.
.
"Kak, Kakak ke sini ada perlu ngapain? Mau ketemu sama kakak pendamping?"
"Nggak, sih."
"Terus ngapain, Kak?"
"Yaa... Datang aja. Mumpung lagi libur juga, kan."
"Oh, Kakak datang buat ini, ya, Kak... buat bagi-bagi ilmu ke anak-anak, ya?"
"Hah? Apaan?"
"Kakak datang buat bagi-bagi ilmu, ya?"
"Kamu ngomong apaan, sih? Kakak nggak ngerti. Bahasa kamu ketinggian."
"Direndahin, dong, Kak, kalau gitu. Hehe."
.
"Kamu... ini, nggak pernah nulis lagu sendiri emangnya?"
"Ada, Kak, lagu saya."
"Coba, dong. Mainin. Haha."
"Jadi... begini ceritanya, Kak. Jadi begini..."
"He-eh."
"Jadi... begini, Kak..."
"Apaan, sih? Ngomong aja. Haha."
"Jadi ini ceritanya curhat-curhat gitu, Kak. Jadi saya punya temen. Dia suka sama cewek. Saya suka juga sama cewek itu. Cuma bedanya, temen saya orang kaya, saya orang sederhana. Terus cewek ini milih temen saya yang orang kaya."
.
"Kamu di sekolah emang nggak ada OSIS begitu?"
"Ada. Cuma... saya nggak nyalon, Kak. Soalnya OSIS lebih kayak budak. Disuruh-suruh doang."
"Waaah. Iya, emangnya?"
"Iya, Kak. Terus kegiatannya juga doa melulu. Maksudnya, ya iya kan bagus doa. Cuma mending kegiatan yang ada manfaatnya, kayak galang dana. Doa memang bagus. Cuma kalau nggak ada perbuatan jadinya kan sama aja, ya, Kak."
.
"Kak, kalau SMK nanti lulusnya susah nggak, Kak?"
"Wah, Kakak juga nggak tahu, deh, kalau itu. Soalnya Kakak dulu nggak ngambil SMK."
"Terus Kakak dulu ngambilnya apa?"
"Ya... SMA. Haha."
"Kakak kenapa nggak ambil SMK, Kak?"
"Soalnya Kakak ya... belum tahu mau ngapain. Haha."
.
"Kak, jadi seniman enak kali, ya?"
"Haha. Iya. Kurang lebih kayaknya enak, sih. Cuma... zaman sekarang tuh... jadi seniman susah."
"Iya, ya. Susah dapat kerjaan, ya, Kak, kalau belum terkenal?"
.
"Dulu sih Kakak diajarin pianika pas SD. Kamu emang nggak ada kelas seni musik gitu? Nggak pernah diajarin main pianika?"
"Saya... berhenti di kelas lima SD, Kak. Saya langsung SMP."
"Nggak. Maksud Kakak sekarang, gitu."
"Oh. Nggak ada, Kak. Sekolah saya mah... abal-abal. Haha."
.
"Kak... kalau namanya musik itu... kalau bikin lagu... harus pakai hati, ya?"
"Hahaha. Ngomong apaan, sih, kamu."
.
"Kadang saya juga malas sama sekolah, Kak. Sekolah abal-abal. Guru-gurunya bukan ngajar malah ngerokok, nyantai. Kan mana boleh, ya, Kak, ngerokok di lingkungan sekolah. Nggak bener itu."
.
"Kak, ngecat yayasan, yuk."
"Ya, ayo aja, sih, kalau Kakak, mah."
"Iya, nih. Kemarin udah nanya Kak Charles. Katanya masih nunggu kepastian boleh apa nggak sama yang punya bangunannya."
"Iya, sih, kemarin Kakak juga sempat denger pas mau balik."
"Saya pengen bikin ini, Kak. Kota Jakarta, terus di tengah-tengahnya tulisan 'Sekar'. Kayak lukisan-lukisan di PAUD, ya, bagusnya kali, Kak. Yang ceria-ceria. Yang mencerminkan anak-anak Indonesia."
.
"Buku kayak begini bagus, ya, Kak. Ini pengetahuan tapi digambarin kayak komik."
.
"Kak, Kakak sekarang tiap hari ke sini jadinya?"
"Nggak..."
"Oh... Kirain saya."
.
"Kak, pinjem buku Kakak, ya. Saya... saya bikinin graffiti Kakak."
.
.
.
terima kasih, ded! semoga bisa menjadi musisi yang baik suatu hari! :))
