Showing posts with label 2018. Show all posts
Showing posts with label 2018. Show all posts

December 19, 2018

televisi bosan dengan berita kita yang tak kunjung membaik.

tidak ada lagi air mata hari ini. semua sudah berganti menjadi dengki.

bahwa pada akhirnya kita hanyalah semacam alat tukar, dan bahwa menjadi manusiadengan segala keapaadaannyabukanlah hal yang wajar, semua menjadi sangat masuk akal.

aku tidak kunjung paham bagaimana kita masih dapat bahagia dengan kantung mata ketika sisa tabungan kita terlalu sedikit untuk membayar tagihan demi tagihan. aku tak pernah bisa benar-benar menyenangi uang; dan sekarang aku sendiri semakin mengerti mengapa.

tapi apa itusuka dan tidak suka kita terhadap sesuatuakan sungguh berarti?

kita hanya bongkah yang tak pernah mampu menjelma piranti. kita hanya bekas yang mencoba percaya bahwa ia dapat menjadi sesuatu, suatu hari. teriakmu? teriakkan lagi. dan terhadap segala yang sepertinya akan sia-sia, kita masih saja peduli.

tidak ada lagi air mata hari ini, tidak ada lagi air mata hari ini.

semua sudah berganti menjadi dengki. kata, manusia, dan segala seluk-beluk buruk rupa yang merumahkan diri di atas kepala.

kita yang dipaksa lupa siapa kitasekadar untuk meledak dan digantikan oleh kita-kita yang lainnya.

.

19 Desember 2018.

November 8, 2018

november rasa petasan.

aku ingin meledak.

kegagalan demi kegagalan dan sajakku semakin tidak enak dibaca.

dua puluh tiga dan aku masih memiliki cara-cara untuk bahagia. namun kembang api begitu bising. pun manusia semakin menyergapku dengan tanya: benarkah kita memang terlampau senang memelihara apa yang sudah sedemikian rusak? ataukah kegagalan yang membuat kita tak yakin bahwa kita mampu mengenalmenjadisesuatu yang lebih baik?

oktober rasa petasan; dan november memutuskan untuk melanjutkan.

aku ingin meledak. sisa-sisa tenagaku habis dalam kesia-siaan. aku ingin berteriak. aku ingin berlari meski aku tak tahu apa yang kukejar. aku ingin bermimpi meski ragaku terlalu lemah. petasan membakar; aku menyaksikan seluruh gamit tanganku menghilang ditelan masa yang tak kunjung membiarkanku merdeka. kegagalan lagi; dan sajakku sudah jadi seonggok sampah dan corat-coret yang mengganggu pikiran.

duar. duar. duar. 

ledakan demi ledakan.

aku lupa apa yang ingin kutuliskan. namun november rasa petasan; dan kepalaku kini sudah berubah menjadinya.

.

8 November 2018.

October 30, 2018

untuk apa lagi kita berlari?

aku ingin bepergian malam ini;

jupiter begitu kelabu, namun mungkin darinya pasifik bisa menjadi sebatas debu yang terlahap debu. mungkin begitu juga waktu; tapi kepalaku memaksaku berjalan tanpa teduh.

oktober terasa buruk tapi aku tak ingin banyak mengutuk. sisa-sisa demam dan rindu pada mimpi yang dipaksa redup bukanlah hal yang terlalu perlu; walau aku tak pandai berbohong dan masih tak ingin mendengarkan diriku yang berkata seperti itu—abai padanya yang terus mencoba membuatku tak menjadi aku; yang seakan tak waras untuk menjadi letih, yang bahkan tak pernah mengenali dirinya sendiri.

untuk apa lagi kita berlari?

sebab begitu saja, waktu pergi. dari segala bisu yang berbincang; dari segala bisik dan pejam. manusia semacam kebas yang berkejaran dengan jarum jam. aku punya banyak langkah pelan; aku masih memeluk halte dan hujan. lantas bagaimana mungkin aku tetap perlu lengang untuk sesekali tersengal?

kedip, lalu ingatan atas lelap berkepanjangan yang mengusik. akhir pekan adalah kesementaraan yang perlu kita rayakan sembunyi-sembunyi. kenakalan; betul bahwa kita begitu senang melalaikan kewajiban untuk sekadar menjadi rapuh. langkah-langkah sepatu. aku ingin bepergian sebab aku lebih senang kabur; batas sejenis lekas yang tak pernah ada, gesit dan ikatan dan segala yang tak pernah mampu dimengerti.

lucu sekali. kita tak kunjung berhenti.

.

