...
bukankah lucu ketika dulu kita sering kali bertanya mengapa orang-orang senang sekali berdansa di tengah malam?
tetapi di lantai dingin itu kini kita berjibaku pada ketiadaan.
tidak ada riuh dan lentera artifisial; aku hanya melihat bayangan kita
perlahan dilahap debu bintang
dan napas kita menjadi angin yang tak berani menyerakkan puing-puing jalan.
aku rasa kita pun sudah lupa
bahwa kita tak pandai lagi menerka, pun berbicara
tentang parau-parau notasi yang hinggap pada lintas sanggurdi.
mengapa kita tak pernah membenci keheningan ketika semua orang berpesta di tengah denyut ritmis yang begitu nihil akan arti?
mengapa kita tak bisa menikmati kenihilan ketika sesungguhnya darinya kita tak jauh berselisih?
apa kau tidak bosan menari menuntun candumu yang bahkan tidak pernah kauketahui apa?
sebab di lantai itu aku lihat lagi bayangan kita yang masih tersisa.
seakan kita perlu berhenti dan kembali memeluki lagu-lagu sedih,
juga rapuh senja yang melumpuhkan kaki.
aku benci sekali melihat kita tenggelam dalam kisah-kisah yang menolak sepi,
meski pada akhirnya hirup yang kita hela hanya kembali menyusur tanpa mengenal henti.
sejak kapan kita berjalan sejauh ini?
...
May 11, 2016.