Showing posts with label anak-anak hebat. Show all posts
Showing posts with label anak-anak hebat. Show all posts

April 14, 2018

betapa lucunya.

semesta menjengukku lagi malam ini. ia bertanya tentang kabar dan aku kehabisan suara untuk menjawab. namun aku tahu aku sudah punya satu kesimpulan: segala yang berubah itu niscaya, namun kita boleh membiarkannya berlalu pelan-pelan.

segala mimpi yang pernah berkibar, segala semangat yang pernah didengungkan; semua bisa saja pudar. kita bisa berupaya, namun tak akan pernah bisa memaksa. segala yang berubah itu niscaya. dan kita hanya manusia.

namun, tidakkah lagi betul bahwa segala yang berubah itu niscaya?

suatu hari, mungkin segala yang pernah akan berdansa dalam ingatan. mungkin segala enggan akan terkikis; dan benar kaulangkahkan sepatumu yang sudah entah pada ungkap yang pernah tereja. aku lelah menerka. segala yang berubah itu niscaya. aku ingin percaya.

tidakkah kau rindu pada bau seragam?

14 April 2018.

January 23, 2017

tanah pasir dalam segala kesederhanaannya.

old photos. January 23, 2016. tentang satu tahun lalu yang begitu lekat dalam ingat. dan karenanya, jadi sedikit rindu, entah mengapa.

.
.
.
















.


dan kalian, adik-adik hebat, teruslah bersemangat! :))

.

January 9, 2017

salman, tempo hari (3).

.

"Kak Tony kuliah, Kak?"

"Iya, Man."

"Kalau kuliah itu di mana, Kak? Gedungnya namanya apa?"

"Kampus, Man."

"Di universitas, ya, Kak?"

"Iya, Man. Di kampus. Universitas."

"Oh..."

"Berarti di universitas... orang-orangnya kayak Kak Tony semua, dong?"

"Iya, Man. Banyak banget. Segede Kakak semua orang-orangnya."

 .

Mei 2016. dulu ada percakapan seperti ini. dulu sekali. dulu hingga mungkin sudah terlukis dengan reka di berbagai sudut yang telah luput dari ingatan. entah mengapa tiba-tiba aku ingat. entah mengapa.

September 20, 2016

k e l a s . s e m b i l a n ; (2016)


April 2016 to June 2016.
tentang temu yang berakhir (secara formal) tiga setengah bulan lalu. terima kasih banyak atas kebersamaannya selama dua hingga tiga tahun ini!


August 28, 2016

show your creativity.



April 16, 2016. dari anak-anak hebat kelas sembilan (yang sekarang sudah menginjak kelas sepuluh) alumni bimbingan belajar teach for indonesia. sejumlah karya tentang cita-cita dan harapan untuk anak-anak Indonesia.
 

June 29, 2016

semesta mengajarkan kita untuk tetap percaya.

aku percaya
bahwa semesta akan menjagamu
layaknya bising kopaja 88 dan tulisan 'hari ini akan jadi hari baikmu' yang sempat kutinggalkan,
juga debu-debu bintang dan wangi trotoar yang menyelimut tulang.

aku percaya
bahwa pelupuk matamu mungkin basah malam hari kemarin
sebab kauinginkan seperti lainnya sepasang sepatu;
untuk menuntunmu menyusuri apa yang mereka sebut sebagai 'masa depan',
entah kau percaya atau tidak

rasa-rasanya aku ingin meminjamkanmu sebentuk sapu tangan
yang sebenarnya tak pernah kumiliki juga.
tapi ketahuilah, bahwa aku mengagumi ketegaranmu,
sebab kau berbeda dan tak membagi cerita sedihmu dengan semua orang (kesenduan yang oleh karena umbarannya menjadi sangat palsu di pendengaran).
kau lebih dari sekadar itu, kawan.
dan aku ingin kau mempercayainya.

aku percaya
bahwa semesta punya caranya sendiri dalam menempatkan tiap-tiap dari kita
seperti bus yang berbeda armada, seperti gerbong-gerbong kereta.

ah, aku ingin sekali tahu apa yang berdansa di bola matamu ketika kau menyaksikan kereta.

aku percaya
bahwa ada alasan dari sebuah pertemuan; juga alasan mengapa kita bisa dan tidak pernah bisa bertemu.

namun, seandainya pun aku tak akan pernah mengenalmu,
aku ingin kau percaya
bahwa semesta akan menjagamu.

dan juga bahwa seandainya kita bertemu,
mungkin aku akan menyayangimu layaknya semesta.

3 November 2015.

June 21, 2016

t e n t a t i f ;

.

"...Ikutin kata hati kamu aja."

Sebuah senyuman.

