atas senyum dan bulir hujan,
atas kontemplasi dan peristirahatan di tengah detak kronos yang tak pernah melaju pelan.
sudah tiga hari aku kembali membuang kewajiban,
lalu aku pikir itu baik-baik saja.
sebab aku sudah lupa caranya menjadi bertanggung jawab,
hanya ingat bagaimana rasanya bahagia.
november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
otakku rusak, napas dan peluk mendekap.
aku ingin cepat-cepat pulang, atau setidaknya pulang pada sebuah perjalanan.
aku ingin punya mimpi sebesar anak jalanan.
aku ingin punya waktu selowong anak-anak sekolahan.
enam hari yang lalu, dua puluh menghampiriku bersama atmosfer yang hangat dan sederhana.
aku pikir aku benci sekali menjadi lebih tua,
tapi aku tak pernah mempersalahkan november atasnya.
seperti november yang tak pernah mempersalahkanku atas segala kesalahan.
seperti november yang mengajarkanku akan kesabaran dan apiknya ketidaksempurnaan.
seperti november yang mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan
dan perayaan-perayaan untuk menjadi semakin dewasa.
aku ingin menjadi seperti november;
menjadi ia yang tak perlu punya mimpi besar ataupun waktu lowong,
namun bisa melowongkan waktu untuk membesarkan mimpi.
menjadi seperti november yang selalu kukagumi.
november mengingatkanku akan berkas-berkas kenangan.
dan aku ingin menjadi sepertinya.
.
November 9, 2015. atas dua puluh. atas proses untuk semakin menjadi seperti november.