bahwa pada akhirnya kita hanyalah semacam alat tukar, dan bahwa menjadi manusia—dengan segala keapaadaannya—bukanlah hal yang wajar, semua menjadi sangat masuk akal.
aku tidak kunjung paham bagaimana kita masih dapat bahagia dengan kantung mata ketika sisa tabungan kita terlalu sedikit untuk membayar tagihan demi tagihan. aku tak pernah bisa benar-benar menyenangi uang; dan sekarang aku sendiri semakin mengerti mengapa.
tapi apa itu—suka dan tidak suka kita terhadap sesuatu—akan sungguh berarti?
kita hanya bongkah yang tak pernah mampu menjelma piranti. kita hanya bekas yang mencoba percaya bahwa ia dapat menjadi sesuatu, suatu hari. teriakmu? teriakkan lagi. dan terhadap segala yang sepertinya akan sia-sia, kita masih saja peduli.
tidak ada lagi air mata hari ini, tidak ada lagi air mata hari ini.
semua sudah berganti menjadi dengki. kata, manusia, dan segala seluk-beluk buruk rupa yang merumahkan diri di atas kepala.
kita yang dipaksa lupa siapa kita—sekadar untuk meledak dan digantikan oleh kita-kita yang lainnya.
.
19 Desember 2018.
