October 30, 2018

untuk apa lagi kita berlari?

aku ingin bepergian malam ini;

jupiter begitu kelabu, namun mungkin darinya pasifik bisa menjadi sebatas debu yang terlahap debu. mungkin begitu juga waktu; tapi kepalaku memaksaku berjalan tanpa teduh.

oktober terasa buruk tapi aku tak ingin banyak mengutuk. sisa-sisa demam dan rindu pada mimpi yang dipaksa redup bukanlah hal yang terlalu perlu; walau aku tak pandai berbohong dan masih tak ingin mendengarkan diriku yang berkata seperti itu—abai padanya yang terus mencoba membuatku tak menjadi aku; yang seakan tak waras untuk menjadi letih, yang bahkan tak pernah mengenali dirinya sendiri.

untuk apa lagi kita berlari?

sebab begitu saja, waktu pergi. dari segala bisu yang berbincang; dari segala bisik dan pejam. manusia semacam kebas yang berkejaran dengan jarum jam. aku punya banyak langkah pelan; aku masih memeluk halte dan hujan. lantas bagaimana mungkin aku tetap perlu lengang untuk sesekali tersengal?

kedip, lalu ingatan atas lelap berkepanjangan yang mengusik. akhir pekan adalah kesementaraan yang perlu kita rayakan sembunyi-sembunyi. kenakalan; betul bahwa kita begitu senang melalaikan kewajiban untuk sekadar menjadi rapuh. langkah-langkah sepatu. aku ingin bepergian sebab aku lebih senang kabur; batas sejenis lekas yang tak pernah ada, gesit dan ikatan dan segala yang tak pernah mampu dimengerti.

lucu sekali. kita tak kunjung berhenti.

.

30 Oktober 2018.