak, iya!"

"Wah. Kalau itu... nggak bisa."

"Kenapa?"

"Baksonya... udah tutup."


.

Lalu semua tertawa. Aku sambil membayangkan usaha bakso yang setelah dua bulan harus rela menggulung tikar. Memang pintar sekali anak-anak ini (tidak terbatas Halima dan Wanda, tetapi semua anak-anak lainnya) mengada-ada. Rasa-rasanya kelas menjadi hidup karenanya. Rasa-rasanya... menyenangkan.

.

March 19, 2016.

February 28, 2016

kak dien.

.

"Halo, Tony. Tonton, kalau jadi manajer divisi pendidikan mau nggak?"

.
.
.

February 22, 2016

rindu.

.

"Kenapa, Ton? Santai aja di sini. Do what you want to do, be what you want to be."

Pak Tangkas

.

akhir tahun 2015. entah mengapa, beberapa hari belakangan, aku jadi rindu sekali.
.
.
.

February 21, 2016

sebuah surat manis dari desember yang nostalgik.

.


.

December 15, 2015. dari seorang anak hebat kelas empat yang tak kuketahui. bagaimanapun, terima kasih juga atas semangatnya, calon pemimpin masa depan! :)

January 29, 2016

/ter.ak.hir./



January 19, 2016. terima kasih, kawan-kawan hebat!

December 6, 2015

time sure flies fast.


October 29, 2015. one month left. more than happy acknowledging many things we've all done together so far. thank you for the wonderful time and year, guys. never expected 'participating' would be this fun. may life be kind enough to let us still meet once in a while. lots of love! :)

November 30, 2015

haris, tempo hari.

Rabu sore. Tanah Pasir dalam segala kesederhanaannya. Diintip oleh serdadu-serdadu jalanan yang mungkin saja cukup tak punya kerjaan saat melintas. Lamun euforia dan bising knalpot yang mencuri-lepas perhatian, juga tiga orang anak-anak luar biasa kelas enam.

"Kak." Ia yang rambutnya paling ikal, Haris, berujar. "Kakak ke sini karena lagi pe-re (libur) atau disuruh, Kak?"

"Hah? Apa, Ris?"

"Kakak... ke sini lagi pe-re atau disuruh?" ulangnya. Masih pertanyaan polos yang diucapkan juga dengan wajah polos.

"Disuruh? Maksudnya disuruh?" Aku berpura-pura tak paham, maksud hati menyelidik persepsi sesosok anak terhadap kedalaman makna 'disuruh' yang selama ini memang menimbulkan polemik tersendiri dalam pikiranku. Respon negatif terlalu berlimpah bahkan dari orang tak dikenal yang hanya berpapasan di gang-gang kampus. Nilai menjadi ultimatum sebuah kebaikan.

"Itu... Disuruh ngajar-ngajar gitu, Kak."

"Oh." Aku menengok sesaat pada Salman yang masih menekuni soal-soal bangun ruang, pada Wahyu yang sedang mendengungkan lagu-lagu lewat senandung nyaris tak terdengar yang semakin lama semakin kuhafal, lalu kembali pada Haris yang menatapku lekat. "Lagi libur, kok, Ris. Makanya bisa ke sini."

Atas kejujuran tersebut, benakku langsung terusik oleh pemikiran seandainya Haris menanyakan itu bukan kepadaku atau teman-teman yang datang memang untuk sekadar 'bermain' dan menengok mereka. Fatamorgana untuk pertama kalinya menampakkan sesuatu lewat kontinuitas percakapan. Dan meski kecil, aku cukup lega karena kulihat di wajah Haris, ada senyum yang terlukis.

"Kakak libur berapa hari, Kak? Kemarin-kemarin nggak kuliah?"

"Kuliah, kok. Lagi ujian, sih. Tadi pagi baru aja kelar ujiannya. Jadi libur dulu sampai... yaa, empat hari, lah."

"Kakak bisa ujiannya, Kak?" tanyanya tiba-tiba.

"Yaaa... Begitu, deh. Haha."

"Berarti Kakak besok libur?" tanyanya lagi. "Besok bisa ke sini? Besok saya matematika lagi, nih, Kak. Besok ke sini, ya. Jangan bulan depan, Kak. Kelamaan."

"Emm... Kakak..." ujarku terbata. Ilusi-ilusi kewajiban yang belum terlaksana mengawang di udara. Bilik penglihat Haris mencermat raut wajahku yang tak absolut terhadap permintaannya. "Usahain, ya," ucap kami kemudian bersamaan. Ia menebak persis akan aksara yang berputar di pangkal otak.

Setelahnya, ada kerenggangan kalimat di sana. Aku berbalik pada Salman dan soal-soal yang masih digelutinya. Hingga beberapa lama, Haris kembali mengetuk indera pendengarku dengan nada bicaranya yang manis.

"Kakak... ujiannya semoga bagus, ya."

