"Tumben kamu sendiri, Yu."
"Iya. Soalnya kan Diki sama Mekel lagi nggak ada."
"Ke mana emangnya mereka, Yu?"
"Kabur."
"Oh."
.
Entah mengapa hanya satu gerak mulut itu yang keluar dariku. Hari itu enam sampai tujuh bulan yang lalu, tepatnya November tanggal dua puluh tiga. Kali pertama aku berkunjung pada kelas sore di rumah singgah (biasanya aku mengunjungi kelas pagi), menepati permintaan terselubung Ayu untuk datang mengajar mereka yang belajar di jam sore saat kami bersua satu bulan sebelumnya. Sekaligus menengok Salman dan Haris, pikirku.
Dan terhadap pernyataan yang baru saja mengudara, aku sama sekali tidak membelalakkan mata. Tidak seperti ketika di akhir Agustus di tahun yang sama, Dani memberikan jawaban serupa ketika aku menanyakan mengenai Pasya yang sudah beberapa hari tidak menampakkan wajah.
Hingga akhirnya aku lebih memahami bahwa "kabur" berarti "pulang ke rumah"—yang tidak sepenuhnya melegakan juga, sebab kepulangan di sini adalah kepulangan pada kebobrokan finansial, keabsenan sekolah, dan lebih parahnya lagi (dan mudah-mudahan tidak terjadi) kembali bekerja.
.
.
.
Di akhir Januari, aku tidak melihat Ayu lagi di kelas sore. Begitu juga dengan Diki dan Mekel. Tidak ada tanda-tanda mereka memutuskan untuk kembali ke rumah singgah bahkan setelah dua bulan.
Aku masih ingat betul terakhir kali aku bergurau dengan Ayu adalah ketika Haris memotret kami di bulan Desember. Ayu sangat pengingat. Ia mengeja satu-satu nama kawan-kawanku yang terpampang di kain lebar berisikan cap tangan dari acara kunjungan yang kawan-kawanku adakan (yang sekarang harusnya masih terpampang di lantai dua rumah singgah) dan mengaitkannya dengan wajah-wajah yang muncul bergantian dalam batinnya.
Dua bulan sebelum itu, aku juga masih ingat bagaimana Diki dan Mekel menanggalkan satu per satu seragamnya selepas pengambilan rapor; yang juga merupakan kali terakhir aku bertemu mereka di sana. Entah mengapa sejak itu aku menjadi melankoli sendiri setiap kali angkutan B11 yang kutumpangi melintas di daerah Bambu Larangan. Melihat anak-anak yang berlarian dengan seragam hijau di hari Jumat entah mengapa mengingatkanku akan sosok-sosok anak yang kini tak lagi kujumpai di rumah singgah.
Masih sama pertanyaan dalam benak: masihkah kalian sekolah?
.
.
.
Di akhir Februari, aku bertemu Mekel. Tidak sengaja dan juga tidak direncanakan.
Mataku mengedip cepat terhadap refleksi figur yang masih separuh kupercayai keberadaannya, kemudian menularkan temponya pada langkah kakiku yang semakin mendekati sebuah jembatan yang menghubungkan antara jalan besar Yos Sudarso dengan Pasar Ular Plumpang.
Mekel, dengan baju kotak-kotaknya, sedang menatap ke arah sungai selagi bocah-bocah seumurannya bermain di atas tonggak besi yang orang dewasa kebanyakan akan berpikir dua kali sebelum bahkan sekadar menginjakkan kaki di atasnya.
Aku meneguk ludah, lalu mengguncangnya pelan.
"Mekel?"
Ia langsung berbalik, lalu tersenyum sambil menurunkan arah pandangnya ke sisi jalan. Sedikit terkekeh juga.
"Iya, Kak."
Di saat itu, entah mengapa aku merasa seakan otakku benar-benar berputar, bingung akan apa yang harus kukatakan. Sebab "Ke mana aja kamu? Ayo balik ke rumah singgah!" adalah lontaran yang (menurutku) egois. Jika ada satu hal yang kupelajari selama beberapa tahun ini, menomorsatukan diri sebagai pemegang kebenaran hingga memaksakan kebenaran itu pada orang lain (dan lebih lagi, tanpa mempedulikan dan memperhatikan pemikiran dan latar belakang ia yang berinteraksi dengan kita) adalah penyebab utama dari terbentuknya generasi-generasi yang tak bebas (dan tak sadar bahwa mereka bebas) berpikir.
Lagipula, aku tidak pernah tahu alasan anak-anak yang tak lagi kujumpai di rumah singgah memutuskan untuk meninggalkan rumah singgah itu sendiri. Demikian juga dengan alasan Mekel. Aku tak ingin membuat kecanggungan yang bukan-bukan. Karenanya percakapan sederhanalah yang terukir.
"Rumah kamu di sini?"
"Iya, Kak."
"Habis pulang sekolah?"
"Nggak."
Sudah kuduga.
Mekel memandang ke bawah lagi, namun senyumnya masih ada. Lalu aku menghela napas, menempatkan tangan di punggungnya dan menggoncang badannya pelan. Separuh diriku masih menahan-nahan diri untuk tak mengucapkan kalimat egois. Hanya hela napas yang begitu tipis.
"Jaga diri, ya," bisikku pelan.
Mekel terdiam dan kini memunggungiku. Tak lama, aku melangkah pergi, mengucapkan perpisahan. Lalu berbalik badan ketika sekumpulan abjad di lidah seperti memaksa untuk meloncat.
