lalu juni pamit; dan kita hanya sebatas debu yang tak ingat ia sapa ketika halunya meringkuk bersama letih sinar tepi jendela. juni seperti hamparan makna dan kita abjad-abjad yang terlewat.
aku masih bingung, bagaimana kita masih juga rikuh; bahwa kita pernah menjadi sesuatu: sendu, pun segala yang tak mampu kita banggakan.
malam ini, aku bertemu pantul; ia semacam gugup dan riuh gelagat yang tak perlu. sengaunya begitu gaduh dan bayangnya begitu buruk. ia dan juga rekam tentang ia yang ia bungkam di masa lalu.
mengapa kita bisa menjadi begitu dungu? mengapa kita masih tak ingin mabuk?
kupikir aku butuh tidur, namun semesta masih ingin bercakap-cakap denganku. aku dan ia dan kita dan ia yang ia bungkam di masa lalu.
ia dan setumpuk kegilaan dan kerentanan yang mulai tak mampu ia pahami; dan aku yang masih mencoba untuk tak membenci: tentang bagaimana ia pernah menjadi, pun kini.
"aku baik. bagaimana kabarmu?"
"tidak apa. semesta sedang lucu-lucunya. aku ingin belajar tertawa."
"berbaiklah pada ia."
"aku tahu. ia dulu pernah menjadi tawa yang tak tertawa; lama, lalu berubah aku: tidak. ia ingin belajar tertawa. aku ingin belajar tertawa. pada berbagai lain, sudah. pada kebodohan diri kita sendiri, sukar. ya... semesta memang sedang lucu-lucunya, bukan?"
"untunglah begitu banyak orang baik."
napas lega sesaat; senyum lepas.
"...ya."
lalu juni pamit.
30 Juni 2018.