"Heh... Iya, Kak."

.
.
.

Pada akhirnya, adalah pantas bahwa nelangsa memelukku begitu lekat atas tentatifnya secercah jawaban. Sebab hanya kebohongan-kebohongan saja yang selama ini mampu kulafalkan; dan detik tak mampu membuatku secuil pun pandai menyatakan kebohongan pada ia yang terpantul dalam jendela bahwa pagi akan segera datang untuk menyampaikan sebuah kabar gembira.

.

Mengapa kejujuran egois tidak dapat terlontar saja?

.

June 21, 2016.

May 1, 2016

masihkah kalian sekolah?

.

"Tumben kamu sendiri, Yu."

"Iya. Soalnya kan Diki sama Mekel lagi nggak ada."

"Ke mana emangnya mereka, Yu?"

"Kabur."

"Oh."

.


April 24, 2016

in my perfect future...


December 17, 2015. daftar impian. kelas terakhir di tahun 2015 lalu.

March 20, 2016

c a n d a ;

Percakapan singkat dengan Halima dan Wanda di pendalaman materi bimbel Teach for Indonesia. Aku dalam deret huruf tegak, Halima dalam deret huruf miring, dan Wanda dalam deret huruf miring tebal.

.

"Okee. Udah benar semua, deh."

"Horeee! Seratus! Latihan inggrisnya dapat seratus!"

"Iya. Seratus dengan berbagai perbaikan sebelumnya, kan. Haha."

"Kak, entar soalnya (soal uji coba try-out di bimbel) sama nggak sama latihan?"

"Ya nggak, laaah. Kalau sama, kamu gimana belajarnya? Emangnya UN juga bakal sama teks-teksnya sama latihan ini? Nggak, kan? Haha."

"Yaaah... Kak, samain aja. Samain, ya, Kak. Nanti... Nanti saya kasih bakso. Hahaha."

"Emang juragan bakso, tuh, si Wanda, Kak."

"Waaah. Boleh, tuh. Entar pas pertemuan terakhir, buat perpisahan, kita makan-makan bakso gratis, ya, dari si Wanda."

"Iya, Kak, iya!"

"Wah. Kalau itu... nggak bisa."

"Kenapa?"

"Baksonya... udah tutup."


.

Lalu semua tertawa. Aku sambil membayangkan usaha bakso yang setelah dua bulan harus rela menggulung tikar. Memang pintar sekali anak-anak ini (tidak terbatas Halima dan Wanda, tetapi semua anak-anak lainnya) mengada-ada. Rasa-rasanya kelas menjadi hidup karenanya. Rasa-rasanya... menyenangkan.

.

March 19, 2016.

November 30, 2015

haris, tempo hari.

Rabu sore. Tanah Pasir dalam segala kesederhanaannya. Diintip oleh serdadu-serdadu jalanan yang mungkin saja cukup tak punya kerjaan saat melintas. Lamun euforia dan bising knalpot yang mencuri-lepas perhatian, juga tiga orang anak-anak luar biasa kelas enam.

"Kak." Ia yang rambutnya paling ikal, Haris, berujar. "Kakak ke sini karena lagi pe-re (libur) atau disuruh, Kak?"

"Hah? Apa, Ris?"

"Kakak... ke sini lagi pe-re atau disuruh?" ulangnya. Masih pertanyaan polos yang diucapkan juga dengan wajah polos.

"Disuruh? Maksudnya disuruh?" Aku berpura-pura tak paham, maksud hati menyelidik persepsi sesosok anak terhadap kedalaman makna 'disuruh' yang selama ini memang menimbulkan polemik tersendiri dalam pikiranku. Respon negatif terlalu berlimpah bahkan dari orang tak dikenal yang hanya berpapasan di gang-gang kampus. Nilai menjadi ultimatum sebuah kebaikan.

"Itu... Disuruh ngajar-ngajar gitu, Kak."

"Oh." Aku menengok sesaat pada Salman yang masih menekuni soal-soal bangun ruang, pada Wahyu yang sedang mendengungkan lagu-lagu lewat senandung nyaris tak terdengar yang semakin lama semakin kuhafal, lalu kembali pada Haris yang menatapku lekat. "Lagi libur, kok, Ris. Makanya bisa ke sini."

Atas kejujuran tersebut, benakku langsung terusik oleh pemikiran seandainya Haris menanyakan itu bukan kepadaku atau teman-teman yang datang memang untuk sekadar 'bermain' dan menengok mereka. Fatamorgana untuk pertama kalinya menampakkan sesuatu lewat kontinuitas percakapan. Dan meski kecil, aku cukup lega karena kulihat di wajah Haris, ada senyum yang terlukis.