"Kapan-kapan main, dong!" ujarku sedikit lebih bersemangat.
"Iya, Kak," balasnya dengan lebih bersemangat juga. Kali ini disertai lambaian tangan. Wajahnya yang tersenyum seperti tertutup asap-asap ibukota, namun ia masih Mekel yang sebelumnya kutemui di rumah singgah.
.
.
.
Sepulang dari acara hari itu, pikiranku linglung. Aku mengintip lagi pada jembatan tempat aku bertemu Mekel beberapa jam sebelumnya dan mendapati anginlah yang kini menunggangi lengan kirinya. Pandanganku sayu. Aku takut kalau-kalau aku telah salah menahan diri barusan. Aku tak paham lagi akan benar dan salah.
Transjakarta lalu membawaku bersama kepiluan ganjil menghampiri Cempaka Mas. Apakah kata-kata "Kapan-kapan main, dong!" akan cukup? Apakah sekadar pertemuan dan sapa akan meruntutkan nostalgi ke dalam benak? Apakah akan menggumpalkan rindu yang mendorong langkah atau sekadar berhenti di sana?
Terhadap misil-misil yang merajam kepala, aku tak mampu bersuara.
Tak lama, aku sudah punya sejumlah skenario yang dengan cepat kubangun dalam otak. Semuanya bercerita akan sebuah akhir yang sama: bahwa suatu waktu, Mekel akan mampir dan berbicara pada kakak pendamping bahwa ia ingin kembali melanjutkan sekolah dan tinggal di rumah singgah, sambil membawa Diki dan Ayu bersamanya.
Tetapi, aku sendiri tahu betul bahwa skenario-skenario itu hanyalah kenaifan belaka.
.
.
.
Di tidur siangku barusan, aku bermimpi bertemu Diki. Senyumnya lebar sekali dan aku memeluknya erat—sangat erat, lalu berputar pelan. Dan ketika aku memandang lagi ke depan, di pelukanku sekarang ada tiga orang anak. Mekel dan Ayu ikut tersenyum bersama Diki. Hangat sekali. Dan sedetik berlalu, aku pun sadar semua itu hanyalah reka dari bingkai lelap dan ilusi.
Aku jadi ingat, pada pertemuan terakhirku dengan Ayu di Desember, aku sempat menunjukkan beberapa foto di kameraku; dan setiap foto yang memuat Diki dan Mekel akan selalu membesitkan kata yang sama dari mulutnya: "kangen".
Aku sendiri... mungkin merasakan hal yang sama sekarang. Mungkin juga tidak.
Sebab instrumen masa akan terus menari. Selama sebulan ke depan, aku masih akan sibuk dengan layar serta jentik-jentik jari, jenuh pada sakit punggung dan pembuatan karya yang belum begitu (dan mungkin tidak lagi ingin) kukuasai, juga tertawa atas jerih payah dan lelucon-lelucon kantor yang mencintai malam hari, sebelum akhirnya tersenyum sangat lepas di akhir pekan. Sabtu adalah sebuah kebahagiaan dan anak-anak yang penuh harapan.
Tetapi, ada kalanya di tengah perlintasan transjakarta jam sepuluh malam, hatiku kecut oleh pemikiran-pemikiran.
Masihkah kalian sekolah?
Sebab aku tak tahu apakah satu setengah tahun sekolah dasar akan cukup untuk bekal ke depan. Pendidikan memang bukan patokan, tetapi aku menaruh kepercayaan besar padanya.
Apakah kalian juga? Dan kalaupun kalian benar menghentikan perjalanan di dalamnya, apakah perhentian itu akan menjadi sebatas perhentian sementara saja?
.
.
.
Dan yang membuat batinku agak terisak adalah fakta bahwa perhentian-perhentian tidak hanya mematahkan layar tiga orang anak yang kupeluk dalam mimpi. Anak-anak lain yang pernah kukenal, anak-anak yang pernah kutemui namun hanya sempat bertukar wajah, dan anak-anak yang takdir hidupnya tak pernah bersilangan denganku sebelumnya—siapa sangka angin bisa menjadi sosok yang sedemikian kejamnya?
Namun aku rasa itulah mengapa kita tak akan pernah sanggup mengekalkan keinginan.
Dan oleh karenanya, kita belajar untuk terus membukukan kebahagiaan. Seperti halnya sebuah pertanyaan sederhana: "masihkah kalian sekolah?".
Apa pun jawabnya, aku harap kebahagiaan akan tetap hinggap dalam perhentian maupun pertidakhentian kalian.
Dan suatu hari, saat waktu telah bergulir panjang, adalah senyum lebar dan hati besar yang aku harap dapat tetap temukan dalam diri mereka (yang mungkin saja sudah tak dapat aku kenali dengan mudah).
Juga pada anak-anak yang masih kujumpai di rumah singgah, aku harap perhentian tidak akan cepat-cepat datang melahap. Lucu sekali bukan; bahwa setelah dua puluh tahun, ternyata aku masih belum cukup dewasa untuk berdamai seutuhnya dengan perpisahan.
Tetapi aku rasa tidak apa. Sebab darinya juga kita terus diingatkan untuk menghargai sebentuk pertemuan.
.
Semoga dilingkupi kebahagiaan selalu, anak-anak hebat!
.
May 1, 2016. sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin tidak sesederhana itu.