30 Oktober 2018.

June 30, 2018

aku sempat melihat sekilas bayangan juni.


lalu juni pamit; dan kita hanya sebatas debu yang tak ingat ia sapa ketika halunya meringkuk bersama letih sinar tepi jendela. juni seperti hamparan makna dan kita abjad-abjad yang terlewat.

aku masih bingung, bagaimana kita masih juga rikuh; bahwa kita pernah menjadi sesuatu: sendu, pun segala yang tak mampu kita banggakan.

malam ini, aku bertemu pantul; ia semacam gugup dan riuh gelagat yang tak perlu. sengaunya begitu gaduh dan bayangnya begitu buruk. ia dan juga rekam tentang ia yang ia bungkam di masa lalu.

mengapa kita bisa menjadi begitu dungu? mengapa kita masih tak ingin mabuk?

kupikir aku butuh tidur, namun semesta masih ingin bercakap-cakap denganku. aku dan ia dan kita dan ia yang ia bungkam di masa lalu.

ia dan setumpuk kegilaan dan kerentanan yang mulai tak mampu ia pahami; dan aku yang masih mencoba untuk tak membenci: tentang bagaimana ia pernah menjadi, pun kini.

"aku baik. bagaimana kabarmu?"

"tidak apa. semesta sedang lucu-lucunya. aku ingin belajar tertawa."

"berbaiklah pada ia."

"aku tahu. ia dulu pernah menjadi tawa yang tak tertawa; lama, lalu berubah aku: tidak. ia ingin belajar tertawa. aku ingin belajar tertawa. pada berbagai lain, sudah. pada kebodohan diri kita sendiri, sukar. ya... semesta memang sedang lucu-lucunya, bukan?"

"untunglah begitu banyak orang baik."

napas lega sesaat; senyum lepas.

"...ya."

lalu juni pamit.

30 Juni 2018.

June 6, 2018

tidak ada lagi sajak baik malam ini.

dua puluh dua; dan surat kabar yang tak pernah terbaca semacam penyadar bahwa kata-kata sudah berkali-kali gagal sebelumnya. remah-remah aksara dan udara yang lepas dari huruf. manusia sebatas lintas lalu yang tak perlu, namun terhadapnya kita masih juga acuh.

aku begitu ingin menulis sajak baik, namun "maaf, apa adik punya uang? saya ingin pulang. saya habis kabur. saya habis kecopetan." sewaktu-waktu kita berlutut di jalan, lalu "makasih, bang." senyum, namun apa lanjutnya?

"sudah tiga tahun nggak ada guru matematika SMA." "murid-murid kita, capek-capek kita sekolahin sampai kelas 4, kelas 5, eh... berhenti, nikah." "dulu saya putus gak tamat SMK. nyesel ke depannya susah banget cari kerja."

.
.
.

"bingung sama itu anak. waktu itu ketemu di jalan. disuruh pulang nggak mau. nggak tahu maunya apa."

.

manusia sebatas lintas lalu yang tak perlu.

bukankah begitu?

.
6 Juni 2018.

April 14, 2018

betapa lucunya.

semesta menjengukku lagi malam ini. ia bertanya tentang kabar dan aku kehabisan suara untuk menjawab. namun aku tahu aku sudah punya satu kesimpulan: segala yang berubah itu niscaya, namun kita boleh membiarkannya berlalu pelan-pelan.

segala mimpi yang pernah berkibar, segala semangat yang pernah didengungkan; semua bisa saja pudar. kita bisa berupaya, namun tak akan pernah bisa memaksa. segala yang berubah itu niscaya. dan kita hanya manusia.

namun, tidakkah lagi betul bahwa segala yang berubah itu niscaya?

suatu hari, mungkin segala yang pernah akan berdansa dalam ingatan. mungkin segala enggan akan terkikis; dan benar kaulangkahkan sepatumu yang sudah entah pada ungkap yang pernah tereja. aku lelah menerka. segala yang berubah itu niscaya. aku ingin percaya.

tidakkah kau rindu pada bau seragam?

14 April 2018.

February 15, 2018

akhir-akhir ini, hujan datang rajin sekali.

Hujan di akhir Januari bisa jadi semacam petuah yang datang sembunyi-sembunyi. Hela dan henti, lalu ketukan pada peron aspal dan helm pengemudi.

"Kapan terakhir kau menanyakan kabar dirimu sendiri?"

Matamu sembab oleh ilusi perjalanan, namun kauyakin betul itu yang ingin ia sampaikan; atau otakmu telah rindu betul hingga ia mencoba untuk merekayasa segala abjad yang gagal tertranslasi di udara. Sedikit demi sedikit, kau semakin paham bahwa ketidakpahaman yang semula kaukhawatirkan tidak akan menjadi apa-apa; tidak ada yang pernah paham sejak semula, tidak ada yang tahu akan apa dan mengapa. Semua hanya menerka.

Kira-kira kapan lagi turun hujan? Kira-kira kapan lagi ia reda? Sudah berapa lama kita berpisah dari hari-hari bebas? Seberapa bisa kita merindukannya ketika kita sempat memakinya? Semua hanya mengira. Semua hanya menerka.

Aksara untuk kesekian kalinya tak mampu menjelaskan apa-apa.

15 Februari 2018.