"Kakak libur berapa hari, Kak? Kemarin-kemarin nggak kuliah?"

"Kuliah, kok. Lagi ujian, sih. Tadi pagi baru aja kelar ujiannya. Jadi libur dulu sampai... yaa, empat hari, lah."

"Kakak bisa ujiannya, Kak?" tanyanya tiba-tiba.

"Yaaa... Begitu, deh. Haha."

"Berarti Kakak besok libur?" tanyanya lagi. "Besok bisa ke sini? Besok saya matematika lagi, nih, Kak. Besok ke sini, ya. Jangan bulan depan, Kak. Kelamaan."

"Emm... Kakak..." ujarku terbata. Ilusi-ilusi kewajiban yang belum terlaksana mengawang di udara. Bilik penglihat Haris mencermat raut wajahku yang tak absolut terhadap permintaannya. "Usahain, ya," ucap kami kemudian bersamaan. Ia menebak persis akan aksara yang berputar di pangkal otak.

Setelahnya, ada kerenggangan kalimat di sana. Aku berbalik pada Salman dan soal-soal yang masih digelutinya. Hingga beberapa lama, Haris kembali mengetuk indera pendengarku dengan nada bicaranya yang manis.

"Kakak... ujiannya semoga bagus, ya."

"Apa, Ris?" Aku tak sepenuhnya mencerna ucapan sang bulir mimpi. Terlalu cepat dan kecil dilontarkan. Haris pun mengulang.

"Kakak... Kakak semoga ujiannya bisa semua dapat bagus, ya."

Dan entah mengapa, aku tak bisa menahan kebahagiaan saat itu. Tawa yang tak signifikan, lalu mengetuk kakinya yang penuh oleh luka bekas jatuh.

"Iya. Makasih, kamu."

Dan esoknya, atas keajaiban perkataan seorang bocah, untuk kesekian kalinya di minggu yang sama, Tanah Pasir pun kembali menyambut sepasang sepatu hitam dan langkah-langkahnya yang syahdu.

.

November 25, 2015. lagi-lagi anak-anak aneh yang sangat mudah dicintai. :)

November 17, 2015

sampai jumpa.

.

"Oke, deeh, Fa. Tetep semangat ya sekolahnya."

"Kalau suatu hari ada materi sekolah yang kurang ngerti, nggak usah sungkan nanya meski udah nggak les. Kalau kakak bisa bantu, kakak pasti bantu. Semangat terus, ya, calon animator masa depan! Haha."

"Iya, Kak. Makasih, Kak, dan maaf kalau selama ini saya ngerepotin, Kak."

"Aamiin, Kak. Sukses juga buat kuliah Kak Tony."

.

November 5, 2015. sebuah percakapan virtual dengan seorang murid di komunitas sosial kampus. masih bisa berbincang ataupun tidak ke depannya, setidaknya bisa dikatakan satu seperempat tahun ini adalah satu seperempat tahun yang sangat menyenangkan. sampai jumpa, calon animator masa depan! :)

October 21, 2015

salman, tempo hari (2).

  
 

.

"Kak, fotoin yang ini, Kak."

"Sama yang ini, Kak..."

"Yang ini juga, Kak. Yang mobil. Hehe."

"Coba lihat, Kak."

"Nih. Bagus, ya?"

"Hehe. Entar cetakin, Kak."

"Apa? Cetakin? Nih. Kamu bikin gambar yang gede dulu. Yang setembok. Atau... kalau nggak, umm... Ah, seini, deh. Sepapan putih ini. Kalau udah bikin yang segede itu, baru Kakak cetakin."

"Yaah... Susah, Kak."

"Ya, coba, dong. Kalau mau Kakak cetakin pokoknya bikin dulu yang segede itu."

.

October 10, 2015. lalu terdiam. lalu menahanku pulang. memang, anak-anak aneh yang mudah dicintai. :)

October 11, 2015

salman, tempo hari.

.

"Ya, udah, ya, Man. Kakak pulang dulu."

"Hati-hati, ya, Kak. Titip salam, ya. Dari Salman."

"Lah? Dari kamu, dong?"

"Iya."

"Mau titip salam buat siapa, Man?"

"Buat... buat ini, Kak. Buat... buat Kak Tony."

"Lah? Kak Tony itu Kakak. Buat Kakak, dong, berarti?"

"Eh, iya, salah. Titip salam buat itu, Kak... buat Kak... umm... Kak siapa, ya?"

"Ya, udah. Titip salam buat semuanya aja, ya."

"Iya, Kak."

.

October 10, 2015. jam satu siang kemarin. pada dasarnya, kebanyakan anak-anak memang aneh, tapi itulah mengapa mereka sangat mudah dicintai.