"Apa, Ris?" Aku tak sepenuhnya mencerna ucapan sang bulir mimpi. Terlalu cepat dan kecil dilontarkan. Haris pun mengulang.

"Kakak... Kakak semoga ujiannya bisa semua dapat bagus, ya."

Dan entah mengapa, aku tak bisa menahan kebahagiaan saat itu. Tawa yang tak signifikan, lalu mengetuk kakinya yang penuh oleh luka bekas jatuh.

"Iya. Makasih, kamu."

Dan esoknya, atas keajaiban perkataan seorang bocah, untuk kesekian kalinya di minggu yang sama, Tanah Pasir pun kembali menyambut sepasang sepatu hitam dan langkah-langkahnya yang syahdu.

.

November 25, 2015. lagi-lagi anak-anak aneh yang sangat mudah dicintai. :)

November 17, 2015

sampai jumpa.

.

"Oke, deeh, Fa. Tetep semangat ya sekolahnya."

"Kalau suatu hari ada materi sekolah yang kurang ngerti, nggak usah sungkan nanya meski udah nggak les. Kalau kakak bisa bantu, kakak pasti bantu. Semangat terus, ya, calon animator masa depan! Haha."

"Iya, Kak. Makasih, Kak, dan maaf kalau selama ini saya ngerepotin, Kak."

"Aamiin, Kak. Sukses juga buat kuliah Kak Tony."

.

November 5, 2015. sebuah percakapan virtual dengan seorang murid di komunitas sosial kampus. masih bisa berbincang ataupun tidak ke depannya, setidaknya bisa dikatakan satu seperempat tahun ini adalah satu seperempat tahun yang sangat menyenangkan. sampai jumpa, calon animator masa depan! :)

November 9, 2015

dua puluh.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
atas senyum dan bulir hujan,
atas kontemplasi dan peristirahatan di tengah detak kronos yang tak pernah melaju pelan.

sudah tiga hari aku kembali membuang kewajiban,
lalu aku pikir itu baik-baik saja.
sebab aku sudah lupa caranya menjadi bertanggung jawab,
hanya ingat bagaimana rasanya bahagia.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
otakku rusak, napas dan peluk mendekap.
aku ingin cepat-cepat pulang, atau setidaknya pulang pada sebuah perjalanan.

aku ingin punya mimpi sebesar anak jalanan.
aku ingin punya waktu selowong anak-anak sekolahan.

enam hari yang lalu, dua puluh menghampiriku bersama atmosfer yang hangat dan sederhana.
aku pikir aku benci sekali menjadi lebih tua,
tapi aku tak pernah mempersalahkan november atasnya.
seperti november yang tak pernah mempersalahkanku atas segala kesalahan.
seperti november yang mengajarkanku akan kesabaran dan apiknya ketidaksempurnaan.

seperti november yang mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan
dan perayaan-perayaan untuk menjadi semakin dewasa.

aku ingin menjadi seperti november;
menjadi ia yang tak perlu punya mimpi besar ataupun waktu lowong,
namun bisa melowongkan waktu untuk membesarkan mimpi.

menjadi seperti november yang selalu kukagumi.

november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
dan aku ingin menjadi sepertinya.

.

November 9, 2015. atas dua puluh. atas proses untuk semakin menjadi seperti november.

October 21, 2015

salman, tempo hari (2).

  
 

.

"Kak, fotoin yang ini, Kak."

"Sama yang ini, Kak..."

"Yang ini juga, Kak. Yang mobil. Hehe."

"Coba lihat, Kak."

"Nih. Bagus, ya?"

"Hehe. Entar cetakin, Kak."

"Apa? Cetakin? Nih. Kamu bikin gambar yang gede dulu. Yang setembok. Atau... kalau nggak, umm... Ah, seini, deh. Sepapan putih ini. Kalau udah bikin yang segede itu, baru Kakak cetakin."

"Yaah... Susah, Kak."

"Ya, coba, dong. Kalau mau Kakak cetakin pokoknya bikin dulu yang segede itu."

.

October 10, 2015. lalu terdiam. lalu menahanku pulang. memang, anak-anak aneh yang mudah dicintai. :)

October 11, 2015

salman, tempo hari.

.

"Ya, udah, ya, Man. Kakak pulang dulu."

"Hati-hati, ya, Kak. Titip salam, ya. Dari Salman."

"Lah? Dari kamu, dong?"

"Iya."

"Mau titip salam buat siapa, Man?"

"Buat... buat ini, Kak. Buat... buat Kak Tony."

"Lah? Kak Tony itu Kakak. Buat Kakak, dong, berarti?"

"Eh, iya, salah. Titip salam buat itu, Kak... buat Kak... umm... Kak siapa, ya?"

"Ya, udah. Titip salam buat semuanya aja, ya."

"Iya, Kak."

.

October 10, 2015. jam satu siang kemarin. pada dasarnya, kebanyakan anak-anak memang aneh, tapi itulah mengapa mereka sangat mudah dicintai.